Menteri Singapura Vivian Balakrishnan Pakai AI NanoClaw

Dedi S. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 135 dibaca
Bisik.id
Menteri Singapura Vivian Balakrishnan Pakai AI NanoClaw

Gambar atau konten salah?

AI menjadi alat bantu bagi Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan. Ia tidak hanya memakai teknologi, tapi juga membuat kode sendiri untuk mempermudah tugas diplomasi.

Balakrishnan mengembangkan sebuah asisten pribadi berbasis AI dengan menyesuaikan NanoClaw—salah satu proyek open‑source—dan menghubungkannya ke Raspberry Pi 5. Ia menambahkan pola LLM Wiki yang dikembangkan oleh Andrej Karpathy.

"Saya telah bereksperimen dengan apa yang saya anggap sebagai 'otak kedua' untuk seorang diplomat, menggunakan dua blok bangunan open-source: NanoClaw oleh Gavriel Cohen (github.com/qwibitai/nanoclaw) yang berjalan secara lokal di Raspberry Pi 5 dan pola LLM Wiki dari Andrej Karpathy," kata Balakrishnan dalam postingan Facebook pada 26 April 2026.

Ia menghubungkan AI ini ke saluran perpesanan, mempelajari pidato dan artikel. Sistem dapat menjawab pertanyaan, meneliti topik, memberi update harian, merancang pidato, dan memadatkan informasi. “Ini menjadi sangat berharga, tidak berani saya matikan! Diplomat yang belajar untuk bekerja dengan AI akan memiliki keunggulan yang berarti. Saya pikir keunggulan itu ada sekarang," tambahnya.

Di forum GitHub, Balakrishnan menjelaskan arsitektur tiga lapis: lapis pertama berisi sumber mentah seperti artikel dan transkrip pidato; lapis kedua mengubahnya menjadi Knowledge Graph dengan node fakta terstruktur; lapis ketiga menghasilkan halaman Wiki yang dapat dibaca pengguna.

Ia menggabungkan sepuluh alat, mulai dari NanoClaw, Claude Agent SDK, Baileys untuk WhatsApp Web, hingga SQLite. Dari kombinasi tersebut muncul delapan kemampuan AI: mengatur pesan, menjadwalkan tugas, menyediakan antarmuka web, menyimpan memori, dan lainnya. Ia juga membagikan struktur kode secara terbuka.

Privasi dan keamanan tetap menjadi fokus utama. Balakrishnan menekankan perlindungan data pribadi dan integritas sistem, memastikan AI tidak mengakses informasi sensitif tanpa izin.

Reaksi positif datang dari para pengembang, pegiat AI, dan netizen. OfficeChai.com memuji bahwa Balakrishnan, yang sebelumnya adalah dokter spesialis mata, kini menjadi pionir AI di bidang diplomasi. “Dalam peran di mana pengetahuan institusional, konteks kebijakan, dan nuansa historis adalah segalanya, sistem memori yang kompleks bukanlah kemewahan. Justru itu intinya. Apakah pemerintah dan diplomat lain akan mengikuti jejak ini masih menjadi pertanyaan terbuka. Tetapi Menteri Luar Negeri Singapura telah menjawabnya sendiri," tulis OfficeChai.

Balakrishnan juga mengumumkan rencananya untuk mempresentasikan sistem ini kepada insinyur AI Singapura serta pendiri perusahaan AI seperti OpenAI, Cursor, dan Deepmind. “Bapak mestinya presentasi di depan insinyur AI Singapura bersama pendiri dan perusahaan AI seperti OpenAI, Cursor, Deepmind," kata Agrim Singh di akun Facebook Balakrishnan.

Inovasi ini menunjukkan bagaimana seorang diplomat dapat memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi kerja. Dengan memanfaatkan sumber daya terbuka dan kolaborasi komunitas, Balakrishnan membuka contoh bagi pejabat publik lain untuk mengintegrasikan AI dalam tugas resmi mereka.

AIMenteri Luar Negeri SingapuraNanoClawRaspberry Pi 5Knowledge GraphOpenAIDeepMind

Komentar

Memuat komentar...