MSCI Hapus DSSA dan BREN dari Indeks, Harga Terpuruk
Gambar atau konten salah?
MSCI, penyedia indeks saham global, mengumumkan rencana untuk mengeluarkan saham-saham Indonesia yang masuk kategori HSC (high shareholding concentration). Dua emiten yang terancam dicoret adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), yang dimiliki oleh Grup Sinar Mas dan konglomerat Prajogo Pangestu.
Perdagangan pada 21 April 2026 menunjukkan penurunan tajam. DSSA turun 14,98% ke harga Rp 2.780 per lembar, sementara BREN jatuh 9,47% ke Rp 5.975 per lembar. Penurunan ini disertai net sell dari investor asing: DSSA menarik Rp 64,07 miliar dan BREN mencatat net foreign sell sebesar Rp 52,14 miliar.
Penurunan berlanjut pada 22 April 2026. DSSA di awal perdagangan masih terkoreksi 7,55% ke Rp 2.570 per lembar, sedangkan BREN melemah 6,69% ke Rp 5.575 per lembar.
Menurut pengumuman Bursa Efek Indonesia pada awal April, DSSA dan BREN masuk kategori HSC karena kepemilikan saham terkonsentrasi. BREN memiliki struktur kepemilikan 97,31% dari total saham, baik warkat maupun tanpa warkat. DSSA, di sisi lain, dikuasai 95,76% dari total saham. Kedua saham ini pernah menjadi bagian indeks MSCI setelah rebalancing tahun lalu.
MSCI menegaskan bahwa kategori HSC menjadi indikator penting dalam menilai kualitas indeks. Pada pengumuman pagi ini, MSCI menyatakan bahwa emiten-emiten tersebut akan dikeluarkan dari konstituen. Hal tersebut berarti, diperkirakan akan ada tekanan jual bagi emiten-emiten yang masuk list HSC dalam konstituen MSCI ke depannya.
Dalam pengumuman terbarunya, MSCI mempertahankan pembekuan rebalancing Mei 2026 dan mengeluarkan saham-saham RI yang masuk kategori HSC dari indeksnya. Saat ini, MSCI masih mengkaji dampak sejumlah reformasi pasar modal terhadap aksesibilitas investasi di RI. MSCI juga akan menggunakan data keterbukaan pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float, namun tidak akan memasukkan data dari sumber baru hingga kajiannya selesai.
MSCI menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan membatasi perputaran indeks dan risiko investabilitas, sekaligus memberi waktu untuk evaluasi lebih lanjut atas reformasi yang baru diumumkan.
Reydi Octa, pengamat pasar modal, menilai kebijakan MSCI terkait saham HSC sebagai langkah tegas untuk meningkatkan kualitas indeks. Menurutnya, MSCI ingin saham-saham dalam indeksnya sehat dari sisi struktur kepemilikannya.
“Ini langkah yang cukup tegas untuk meningkatkan kualitas indeks. MSCI ingin memastikan saham yang masuk indeks benar-benar berkualitas, bukan hanya besar secara market cap tapi juga sehat dari sisi komposisi kepemilikan,”
Reydi menambahkan bahwa kebijakan ini menandai komitmen MSCI terhadap integritas indeks, yang penting bagi investor global yang mengandalkan data tersebut.
Secara keseluruhan, keputusan MSCI menandai perubahan signifikan dalam cara indeks global menilai saham Indonesia. Dampak langsung terlihat pada penurunan harga dan penarikan modal asing, sementara jangka panjang akan bergantung pada bagaimana regulasi pasar modal di Indonesia menanggapi kebutuhan transparansi dan distribusi kepemilikan yang lebih merata.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Kimia Farma Balikkan Kerugian, Capai Laba Rp123,63 Miliar
Prabowo Ganti Pimpinan BGN, Tegaskan Tanpa Toleransi Korupsi
Asuransi Astra Tumbuh Meski Tekanan Nilai Tukar & Suku Bunga
Menteri Keuangan: Rupiah Terkena Rumor, Bank Indonesia Fokus
Berita Terbaru
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
