Nelayan Temukan Kapal Karam Cirebon, Harta Karun Rp720 Miliar

Ika P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 97 dibaca
Bisik.id
Nelayan Temukan Kapal Karam Cirebon, Harta Karun Rp720 Miliar

Gambar atau konten salah?

Di pagi hari 2003, seorang nelayan asal Cirebon sedang melaut di Laut Jawa seperti biasanya. Ia berhenti di titik sekitar 70 kilometer dari garis pantai, di wilayah dengan kedalaman kurang lebih 50 meter. Area tersebut dikenal sebagai jalur pergerakan ikan yang padat, sehingga ia yakin akan memperoleh hasil tangkapan yang banyak.

Tanpa menunggu lama, ia menebarkan jaring dan menunggu hingga terasa ada beban yang cukup berat di bawah permukaan air. Saat dirasa sudah waktunya, ia mulai menarik jaring itu kembali ke atas perahu. Namun, ada sesuatu yang tidak biasa: tarikannya terasa jauh lebih berat dan berbeda dari biasanya saat menangkap ikan.

Dengan tenaga ekstra, ia terus berusaha hingga akhirnya jaring berhasil diangkat ke atas kapal. Ketika dibuka, kecurigaannya terbukti. Di antara tangkapan ikan, terdapat sejumlah pecahan keramik yang ikut tersangkut.

Rasa ingin tahu pun mendorongnya untuk menelusuri asal-usul benda tersebut setibanya di darat. Tak lama kemudian, kabar mengenai penemuan keramik misterius ini menyebar luas. Belakangan, temuan itu diduga bukan sekadar benda biasa, melainkan bagian dari harta karun bernilai tinggi.

Pemerintah kemudian memberikan izin kepada sebuah perusahaan swasta untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut. Hasil penyelidikan tersebut mengungkap fakta mengejutkan: di lokasi nelayan itu menjaring ikan, ternyata terdapat bangkai kapal karam yang menyimpan harta karun dalam jumlah besar.

Peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional, Eka Asih, dalam studinya berjudul Keramik Muatan Kapal Karam Cirebon (2016), mencatat bahwa dari kapal tersebut ditemukan sebanyak 314.171 keping keramik, terdiri atas porselen, piring, mangkuk, serta berbagai jenis wadah lainnya.

Menambahkan rincian temuan tersebut, peneliti Michael S. Krzemnicki dan tim dalam jurnal Radiocarbon Age Dating of 1,000-Year-Old Pearls from the Cirebon Shipwreck (2017) mengungkapkan bahwa muatan kapal tersebut juga mencakup 12.000 butir mutiara bernilai tinggi, serta ribuan permata dan emas murni.

Berdasarkan laporan 04 April 2012, total nilai dari seluruh harta karun yang ditemukan tersebut ditaksir mencapai angka yang sangat fantastis, yakni sekitar Rp720 miliar.

Penemuan tidak sengaja oleh seorang nelayan pada tahun 2003 tersebut akhirnya tercatat sebagai salah satu penemuan arkeologi bawah laut terbesar di awal abad ke-21. Koleksi keramik yang ditemukan seluruhnya berasal dari Tiongkok, tepatnya dari masa Dinasti Tang sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi.

Pada era tersebut, keramik merupakan komoditas mewah layaknya “harta karun” yang bernilai tinggi. Dinasti Tang masif mengekspor produk ini melalui jalur laut menuju India, yang kala itu menjadi salah satu pusat perdagangan global. Jalur distribusinya biasanya membentang dari Laut China Selatan, melewati Selat Malaka, hingga ke Samudera Hindia.

Namun, kapal yang karam di perairan Cirebon ini memiliki identitas yang unik. Berdasarkan riset Eka Asih, kapal tersebut bukan berasal dari Arab atau Tiongkok, melainkan kapal asli wilayah Nusantara. Hal ini diperkuat melalui rekonstruksi arkeologis yang membandingkan temuan keramik di Cirebon dengan temuan di Sumatera Selatan.

Analisis menunjukkan bahwa jenis keramik yang ditemukan di Cirebon memiliki kesamaan identik dengan temuan di wilayah Kesultanan Palembang. Pada masa itu, ketika Dinasti Tang giat berdagang, Kerajaan Sriwijaya pun sedang berada di puncak kejayaannya. Aktivitas ekonomi Sriwijaya sangatlah kuat dan jangkauan perdagangannya telah sampai ke daratan Tiongkok.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, para ahli menyimpulkan bahwa kapal Nusantara ini mengangkut komoditas keramik Tiongkok dari Sumatera Selatan untuk diperdagangkan menuju wilayah pantai utara Jawa bagian timur. Naas, sebelum sampai di tujuan, kapal tersebut karam di perairan Cirebon dan terkubur di dasar laut selama seribu tahun lebih. Peristiwa bersejarah ini kini dikenal secara global dalam dunia arkeologi sebagai Cirebon Wreck.

Hasil temuan ini menegaskan bahwa perdagangan maritim di Nusantara pada masa Dinasti Tang sangat luas dan melibatkan barang-barang mewah dari Tiongkok. Penemuan ini juga menunjukkan bahwa kapal lokal mampu menyalurkan barang tersebut ke pelabuhan di Jawa, sekaligus menyoroti jaringan perdagangan yang melintasi wilayah Asia Tenggara. Dengan nilai harta karun yang mencapai ratusan miliar rupiah, penemuan ini menjadi bukti nyata tentang kekayaan sejarah maritim Indonesia yang belum sepenuhnya terungkap.

Cirebon WreckKeramik TiongkokHarta KarunKapalan KaramSriwijayaDinasti TangPerdagangan Maritim

Komentar

Memuat komentar...