Mojosongo: Makam Putri Cempo Bebas Bau Sampah 25 Meter
Gambar atau konten salah?
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Solo biasanya menimbulkan bau menyengat yang menusuk hidung. Namun, di kawasan petilasan Putri Cempo, Mojosongo, Solo, terjadi anomali yang tak terduga. Meskipun terletak berhadapan langsung dengan gunungan sampah, area sakral ini diklaim bebas bau sampah dalam radius puluhan meter.
Di Makam Putri Cempo, terdapat satu pohon besar dan rindang. Saat berada di dekat makam, bau sampah tidak tercium sama sekali. Fenomena ini diungkapkan oleh Saimo, 80 tahun, yang sekaligus menjadi juru kunci dan sesepuh petilasan Putri Cempo.
“Iya, dalam jarak 25 meter dari kawasan makam, tidak ada bau sampah sama sekali. Bentuk kawasannya itu seperti tumpeng. Mau dibilang ampuh atau wingit (sakral), ya kenyataannya begitu,” ujar Saimo saat ditemui pada 26 Mei 2026.
Putri Cempo, yang dianggap berasal dari Tiongkok pada era Kerajaan Majapahit, memang dipenuhi kisah mistis. Tidak mencium bau busuk ternyata terkait erat dengan status radius 25 meter sebagai “area suci” yang dijaga ketat secara spiritual.
Saimo menegaskan bahwa di dalam radius tersebut tidak hanya bebas bau, tetapi juga terdapat sejumlah pantangan keras bagi siapa saja yang datang. Para pengunjung diwajibkan menjaga tata krama dan sopan santun.
“Jangan sembarangan, misalnya buang air atau berbuat tidak senonoh. Di radius 25 meter itu tidak boleh buat pacaran,” tegasnya.
Ia juga menceritakan beberapa kejadian mistis masa lalu yang menimpa orang-orang yang nekat melanggar aturan. Mulai dari pengunjung yang tersesat berputar-putar, peristiwa medis aneh akibat asusila, hingga petaka yang menimpa mereka yang mengambil batu dari area makam.
“Dulu juga ada kejadian, seorang sopir mengambil batu dari wilayah sini untuk dijadikan batu akik. Belum sempat diolah batunya, orang tersebut meninggal dunia. Akhirnya batunya dikembalikan lagi ke sini oleh temannya,” ucapnya.
Meski letak makam berada di bukit, tidak menyurutkan massa untuk berziarah. Walaupun volume sampah di TPA terus meningkat, magnet spiritual Putri Cempo tetap kuat menarik peziarah.
“Sampai sekarang pun masih ada, satu-dua orang tiap malam. Biasanya mereka memohon keselamatan, kesehatan, atau kelancaran derajat dan pangkat. Ada juga caleg yang datang ke sini, dari tiga, ada dua yang jadi,” ungkap sang Juru Kunci.
Saimo mengatakan bahwa pihak pengelola selalu meluruskan niat para peziarah agar tidak terjebak dalam kesyirikan. Kehadiran petilasan Putri Cempo hanyalah sebagai media perantara atau bentuk penghormatan kepada leluhur.
“Tapi semuanya tetap mintanya kepada Gusti Allah, Putri Cempo ini hanya sebagai perantara atau pepunden yang dihormati. Jangan salah kaprah. Kuncinya adalah sopan santun dan jangan melanggar aturan radius 25 meter itu,” pungkasnya.
Keberadaan Putri Cempo di Solo menjadi contoh bagaimana tempat yang terletak di tengah kebisingan dan sampah tetap dapat mempertahankan ketenangan spiritual. Meskipun lingkungan sekitar penuh limbah, pengunjung yang datang dengan niat baik dan menghormati batasan tetap merasakan udara yang bersih dan damai. Seorang pengelola, Saimo, menegaskan bahwa keajaiban ini bukan sekadar mitos, melainkan hasil dari disiplin dan penghormatan yang dijaga bersama. Dengan demikian, petilasan ini tetap menjadi tempat ziarah bagi yang mencari perlindungan, kesehatan, dan keberkahan, tanpa terpengaruh oleh bau sampah di sekitarnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Jembatan Batang A: Lalu Lintas Satu Lajur, Rute Alternatif
Gubernur Jateng Atur Ulang Anggaran 2026 untuk Perbaikan Jalan
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
