Nabila Huda: Kontroversi Pakaian di Usaha Kaki Lima Pasta
Gambar atau konten salah?
Nabila Huda, seorang wanita asal Malaysia berusia 42 tahun, menjadi sorotan publik setelah menampilkan pakaian yang dianggap terlalu terbuka saat menjual pasta homemade di kaki lima. Penampilannya memicu komentar beragam di media sosial, menambah tekanan pada usaha kuliner kecil yang ia jalankan.
Ia dikenal tidak hanya sebagai aktris, tetapi juga sebagai pengusaha pop‑up pasta. Pada 11 Mei 2023, laporan tentang usaha ini muncul, menyoroti bagaimana ia menyiapkan dan menjual masakan sendiri di depan para penggemar.
Dalam sebuah posting di Threads, Nabila mengungkapkan rasa kecewanya: "Saya melakukannya karena senang melihat orang datang mendukung, makan, dan ngobrol. Tapi anehnya kenapa banyak sekali yang cari kesalahan?" Ia menambahkan bahwa pakaian yang ia kenakan saat memasak menjadi bahan perdebatan. “Soal pakaian juga jadi masalah. Memangnya mereka berharap saya pakai jubah atau bagaimana? Maunya apa sebenarnya?” ia sampaikan.
Menanggapi kritik, Nabila menegaskan bahwa ia memilih tetap menjadi diri sendiri. Ia tidak ingin berpura‑pura tampil lembut atau sempurna hanya demi mendapat pujian publik. “Saya bukan orang munafik. Saya tidak perlu berpura‑pura terlihat baik dan sopan hanya supaya disukai orang,” ujarnya.
Usaha kuliner yang ia jalankan bukan restoran permanen. Ia menjelaskan bahwa konsepnya hanyalah pop‑up skala kecil, memungkinkan pertemuan langsung dengan pendukung sambil menyajikan masakan buatan sendiri. Pada setiap acara, ia hanya menyiapkan sekitar 50 porsi pasta dan 150 hingga 200 botol saus homemade. Karena produksinya terbatas, produk sering habis terjual dalam waktu singkat.
Meski terlihat ramai dan sukses, Nabila menegaskan bahwa bisnis tersebut tidak menghasilkan keuntungan besar. Semua pekerjaan, mulai dari memasak, mengemudi, hingga berjualan langsung, dilakukan sendiri tanpa bantuan pegawai.
Ia juga membeberkan biaya operasional yang cukup signifikan. Untuk bensin, tol, hotel, bahan masakan, hingga sewa karavan selama empat hari, ia mengeluarkan sekitar Rp 10,3 juta. “Semua dilakukan dengan tenaga sendiri. Jadi kalau dibilang untung besar sebenarnya tidak juga,” pungkasnya.
Persepsi publik terhadap penampilan Nabila di tempat usaha kuliner menyoroti bagaimana penjual kaki lima sering menjadi subjek diskusi di media sosial. Kritik terhadap pakaian dan cara berpakaian pedagang tidak jarang memicu pro dan kontra.
Dalam konteks ini, Nabila Huda menunjukkan keteguhan untuk tetap autentik dan menolak tekanan untuk menyesuaikan diri dengan harapan publik. Ia memilih untuk berbagi masakan dengan tulus, meski harus menghadapi kritik yang tidak selalu konstruktif. Usaha kecilnya tetap menjadi contoh bagaimana pelaku usaha kaki lima dapat menyeimbangkan kreativitas, keuangan, dan persepsi publik dalam dunia yang cepat berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kelas Memasak Mentolo dan Petulo di Jakarta: Tradisi Kue Jawa
Disney Adventure Bayar Rp106.000 Setiap Room Service
Makanan Ular di Asia: Sup Hong Kong, Sate Indonesia, dan Lagi
Han Lewat 25 Tahun di KFC, Buka Warung Ayam Mantan KFC
Zushiku: Sushi Grab‑n‑Go Menyajikan Rasa Autentik di Jakarta
Bump: Kue Protein Sehat 170 Kalori dari Montreal Fitness
Berita Terbaru
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
Mourinho Setuju Kembali ke Real Madrid jika Perez Terpilih
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
