Monyet Serang Kebun Pisang di Kampung Kalialang Baru

Sinta R. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
Monyet Serang Kebun Pisang di Kampung Kalialang Baru

Gambar atau konten salah?

Di RT 3/RW 7 Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, warga mulai cemas ketika kawanan monyet ekor panjang mulai mengunjungi kebun mereka. Primata tersebut memakan buah dan tanaman sebelum waktunya dipanen, menimbulkan kerugian bagi petani lokal.

Agito, salah satu warga yang menanam pisang, mengakui bahwa setiap hari gerombolan hewan liar tersebut mencuri pisang yang ia tanam. Ia juga mengatakan bahwa tunas pohon pisang dipatahkan untuk dimakan. “Setiap hari itu nyuri kalau nggak ada pisang, tanduran‑tanduran dipotek, disesepi (dihisap),” ujarnya ketika ditemui di rumahnya pada Senin, 27 April 2026.

Walaupun buah pisang belum matang, jantung pisang milik Agito juga tak luput dari keserakahan para monyet. Ia menambahkan, “Pisang aja masih jantung dimakan, kok, apalagi sudah keluar pisangnya. Itu merusak segalanya.”

Tak hanya pisang, ketela yang ditanam Agito pun menjadi sasaran monyet. Ia menyebut, “Ketelanya dicabut dan dimakan oleh kawanan hewan primata itu. Akibatnya, Agito tidak dapat memanen ketelanya.” “Ketela itu sering dicabuti, nggak bisa panen, masih kecil‑kecil dicabuti,” jelasnya.

Kerugian yang dialami Agito berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Ia mengungkapkan, “Tergantung, kalau pisangnya yang dirusak itu ada Rp 300 ribu‑Rp 500 ribu. Kalau nggak ada pisang, anak‑anak gedang dipotek.”

Agito harus menjaga tamannya setiap hari dari ratusan monyet. Ia sering berkejaran dengan kawanan tersebut. “Sering ini jaga di sini, jaga pisang ini. Setiap hari kedatangan (kawanan monyet) dari sana (samping rumahnya) ke sini (depan rumahnya). Kalau saya grusa‑grusa (mengusir) larinya (gerombolan monyet) ke sana (perkampungan). Kalau 150 ada, banyak sekali,” ujarnya.

Ketua RT 3/RW 7, Kunjaeri, turut mengamati kondisi ini. Ia menyatakan, “Petani yang memiliki lahan di sekitar kampungnya dibuat gusar oleh kawanan monyet.” Ia menambahkan, “Para pemilik lahan bahkan tidak dapat menikmati hasil tanamannya. Sebab, kawanan monyet lebih dulu mengambil pisang hingga singkong.”

Kunjaeri mengungkapkan bahwa lahan yang menjadi tegalan di wilayahnya sekitar 3.600 meter persegi. Ia menekankan, “Kalau mengganggu untuk khususnya sebagian warga yang menanam di tegalan sampingan itu, ya, mengganggu. Terutama pisang, singkong, itu sebelum waktunya untuk panen sudah hilang dahulu. Kalah duluan daripada monyetnya.”

Monyet‑monyet tersebut sudah lama masuk ke perkampungannya. Awalnya hanya sejumlah ekor monyet saja yang datang. “Ini dari bulan ke bulan ini sudah mulai meningkat, lah. Jadi saya melihat awalnya itu hanya satu, dua, mungkin satu yang tidak dapat jatah makan dari induknya sana turun ke bawah. Setelah sampai ke lingkungan sini ternyata kok banyak sekali asupan makanan,” kata Kunjaeri pada Senin, 27 April 2026.

Hingga enam bulan belakangan, ia menyebut satu kelompok monyet yang datang bisa mencapai 50‑100 ekor. Ia menjelaskan, “Satu kelompok monyet yang datang bisa mencapai 50‑100 eko. Dia menyebut kelompok monyet itu datang diduga diajak oleh kawanan monyet lainnya. Adapun monyet yang datang memiliki ekor panjang.”

Para monyet itu biasa masuk perkampungan pada siang hari. Bahkan, monyet‑monyet tersebut nongkrong di pos ronda kampung. “Terus terkait dengan turun ke warga, mulai sekarang malah banyak sekali (monyet) yang berani bermain‑main di pos ronda jaga warga,” kata Kunjaeri.

Tak hanya ke pos ronda, monyet tersebut juga naik ke atap rumah hingga mengacak‑acak tempat sampah milik warga. Ia menduga, kedatangan para monyet dipicu kebutuhan akan makanan. “Kadang ada di atap genting. Nah itu terkadang cari‑cari makanan. Kadang itu ngorak‑ngorak sampe. Itu yang menjadi risiko gangguan sebetulnya,” ungkapnya.

Kunjaeri menyebut, gerombolan monyet tersebut datang dari arah selatan. Ia menduga monyet‑monyet tersebut datang dari wilayah Goa Kreo. “Menurut sebagian warga yang mereka tahu itu dari arah selatan. Otomatis kalau dari arah selatan kaitannya dengan, mungkin, di Gua Kreo,” sebutnya.

Warga pun sempat berkejaran dengan rombongan monyet itu. Mereka menyulut mercon dan dilempar ke gerombolan monyet. “Sempat ada sekitar 50‑an itu kejar‑kejar warga bahkan sampai di apa serang pakai apa itu kembang api mercon itu kan jadi kayak perang zaman ’45 gitu,” jelas Kunjaeri.

Upaya menghalau monyet tidak hanya dengan menggunakan mercon. Warga juga menggunakan jaring maupun katapel agar monyet tidak masuk kampung. “Kemarin sempat mempersiapkan plinteng (katapel), terus blandring (jaring). Dan kemarin kan mungkin barusan habis Hari Raya kan masih punya stok kembang api atau mercon gitu,” sebutnya.

Agito mengaku, monyet yang paling besar naik ke atap rumahnya. Ia menyebut, monyet yang paling besar tidak takut manusia. “Kalau yang besar naik ke sini (atap rumah), nekat dia. Kalau digusar‑gusar (diusir) nekat. Banyak (yang datang) yang besar‑besar berani sama orang,” ujarnya.

Agito pun menggunakan katapel untuk mengusir para monyet yang datang. Ia menyebut monyet yang datang seperti monyet yang bisa digunakan untuk topeng monyet. Ia berharap ada langkah dari pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. “Pakai katapel biar pergi. Monyetnya seperti topeng monyet. Harapannya, ya, biar monyet itu nggak ke sini gimana pemerintah gitu, ditangkap, dikembalikan ke habitatnya, biar nggak ke sini, biar nggak meresahkan orang kampung,” katanya.

Di akhir hari, tidak satu pun monyet terlihat di perkampungan tersebut. Warga masih beraktivitas seperti biasa, meski situasi tetap menegangkan. Warga terus berupaya menjaga kebun dan rumah mereka dari serangan monyet, menggunakan berbagai metode sederhana namun efektif. Keterlibatan warga menjadi kunci dalam menghadapi masalah ini, sementara harapan akan tindakan pemerintah tetap menjadi harapan yang belum terwujud.

monyetpisangpetanikerugianKampung Kalialang Barukatapelpemerintah

Komentar

Memuat komentar...