Musashi Sasar Konversi 100 Motor Honda ke Listrik
Gambar atau konten salah?
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak mau setengah-setengah menjalankan program konversi motor listrik di Indonesia. Pada langkah terbaru, mereka mulai menggandeng pabrikan motor yang sudah berpengalaman.
Menurut Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, pihaknya telah menjalin komunikasi dengan perusahaan ternama asal Jepang, Musashi. Perusahaan tersebut dikenal sebagai produsen suku cadang untuk motor-motor buatan Honda di Indonesia.
Trois menjelaskan, Musashi akan mengonversi ratusan motor lama Honda menjadi kendaraan listrik. Dia berharap, angkanya bisa terus bertambah di masa depan.
“Jadi 01 Januari 2026 kami ada kegiatan konversi dari teman‑teman Musashi. Jadi, Musashi ini anak perusahaan Honda. Kami kemarin ketemu dan menyampaikan ke direksinya, bagaimana kalau kita mendesain atau mengubah motor Honda lama menjadi baru? Kemudian yang melakukan authorized dari Honda,” ujar Trois di Senayan, Jakarta Pusat.
“Saat ini kami dengan Musashi akan mengonversi 100 motor Honda di Musashi. Harapannya apa? Kalau prinsipal dari Jepang setuju. Kita bisa lebih masif. Kami kebayang, bukan bengkel aja, manufaktur juga bisa terlibat dalam program konversi motor listrik ini,” tambahnya.
Program konversi motor listrik di Indonesia kurang lebih telah berjalan lima tahunan. Namun, selama periode tersebut peminatnya belum menunjukkan angka signifikan. Bahkan, sejak 01 Januari 2021 hingga 01 Januari 2026, hanya ada 2.278 unit motor bensin yang “disulap” menjadi tunggangan listrik.
Dari angka tersebut, 01 Januari 2024 menjadi yang tertinggi dengan kontribusi 1.352 unit. Sebab, periode itu menjadi momen terakhir konversi mendapat subsidi Rp 10 juta/unit dari pemerintah. Angkanya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
Menurut Trois, ada sejumlah tantangan yang membuat konversi motor listrik belum masif di Indonesia. Misalnya seperti minimnya kesadaran, kondisi keuangan yang tak memadai, ketakutan soal administrasi, hingga keraguan terhadap mesin listrik.
“kemarin kami diskusi dengan teman‑teman Grab, Gojek, inDrive dan semua ojol, salah satu isunya adalah spesifikasi motor listrik itu sendiri. Misalnya, Pak, motornya takut nggak bisa nanjak. Saya bayangkan, motor yang mendapat bantuan kita buat standar. Kemudian ojol juga menyampaikan pengisian baterainya belum standar,” kata dia.
Program konversi motor listrik masih dalam tahap awal. Keberhasilan tergantung pada dukungan pabrikan, subsidi, dan pemahaman masyarakat. Jika semua elemen terkoordinasi, jumlah motor yang diubah bisa meningkat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Toyota Panggil Produsen Jepang Bersatu Lawan Mobil China
Tragedi Indramayu: 12 Tewas Akibat Pikap Angkut Manusia
BYD Tabrak Kaca Gedung SCBD, Sopir Salah Injak Pedal
Mitsubishi Luncurkan XForce Hybrid, SUV Irit Pertama
Recall Stiker, Subaru Tarik 541 Ribu Mobil di AS
Rincian Tarif SWDKLLJ 2025, Dari Motor hingga Truk
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai
