Muslim Indonesia Mulai Ramadan di Belanda Dingin
Gambar atau konten salah?
Utrecht, Belanda. Komunitas Muslim Indonesia di Belanda dan seluruh Muslim di dunia menyambut kedatangan bulan suci Ramadan 1447 H dengan penuh suka cita. Bulan yang penuh berkah ini dijalani dengan khidmat, di mana setiap Muslim yang mampu melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh.
Vleuten, salah satu kotamadya di Provinsi Utrecht, adalah lokasi berkumpulnya banyak Muslim. Provinsi yang berada di tengah Belanda ini memiliki sekitar 400.000 penduduk. Diperkirakan ada 13.000 Muslim yang berasal dari berbagai negara, termasuk Turki, Maroko, Indonesia, Suriname, Somalia, India, Pakistan, dan Mesir.
Komunitas Muslim Indonesia di Belanda memulai puasa Ramadan pada tanggal 18 Februari 2026. Masa ini bertepatan menjelang akhir musim dingin menuju awal musim semi. Suhu udara saat itu berkisar antara 5 hingga 10 derajat Celsius, disertai angin dingin yang cukup kencang.
Meskipun berpuasa dalam cuaca dingin, ada rasa syukur karena durasi puasa tahun ini lebih pendek, hanya sekitar 12 jam. Ini jauh lebih singkat dibandingkan durasi puasa saat musim panas yang bisa mencapai sekitar 19 jam.
Selain diaspora Indonesia, ada juga jamaah dari Singapura dan Malaysia yang menetap di sana. Kelompok ini, bersama dengan Muslim Belanda yang baru memeluk Islam (mualaf) tergabung dalam grup Bina Dakwah. Mereka kembali dapat berkumpul untuk melaksanakan Iftar, salat Maghrib, Isya, dan Tarawih berjamaah.
Sebagaimana tradisi tahun-tahun sebelumnya, keluarga Muslim Indonesia mengadakan acara buka puasa bersama setiap akhir pekan, khususnya pada hari Sabtu. Tujuan utama acara ini adalah mempererat tali silaturahmi dan memperkuat semangat persaudaraan.
Agenda buka bersama pertama keluarga Bina Dakwah berlangsung pada Sabtu, 21 Februari 2026. Acara diawali dengan ceramah singkat dalam bahasa Belanda. Topik ceramah berfokus pada keutamaan puasa Ramadan.
Salah satu anggota grup, George Muishout, menjadi penceramah pada pertemuan buka puasa tersebut. Setelah ceramah, acara dilanjutkan dengan iftar. Sajian pembuka meliputi beragam kue tradisional Indonesia, seperti lemper, tahu isi, risoles, onde-onde, lumpia, bakwan, kelepon, dan kolak. Tentu saja, kurma juga disajikan.
Selanjutnya, mereka melaksanakan salat Maghrib berjamaah. Setelah itu, acara makan malam dilanjutkan dengan sajian khas Nusantara. Kegembiraan terasa saat menikmati nasi liwet, urap sayur, tempe, ayam kalasan, ayam kari, tumis buncis, dilengkapi dengan kerupuk dan sambal.
Suasana kehangatan dan keceriaan sangat terasa melalui jabat tangan, sapaan, pelukan, berbagi cerita, tawa, dan canda, menciptakan rasa persaudaraan yang erat layaknya sebuah keluarga di negeri rantau. Ini adalah indahnya silaturahmi multikultural di Belanda.
Komunitas Muslim Indonesia di Utrecht, Belanda, merayakan awal Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026, dengan durasi puasa yang relatif singkat sekitar 12 jam karena bertepatan dengan akhir musim dingin. Grup Bina Dakwah, yang terdiri dari diaspora Indonesia, Malaysia, Singapura, dan mualaf lokal, rutin mengadakan buka puasa bersama setiap Sabtu untuk mempererat persaudaraan. Pertemuan perdana pada 21 Februari 2026 diisi ceramah singkat tentang keutamaan puasa oleh George Muishout, dilanjutkan dengan hidangan pembuka kue tradisional dan santap malam khas Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Turis Australia Siram Pasangan China di Pulau Padar Viral
Arkeolog Temukan Kota Bizantium dan 'Lidah Emas' di Mesir
Perpustakaan Nyi Ageng Serang Kembali Dibuka, Diserbu Gen Z
Prancis Tetap Primadona Wisata Usai Kalah Piala Dunia
Hari Bastille 2026: Prancis Rayakan, Timnas Tersingkir
Perpustakaan Jakarta Kini Buka Lagi, Ada Vinyl dan Board Game
