Mitos Makanan Menenangkan Kecemasan: Pisang, Susu, Kopi, Coklat?

Vera T. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Mitos Makanan Menenangkan Kecemasan: Pisang, Susu, Kopi, Coklat?

Gambar atau konten salah?

Di media sosial, semakin banyak orang yang mengaitkan makanan tertentu dengan kemampuan “menenangkan pikiran”. Ada yang bilang pisang bisa menolak cemas, ada pula yang percaya segelas susu hangat langsung meredakan gelisah. Di tengah kehidupan yang cepat dan penuh tekanan, tidak mengherankan banyak yang mencari cara sederhana untuk menenangkan diri lewat makanan.

Namun, apakah benar ada makanan yang bisa langsung menghilangkan kecemasan? Atau sekadar cerita saja? Untuk memahami, pertama kita harus tahu apa itu kecemasan.

Rasa cemas sebenarnya bagian alami dari respons tubuh manusia. Saat menghadapi situasi yang dianggap mengancam, otak mengaktifkan sistem pertahanan tubuh. Detak jantung meningkat, napas menjadi lebih cepat, dan tubuh bersiap menghadapi situasi tersebut. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai anxiety atau gangguan kecemasan. Perbedaannya dengan rasa cemas biasa terletak pada intensitas dan durasinya. Pada gangguan kecemasan, rasa takut atau khawatir bisa muncul terus-menerus, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata.

Menurut tinjauan dalam Nature Reviews Disease Primers tahun 2017, gangguan kecemasan melibatkan interaksi kompleks antara sistem saraf, hormon stres seperti kortisol, serta aktivitas neurotransmitter di otak seperti serotonin dan gamma‑aminobutyric acid (GABA). Sistem ini bekerja seperti jaringan komunikasi yang sangat rumit, sehingga perubahan kecil saja bisa memengaruhi suasana hati seseorang.

Karena itu, pengelolaan anxiety biasanya melibatkan berbagai pendekatan sekaligus: terapi psikologis, pengelolaan stres, aktivitas fisik, dan pola makan yang lebih seimbang. Dari situ, muncul klaim tentang makanan yang dianggap bisa menjadi “penangkal” anxiety.

Berikut adalah beberapa makanan yang sering disebut bisa meredakan kecemasan secara langsung:

1. Pisang

Pisang sering dikaitkan dengan kesehatan mental karena mengandung vitamin B6 yang berperan dalam pembentukan serotonin, salah satu neurotransmitter yang berkaitan dengan suasana hati. Memang benar vitamin B6 dibutuhkan dalam proses sintesis serotonin di otak. Nutrisi ini membantu reaksi enzimatik yang memungkinkan tubuh memproduksi zat kimia saraf yang mengatur emosi, kualitas tidur, dan respons terhadap stres.

Namun, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients menjelaskan bahwa produksi neurotransmitter tidak ditentukan oleh satu jenis makanan saja. Proses tersebut melibatkan banyak komponen sekaligus, mulai dari keseimbangan asupan protein, vitamin B kompleks lain, mineral, hingga kondisi metabolisme tubuh secara keseluruhan. Karena itu, mengonsumsi satu buah pisang tidak secara otomatis membuat rasa cemas langsung mereda. Pisang tetap bisa menjadi bagian pola makan sehat yang mendukung fungsi saraf, tetapi efek terhadap kesehatan mental biasanya muncul dari pola makan yang konsisten dan seimbang dalam jangka panjang, bukan dari satu makanan tertentu yang dikonsumsi sesekali.

Kesimpulan: Cuma MITOS

2. Susu

Minum susu hangat sebelum tidur sering dianggap mampu membuat tubuh lebih tenang. Keyakinan ini biasanya dikaitkan dengan kandungan triptofan dalam susu, yaitu asam amino yang digunakan tubuh untuk memproduksi serotonin dan melatonin. Meski secara teori benar, para peneliti menjelaskan bahwa jumlah triptofan dalam satu gelas susu relatif kecil. Proses metabolisme di tubuh juga sangat kompleks, sehingga efeknya tidak sesederhana yang sering digambarkan. Dalam banyak kasus, rasa nyaman setelah minum susu hangat lebih berkaitan dengan efek psikologis dari rutinitas menenangkan sebelum tidur.

Kesimpulan: Cuma MITOS

3. Coklat

Cokelat, terutama dark chocolate, sering disebut sebagai makanan pengusir stres. Anggapan ini muncul karena kakao mengandung flavonoid yang diketahui dapat memengaruhi aliran darah ke otak serta berkaitan dengan regulasi suasana hati. Beberapa penelitian memang menemukan bahwa senyawa dalam kakao berpotensi membantu menurunkan respons stres pada kondisi tertentu. Namun efek tersebut biasanya terlihat pada pola konsumsi jangka panjang dengan kandungan kakao yang cukup tinggi, bukan dari konsumsi cokelat sesekali.

Di sisi lain, banyak produk cokelat di pasaran juga mengandung gula yang cukup tinggi. Konsumsi berlebihan justru dapat memicu fluktuasi gula darah yang pada sebagian orang membuat tubuh terasa lebih gelisah. Karena itu, menyebut cokelat sebagai obat stres instan sebenarnya terlalu menyederhanakan mekanisme yang terjadi di dalam tubuh.

Kesimpulan: Cuma MITOS

4. Kopi

Kopi juga kerap disebut mampu memperbaiki suasana hati karena kandungan kafeinnya dapat meningkatkan kewaspadaan dan energi. Bagi sebagian orang, secangkir kopi di pagi hari memang terasa seperti “pemicu semangat” sebelum memulai aktivitas. Namun hubungan antara kopi dan kesehatan mental ternyata tidak sesederhana itu. Sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Studi dalam jurnal Psychiatry Research tahun 2023 sebelumnya yang meneliti hubungan antara konsumsi kopi dan kesehatan mental, khususnya depresi dan kecemasan, telah menghasilkan hasil yang tidak konsisten mengenai arah hubungan atau asupan harian optimal.

Kafein bekerja dengan merangsang sistem saraf pusat. Pada sebagian orang efek ini dapat meningkatkan fokus, tetapi pada orang lain justru bisa memicu jantung berdebar, gelisah, hingga memperparah gejala kecemasan jika dikonsumsi berlebihan. Karena itu, kopi tidak bisa dianggap sebagai “penangkal anxiety”. Respons tubuh terhadap kafein sangat individual dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk sensitivitas tubuh serta jumlah yang dikonsumsi.

Kesimpulan: Cuma MITOS

Walaupun makanan tertentu memiliki kandungan nutrisi yang dapat memengaruhi neurotransmitter atau hormon, efeknya tidak langsung dan tidak dapat diandalkan sebagai solusi tunggal. Kecemasan merupakan kondisi kompleks yang melibatkan interaksi saraf, hormon, dan faktor psikologis. Perubahan kecil dalam diet, seperti menambahkan pisang atau susu, mungkin membantu, namun manfaatnya bersifat jangka panjang dan tergantung pada pola makan keseluruhan.

Oleh karena itu, ketika mencari cara menenangkan pikiran, lebih baik mengandalkan pendekatan holistik: terapi, olahraga, tidur cukup, dan pola makan seimbang. Makanan dapat menjadi bagian pendukung, bukan pengganti, untuk mengelola kecemasan. Kuncinya adalah konsistensi dan kesadaran akan bagaimana tubuh dan pikiran saling memengaruhi.

KecemasanNutrisiSerotoninVitamin B6TriptofanFlavonoidKafein

Komentar

Memuat komentar...