Musrenbang RKPD 2027: Khofifah Tekankan Data dan Kolaborasi
Gambar atau konten salah?
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memimpin Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2027 di Hotel Shangri-La Surabaya pada 14 April 2026. Ia menekankan bahwa perencanaan pembangunan daerah harus semakin presisi, berbasis data, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
“Musrenbang ini bukan sekadar forum tahunan, tetapi momentum strategis untuk memastikan arah pembangunan Jawa Timur semakin presisi, inklusif, dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Khofifah. Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah merupakan bagian integral dari sistem pembangunan nasional yang berorientasi pada terwujudnya kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan. Oleh karena itu, kebijakan daerah harus selaras dengan prioritas nasional sekaligus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
Dalam kerangka Nawa Bhakti Satya Jatim Sejahtera, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memfokuskan pembangunan pada percepatan pengentasan kemiskinan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut, Khofifah menekankan pentingnya penguatan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media sebagai penjalin sinergi pembangunan.
“Kolaborasi pentahelix tidak hanya meningkatkan kualitas perencanaan berbasis data, tetapi juga mendorong sinkronisasi lintas sektor, mempercepat inovasi, serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas pembangunan,” tegasnya. Seiring dengan itu, penguatan basis data menjadi kunci utama dalam memastikan ketepatan sasaran program. Khofifah menyoroti pentingnya validitas Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). “Kami mendorong percepatan pengajuan, pemutakhiran, dan pemadanan data agar intervensi kebijakan benar-benar tepat sasaran,” tuturnya.
Di sektor layanan dasar, khususnya kesehatan, menjadi perhatian utama. Capaian kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Jawa Timur per 1 April 2026 telah mencapai 97,71 % atau sekitar 41,13 juta jiwa dari total penduduk 42,3 juta jiwa. Pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jawa Timur tahun 2026 menunjukkan capaian positif dengan menempati peringkat kedua nasional. Program ini didominasi kelompok usia 40‑59 tahun sebanyak 944.030 jiwa (28,92 %) dengan partisipasi perempuan sebesar 58,44 % dan laki‑laki 41,56 %.
Penguatan layanan kesehatan juga dilakukan melalui Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes) sebagai ujung tombak pelayanan di tingkat desa. Pada tahun 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung pembiayaan 1.001 perawat Ponkesdes yang tersebar di 21 kabupaten/kota melalui Bantuan Keuangan Khusus.
Beralih ke sektor ekonomi, masalah yang dihadapi Jawa Timur adalah disparitas antarwilayah. Kontribusi ekonomi wilayah utara mencapai 54,57 %, sementara wilayah selatan 20,53 % dan Madura 3,81 %. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, percepatan pembangunan Jalan Pantai Selatan (Pansela) menjadi prioritas strategis. Hingga saat ini, progres pembangunan telah mencapai 390,84 km atau 62,2 % dari total panjang 628,39 km, dengan target tambahan penyelesaian sepanjang 30,59 km pada tahun 2026. “Pembangunan Pansela diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi wilayah selatan sekaligus mengurangi kesenjangan antarwilayah,” jelasnya.
Di sisi lain, Jawa Timur juga menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung program prioritas nasional. Salah satunya melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menjangkau sekitar 8,58 juta penerima manfaat dari berbagai kelompok, mulai dari balita, peserta didik, hingga ibu hamil dan menyusui. Program ini didukung oleh 4.235 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan 3.412 telah operasional dan 823 dalam tahap persiapan, serta melibatkan 160.524 tenaga petugas. Hingga 10 April 2026, sebanyak 2.018 Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) telah diterbitkan sebagai jaminan kualitas layanan.
Di sektor ekonomi desa, Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) telah mencapai 100 % pembentukan kelembagaan dengan total 8.494 koperasi. Mayoritas merupakan koperasi baru (99 %) yang saat ini didominasi unit usaha gerai sembako dan mulai beroperasi secara bertahap. “Ke depan, penguatan kapasitas SDM, akses permodalan, dan ekosistem kemitraan menjadi kunci keberlanjutan KDKMP,” ujar Khofifah.
Sementara itu, pada sektor pendidikan dan pemberdayaan sosial, Jawa Timur mencatat kontribusi terbesar nasional dalam Program Sekolah Rakyat (SR) dengan 26 unit atau sekitar 15 % dari total nasional. Program ini mencakup 97 rombongan belajar dengan total 2.450 peserta didik. Dukungan diberikan secara komprehensif, mulai dari penyediaan fasilitas, pelatihan kebencanaan oleh Tagana, pemberdayaan ekonomi orang tua, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak serta penguatan literasi melalui optimalisasi perpustakaan.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat pendidikan keagamaan melalui Program Bosda Madin dengan skema sharing pembiayaan bersama kabupaten/kota. “Melalui sinergi pembiayaan dan penajaman sasaran, kita harapkan peningkatan mutu pendidikan keagamaan dapat berjalan optimal menuju Indonesia Emas 2045,” tuturnya.
Sebagai bentuk komitmen bersama, pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Berita Acara (BA) Musrenbang RKPD Provinsi Jawa Timur Tahun 2027. Penandatanganan tersebut melibatkan unsur pemerintah pusat dan daerah, legislatif, akademisi, organisasi keagamaan, organisasi perempuan, pemuda, perwakilan anak, kelompok disabilitas, hingga dunia usaha. Ini menjadi representasi kolaborasi lintas sektor dalam perencanaan pembangunan.
Di akhir acara, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, BUMN/BUMD, akademisi, komunitas, media, hingga masyarakat Jawa Timur. “Kolaborasi lintas sektor, lintas wilayah, dan lintas pemangku kepentingan adalah fondasi kokoh untuk mewujudkan Jawa Timur yang maju, adil, makmur, unggul, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Acara ini dihadiri oleh Menteri Bappenas Rachmat Pambudy, Menteri Dikdasmen Abdul Mu’ti, Wamen Ribka Haluk, Wagub Jatim, Ketua DPRD Jatim, Forkopimda Jatim, para Bupati Wali Kota Se-Jawa Timur, dan juga lintas ormas di Jatim. Forum ini berlangsung sangat strategis untuk merumuskan rencana pembangunan ke depan.
Melalui Musrenbang ini, Jawa Timur menegaskan komitmen untuk memanfaatkan data yang akurat, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, dan menargetkan program-program yang benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat. Fokus pada kesehatan, pendidikan, ekonomi desa, dan infrastruktur menunjukkan upaya terpadu untuk menutup kesenjangan antarwilayah dan meningkatkan kualitas hidup warga. Keberhasilan program-program seperti JKN, CKG, dan MBG menandakan kemajuan signifikan dalam penyediaan layanan dasar. Sementara itu, pembangunan Pansela dan dukungan terhadap koperasi desa menandai langkah konkret dalam memperkuat ekonomi lokal. Semua inisiatif ini diharapkan menjadi dasar bagi pencapaian tujuan Indonesia Emas 2045, dengan Jawa Timur berperan aktif sebagai contoh pembangunan berkelanjutan dan inklusif di tingkat provinsi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
