Michael Poh: Nasi Ayam Singapura Tetap Tinggi karena Kualitas
Gambar atau konten salah?
Di Singapura, seorang penjual nasi ayam bernama Michael Poh mengangkat bicara setelah beberapa pelanggan membandingkan gerainya dengan warung nasi ayam seharga Rp 25 ribu.
Harga makanan di Singapura memang tinggi. Bahan baku dan sewa tempat yang mahal menjadi penyebab utama. Belakangan ini, banyak warung kaki lima hingga restoran menaikkan harga karena biaya operasional yang terus meningkat.
Di tengah situasi ini, sebagian pelanggan memilih alternatif yang lebih murah. Ada penjual yang tetap menurunkan harga, namun banyak yang memilih mempertahankan harga tinggi demi kualitas.
Michael Poh, pemilik Poh Kee Chicken Rice, telah menyajikan nasi ayam yang dimasak fresh selama lebih dari 24 tahun di Blok 206 Toa Payoh Utara. Ia baru saja melihat pelanggan membandingkannya dengan warung seharga $1,90 (Rp 25 772) yang viral beberapa waktu lalu.
Menurutnya, ketika harga murah datang, pelanggan melupakan kualitas. Ia juga pernah diminta menurunkan harga karena dianggap sudah mendapatkan keuntungan besar.
“Kami menggunakan yang terbaik dari segalanya, tapi sekarang harus dibandingkan dengan toko-toko seperti ini. Sangat menyebalkan…,” ujar Michael. Ia menolak dibandingkan dengan penjual nasi ayam murah.
Michael mengungkap terkejut dengan perbandingan tersebut. Ia tidak tahu mengapa warung lain bisa menetapkan harga sangat murah dan tidak dapat menyamai penggunaan bahan dan ayam yang sama.
Ia merasa kesal karena beberapa pelanggan menganggap warung makannya hanya mencari keuntungan. “Disebut sebagai pencari keuntungan adalah suatu penghinaan,” jelasnya.
Michael menjelaskan bahwa penetapan harga saat ini mencerminkan kemampuan bisnis untuk mempertahankannya. Ia juga tidak selalu dapat menyamai harga pesaing.
Berbagai komentar muncul di media sosial. Seorang netizen berkata, “Anda tidak bisa memuaskan semua orang.” Netizen lain menanggapi, “Jika mereka menginginkan harga $1,90 (Rp 25 772), biarkan mereka naik bus/MRT untuk makan di sana.”
Harga Poh Kee Chicken Rice saat ini adalah $4,50 (Rp 61 038) untuk ukuran sedang dan $5,50 (Rp 74 604) untuk ukuran besar.
Warung tersebut juga mengalami dampak kenaikan biaya bahan baku di tengah konflik Timur Tengah. Ia mencatat perlu mengeluarkan bahan baku sampai $10 000 (sekitar Rp 135,6 juta) per bulan, ditambah $7 200 (sekitar Rp 97 juta) untuk sewa dan kebersihan, sehingga total pengeluaran bulanan menjadi sekitar $17 200 (sekitar Rp 233 juta). Setiap harinya, warung tersebut menggunakan sekitar 30‑40 kilogram ayam.
Meski begitu, Michael enggan membebankan biaya tambahan tersebut ke pelanggan. Sebagai alternatif, ia menyediakan kotak tip yang dimaksudkan untuk membantu menutupi kenaikan biaya operasional. Ia juga berterima kasih atas bantuan apa pun.
Kesimpulannya, harga nasi ayam di Singapura dipengaruhi oleh biaya bahan baku, sewa, dan kebersihan. Michael Poh memilih mempertahankan kualitas, meski harga lebih tinggi dibandingkan warung murah. Ia tetap melayani pelanggan dengan harapan mereka menghargai nilai yang ditawarkan, meski tidak semua dapat menyesuaikan anggaran.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Londo Kampung Nikmati Pasar Blauran Baru dengan Rp 50.000
Buket Brokoli Prewedding Viral, Hemat dan Ramah Lingkungan
Ghibli's Table: Resep Ramen & Minuman Spesial Ponyo
Makanan Sederhana Dulu, Kini Warisan Kuliner Nasional
One Satrio Jadi Destinasi Kuliner Jakarta Selatan Penuh
Berita Terbaru
Persaingan Tinggi pada UTBK Plus Unair 2026 Untuk Mahasiswa
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial
Prabowo Tekankan Standar 8 Potong Ayam MBG, Kumink Jelaskan
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Wuling Eksion: SUV Plug‑In Hybrid dengan Empat Mode Energi
Indonesia vs Timor Leste: Duel AFF U-19 2026 Live Streaming
Fadia/Tiwi Raih Kemenangan di Perempatfinal Indonesia Open
Debat Tutup Program Studi: Wisnu vs Menteri Yuliarto
