Menulis Tegak Bersambung: Kunci Motorik Halus dan Bacaan Anak

Vera T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 161 dibaca
Bisik.id
Menulis Tegak Bersambung: Kunci Motorik Halus dan Bacaan Anak

Gambar atau konten salah?

Medan – Di bangku sekolah dasar, menulis huruf tegak bersambung biasanya diajarkan sejak dini sebagai bagian dari pembelajaran literasi. Metode ini mengajak anak menghubungkan satu huruf ke huruf berikutnya secara rapi, sekaligus menumbuhkan dasar keterampilan menulis dan membaca.

Menurut Dosen Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) dan Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli, menulis tegak bersambung sangat terkait dengan perkembangan motorik halus. “Menulis tegak bersambung sangat berpengaruh terhadap perkembangan motorik halus anak. Hal ini disebabkan karena pada saat seseorang menulis, akan melibatkan aktivitas visual motorik sehingga semakin banyak area otak yang dirangsang,” ujarnya, Jumat, 10 April 2026.

Irna menambahkan, kebiasaan menulis juga membantu anak dalam proses membaca. Anak yang terbiasa menulis huruf bersambung akan lebih mudah mengenali bentuk huruf saat membaca. “Dengan menulis halus anak akan lebih terlatih untuk membaca huruf bersambung sehingga lebih memudahkan pada saat belajar membaca,” katanya.

Selain itu, latihan menulis tegak bersambung berdampak pada kemampuan kognitif. Aktivitas menulis mampu meningkatkan konsentrasi dan daya ingat karena otak bekerja menahan dan memproses informasi. “Pada saat menulis otak akan melakukan retention, menahan informasi yang masuk ke dalam otak untuk diproses terlebih dahulu. Itu sebabnya belajar dengan menuliskan apa yang dipelajari akan lebih melekat dalam ingatan jangka panjang seseorang,” jelasnya.

Praktik mengajarkan menulis tidak bisa dilakukan secara instan. Irna menekankan pentingnya tahapan yang sesuai dengan perkembangan anak. Latihan dapat dimulai dengan hal sederhana seperti menggenggam pensil, meronce, hingga permainan yang melatih koordinasi tangan. Kegiatan memasukkan benda ke dalam wadah, dari ukuran besar hingga kecil, juga dapat membantu melatih motorik halus.

“Untuk melatih kemampuan menulis anak sebaiknya dilakukan secara bertahap. Misalnya dengan mengajarkan anak menggenggam pensil atau benda lainnya, kemudian melatih anak untuk meronce serta kegiatan lain yang merangsang perkembangan motorik halus seperti menggunakan sumpit,” ungkapnya.

Irna juga mengingatkan agar orangtua tidak memaksakan anak belajar terlalu dini. Ketidaksiapan motorik halus dapat memicu rasa frustrasi pada anak. Dalam proses belajar, anak perlu memiliki rasa percaya diri terhadap kemampuannya. “Pengajaran yang terlalu dini mungkin dapat membuat anak merasa frustrasi ketika dia tidak mampu mengerjakan tugas karena kematangan motorik halus belum berkembang. Padahal dalam proses belajar, anak perlu mengembangkan ‘self‑efficacy’, perasaan mampu mengerjakan suatu tugas,” tutur Irna.

Karena itu, orangtua disarankan memahami tahapan perkembangan anak dan menggabungkan proses belajar dengan aktivitas bermain. Dengan cara ini, anak akan membangun asosiasi positif terhadap kegiatan belajar. “Dengan belajar sambil bermain maka anak akan memiliki asosiasi yang positif antara belajar dengan kegiatan yang menyenangkan,” pungkasnya.

Melalui pendekatan menyeluruh, menulis tegak bersambung tidak hanya memperkuat motorik halus, tetapi juga memfasilitasi perkembangan motorik kasar, konsentrasi, dan memori jangka panjang. Metode ini tetap relevan, meski kini sedikit jarang diterapkan di beberapa sekolah, karena ia membantu menyiapkan anak untuk membaca dan belajar dengan lebih efektif.

menulis tegak bersambungmotorik haluskonsentrasimemori jangka panjangself‑efficacybelajar sambil bermainketerampilan menulis

Komentar

Memuat komentar...