Niven Hopkins, 26, Menghadapi Gagal Ginjal Akhir Asam Urat

Eko P. · 2 min baca · 1 jam lalu · 20 dibaca
Bisik.id
Niven Hopkins, 26, Menghadapi Gagal Ginjal Akhir Asam Urat

Gambar atau konten salah?

Niven Hopkins, seorang pria berusia 26 tahun, menganggap tubuhnya selalu dalam kondisi prima. Ia rutin ke gym, berlari, dan bekerja di bidang teknik yang menuntut tenaga fisik tinggi.

Namun, pada suatu malam di bulan Juni 2024, keadaan berubah drastis. Setelah pulang kerja, kaki Niven tiba‑tiba terasa sangat nyeri, seolah jari kakinya patah meski tidak pernah membentur apapun.

Keesokan paginya, ia terbangun dengan kaki membengkak, memerah, dan rasa sakit yang luar biasa. Dokter mendiagnosis serangan asam urat parah, suatu kondisi yang tampak aneh karena Niven jarang mengonsumsi alkohol.

Setelah menjalani tes darah, dokter mengizinkan Niven pulang. Beberapa hari kemudian, saat berlibur bersama teman‑temannya di Lake District, Inggris, ponselnya berdering pada pukul 4 pagi.

Rumah sakit memintanya datang segera. Hasil tes darah menunjukkan gagal ginjal. “Saya ingat berpikir, ini tidak mungkin benar. Pasti ada kesalahan,” kata Niven, yang dikutip dari Newsweek.

Pemeriksaan genetik lanjutan mengonfirmasi bahwa Niven mengidap kondisi langka yang diturunkan secara genetik. Ibunya sendiri tercatat pernah menjalani dua kali transplantasi ginjal.

Seiring waktu, kondisi Niven memburuk hingga ia didiagnosis menderita penyakit ginjal stadium 4. Kini, kondisinya telah berkembang menjadi stadium 5, yaitu stadium akhir.

Berikut sederet gejala awal gagal ginjal yang sempat diabaikan oleh Niven:

  • Kelelahan Kronis: Niven selalu merasa lelah, namun ia menganggapnya normal akibat jadwal kerja yang padat dan intensitas latihan fisik yang tinggi.
  • Urine Berbusa: Gelembung yang tidak cepat hilang pada urine menjadi indikasi awal kebocoran protein akibat fungsi ginjal terganggu.
  • Sakit Punggung: Rasa nyeri di punggung sempat dirasakannya dalam waktu lama, namun ia menduganya sebagai cedera otot biasa akibat mengangkat beban atau berlari.
  • Kabut Otak (Brain Fog): Niven sering kehilangan fokus saat menulis email atau mendadak lupa apa yang sedang dibicarakan di tengah percakapan.

Kini, di usianya yang menginjak 28 tahun, hidup Niven berubah total. Setiap malam, ia harus terhubung ke mesin dialisis selama sembilan jam saat tidur melalui metode Automated Peritoneal Dialysis (APD). Sebuah selang khusus dipasang di perutnya untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah rusak.

“Setiap bangun tidur, saya harus memeriksa berat badan, memantau tekanan darah, dan minum obat sepanjang hari,” tuturnya.

“Setiap malam, ia harus terhubung ke mesin dialisis selama sembilan jam saat tidur melalui metode Automated Peritoneal Dialysis (APD).”

Meskipun masih bisa berolahraga dan berkumpul bersama teman‑teman setelah sesi dialisis selesai, tantangan terberat yang dihadapi Niven adalah rasa lelah yang tidak menentu. Di beberapa pagi, ia sering kali terbangun dengan tubuh yang luar biasa lemas, seolah mengalami hangover berat.

Niven mengaku sempat merasa terisolasi karena narasi atau informasi seputar penyakit ginjal di internet mayoritas mendeskripsikan pasien usia lanjut. Hal ini mendorongnya untuk aktif membagikan kisahnya di media sosial guna meningkatkan kesadaran anak muda akan pentingnya deteksi dini.

Dengan kondisi yang terus menurun, Niven kini harus menyesuaikan hidupnya dengan rutinitas dialisis, pengawasan kesehatan harian, dan upaya menjaga energi. Kesadaran akan gejala awal, seperti kelelahan kronis, urine berbusa, sakit punggung, dan kabut otak, menjadi kunci penting bagi orang muda yang mungkin menghadapi risiko serupa.

Gagal ginjalDialisis peritoneal otomatisPenyakit ginjalGejala awalAsam uratKondisi genetikKesadaran kesehatan

Komentar

Memuat komentar...