Mi Goreng Rp15k Tanpa Telur Viral di Terminal Purabaya

Hendra M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 60 dibaca
Bisik.id
Mi Goreng Rp15k Tanpa Telur Viral di Terminal Purabaya

Gambar atau konten salah?

Di Terminal Purabaya, sebuah sepiring mi goreng yang hanya berharga Rp 15 ribu menjadi bahan perdebatan di media sosial. Tidak soal rasa, melainkan soal ekspektasi pelanggan terhadap apa yang seharusnya disajikan.

Seorang pelancong mengekspresikan kemarahannya ketika mi goreng yang ia pesan datang tanpa telur, sesuatu yang ia anggap standar. Ia langsung melontarkan protes keras, yang terekam dalam video dan segera menyebar luas di platform media sosial. Sabtu, 04 April 2026 menjadi tanggal ketika video tersebut menjadi viral.

Berikut fakta-fakta yang menelusuri kejadian tersebut:

1. Protes Dipicu Mi Goreng Tanpa Telur

Peristiwa bermula dari kekecewaan pelanggan yang merasa “terjebak” karena mi goreng yang dipesan tidak dilengkapi telur. Ia menilai hal itu sebagai pelanggaran standar. Dalam video, ia berteriak, “Sesuai harga mi kau yang mana, gak bisa baca. Itu namanya kau ngejebak orang, mi goreng itu rata-rata pakai telur.”

2. Harga Rp 15 Ribu Sudah Jelas di Menu

Pihak depot menegaskan bahwa harga dan jenis menu sudah tercantum dengan jelas di daftar menu. Tidak ada informasi tersembunyi. Seorang penjual, Masud, menegaskan, “Ini sampeyan (Anda) lihat dulu ya. Itu kan udah jelas harganya.”

3. Pelanggan Sudah Lihat Menu sebelum Memesan

Menurut Masud, pelanggan sudah melihat daftar harga sebelum memesan. Namun, ia memesan tanpa menanyakan detail tambahan seperti telur. Ketegangan muncul ketika pesanan disajikan dan tidak sesuai ekspektasi. Masud menirukan ucapan pelanggan: “Dia minta mi goreng, ya saya bikinin. Lalu pas datang dia protes 'ini nggak ada telurnya? Masa mi Rp 15 ribu nggak ada telurnya?'.”

4. Depot Memang Tidak Menyediakan Telur

Penjual menjelaskan bahwa di warungnya memang tidak ada opsi tambahan telur. Pelanggan yang biasanya menginginkan telur akan diberi tahu sejak awal. Masud berkata, “Kalau di sini orang pesan itu kalau saya jawab, 'Mas, kasih telur ya.' Maaf telurnya enggak ada. Enggak ada, enggak apa-apa. Kebanyakan begitu. Dia cuma bilang, 'Saya bikinin goreng yang pedas.' Ya udah saya bikinin.”

5. Sempat Ancam Viralkan tapi Tetap Bayar

Meski sempat mengancam akan memviralkan kejadian tersebut karena merasa dirugikan, pelanggan tetap menyelesaikan pembayaran atas semua pesanan. Ia juga memesan makanan lain sehingga transaksi tetap berlangsung hingga selesai. Masud menambahkan, “Dia marah-marah mau diviralin, ya silakan. Tapi akhirnya tetap bayar.”

6. Penjual Sebut Ini Kejadian Pertama

Baginya, insiden ini menjadi pengalaman pertama selama bertahun-tahun berjualan di Terminal Purabaya. Ia merasa tidak melakukan kesalahan karena sudah transparan dalam mencantumkan harga dan menu. “Pertama kali itu kejadian kayak begitu. Soalnya kan juga sudah tertulis, sudah jelas. Makanya saya berani suruh viralin, silakan. Kan posisi saya itu benar,” pungkasnya.

Peristiwa ini menyoroti betapa pentingnya komunikasi yang jelas antara penjual dan pelanggan. Ketika menu tidak mencantumkan opsi tambahan, pelanggan yang mengharapkan hal tersebut dapat merasa tertipu. Di sisi lain, penjual yang sudah menuliskan menu secara eksplisit tetap harus siap menghadapi ketidakpuasan pelanggan. Kejadian ini juga menunjukkan bahwa meskipun media sosial dapat memicu reaksi cepat, masih ada ruang bagi pelanggan untuk menyelesaikan transaksi secara damai. Keterbukaan dan transparansi tetap menjadi kunci dalam hubungan antara pedagang dan konsumen.

Mi GorengTerminal PurabayaRp 15 RibuTelurViralProtesTransparansiMedia Sosial

Komentar

Memuat komentar...