Naskah Patambaan Siliwangi di Museum Prabu: Obat Tradisional

Kartika D. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Naskah Patambaan Siliwangi di Museum Prabu: Obat Tradisional

Gambar atau konten salah?

Di balik lembaran naskah tua yang mulai rapuh, tersimpan pengetahuan rinci tentang bagaimana masyarakat masa lalu mengolah tanaman dan makanan menjadi obat. Naskah Patambaan Siliwangi yang dipamerkan di Museum Prabu Siliwangi di Kota Sukabumi tidak sekadar mencatat bahan, melainkan juga cara meracik—ditumbuk, dihangatkan, digoreng, hingga dibalurkan ke tubuh.

Ilham Nurwansah, seorang filolog yang mempelajari naskah ini, menjelaskan bahwa pengobatan dalam naskah tidak berdiri sendiri. Ia menyatu dengan kebiasaan dapur, ketersediaan tanaman sekitar, serta keyakinan masyarakat saat itu. “Diobati dengan tanaman, makanan dan ramuan tertentu, disertai cara tertentu seperti dibalur, diasapi, atau dimakan,” kata Ilham pada Senin 20 April 2026.

Metode paling umum dalam naskah ini adalah penggunaan daun-daunan yang diolah secara sederhana. Daun biasanya dipetik segar, lalu ditumbuk (dipipis), kadang dicampur bahan lain, dan digunakan dalam kondisi hangat. Salah satu resep menyebut campuran daun kencur dan daun ketumpang air yang ditumbuk bersama adas. Ramuan ini kemudian dihangatkan dan dibalurkan ke tubuh.

Godong cikur lan godong katumpang, lan ades pulasari, dipipis masing anget-anget, dirupusaken ing badané, isi naskah tersebut. Cara ini menunjukkan bahwa suhu ramuan dianggap penting—hangat dipercaya membantu penyerapan dan mempercepat reaksi di tubuh.

Selain itu, daun sembukan digunakan untuk mengatasi perut kembung dengan kandungan alami yang menekan produksi gas. Sementara daun sirih ditumbuk untuk mengobati luka tusuk.

Metode lain yang cukup unik adalah penggunaan bahan makanan seperti daging yang diolah bersama minyak, lalu digunakan dalam dua cara sekaligus: dimakan dan dioleskan. Dalam beberapa resep, daging kambing atau ayam digoreng menggunakan minyak wijen. Dagingnya dimakan sebagai sumber penyembuhan dari dalam, sementara minyak sisa gorengan dibalurkan ke bagian tubuh yang sakit.

Dagingé dipangan, lengané dirupusaken ing badané, demikian pola berulang dalam naskah. Metode ini memperlihatkan pendekatan ganda—internal dan eksternal—yang diyakini saling melengkapi. Tak hanya daging, burung dara dan ikan sungai juga diolah dengan cara serupa. Bahkan dalam kasus tertentu, minyak wijen menjadi komponen utama yang dioleskan ke tubuh untuk meredakan sakit.

Tanaman sederhana seperti daun padi pun tak luput dari pemanfaatan. Dalam salah satu resep, daun padi ditumbuk bersama adas untuk mengatasi demam. Prosesnya sederhana: bahan ditumbuk hingga halus, lalu digunakan sebagai baluran. Adas sendiri menjadi bahan kunci dalam banyak ramuan. Kandungan minyak atsiri di dalamnya disebut memiliki efek karminatif, membantu meredakan gangguan pencernaan.

Selain itu, daun mesoyi digunakan dalam bentuk ekstrak atau minyak untuk berbagai keluhan seperti batuk, nyeri, hingga tekanan darah tinggi.

Beberapa pengobatan dilakukan dengan cara diminum. Salah satunya menggunakan bahan yang tidak biasa—cacing yang dikocok dalam bambu, lalu airnya diminum sebagai obat. Meski terdengar ekstrem, metode ini menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu memanfaatkan seluruh potensi alam, baik tumbuhan maupun hewan, ucapnya. Sementara itu, wedang kopi disebut sebagai bagian dari terapi untuk gangguan tertentu, menunjukkan bahwa minuman hangat juga dianggap memiliki efek penyembuhan.

Bagian menarik lainnya adalah makanan yang disajikan sebagai ‘obat sosial’. Surabi, nasi liwet, hingga nasi tumpeng digunakan dalam konteks pengobatan yang lebih luas—bukan hanya dimakan, tetapi juga disedekahkan. Surabi, misalnya, disebut sebagai bagian dari penyembuhan sakit perut. Sidekahé sorabi, tulis naskah, menandakan makanan itu harus disiapkan dan dibagikan. Begitu pula nasi liwet dan palawija untuk sakit badan, atau nasi wuduk dengan ayam putih untuk kondisi tertentu. Proses memasak menjadi bagian dari ritual penyembuhan itu sendiri.

Naskah ini juga memuat daftar tanaman lengkap beserta manfaatnya. Belimbing digunakan untuk menetralisir racun, kelor untuk pusing berat, hingga lagundi untuk pegal linu. Picung disebut untuk mengatasi pusing atau lumpuh, sementara malaka digunakan untuk gangguan pernapasan. Setiap tanaman tidak berdiri sendiri—ia selalu hadir bersama cara pengolahan yang spesifik, menandakan bahwa pengetahuan ini telah teruji dalam praktik keseharian.

Melalui naskah Patambaan, terlihat jelas bahwa pengobatan tradisional bukan sekadar soal bahan, tetapi juga teknik pengolahan. Dari ditumbuk hingga digoreng, dari diminum hingga dibalurkan—semuanya memiliki peran. Di masa ketika apotek modern belum dikenal, dapur dan pekarangan menjadi pusat penyembuhan. Daun, rempah, dan makanan sehari-hari menjelma menjadi ramuan yang bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menjaga keseimbangan hidup, kata dia.

Ilham menekankan bahwa temuan tersebut perlu diteliti secara medis terkait manfaat, kegunaan, dan khasiatnya. Penelitian dari naskah kuno ini menjadi gerbang pertama untuk membuka pengetahuan medis di masa lalu. Khasiatnya ini memang secara empirik ya, memang perlu diperiksa secara medis, secara kandungan kimianya seperti apa, kandungan khasiatnya, sehingga secara uji lab harus dilakukan. Saya kira ini relevan karena beberapa tanaman juga digunakan sebagai bahan jamu-jamuan, tutupnya.

Dengan demikian, naskah Patambaan Siliwangi bukan sekadar arsip sejarah, melainkan catatan praktis tentang cara masyarakat masa lalu memanfaatkan alam untuk kesehatan. Penelitian lebih lanjut dapat mengonfirmasi kandungan kimia dan efektivitas ramuan yang telah teruji secara tradisional, membuka peluang bagi integrasi pengetahuan kuno ke dalam praktik medis modern.

Naskah Patambaanpengobatan tradisionalramuan berbahan tanamanminyak wijenobat sosialpenelitian mediskandungan kimiaintegrasi pengetahuan kuno

Komentar

Memuat komentar...