Nyak Sandang 100 Tahun, Penyumbang Pesawat RI Pertama, Meninggal

Dewi M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
Nyak Sandang 100 Tahun, Penyumbang Pesawat RI Pertama, Meninggal

Gambar atau konten salah?

Nyak Sandang, yang berusia 100 tahun, meninggal dunia di rumahnya di Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, pada 07 April 2026. Ia dikenal sebagai salah satu penyumbang utama pembelian pesawat RI pertama, Seulawah RI-001, yang kemudian menjadi cikal bakal Garuda Indonesia.

Di tahun 1950, Nyak Sandang menyumbangkan satu petak sawah seharga Rp 100 untuk membeli pesawat yang akan digunakan dalam perjuangan bangsa. Ia masih mengingat dengan jelas proses penggalangan dana tersebut, termasuk langkah-langkah yang diambil oleh masyarakat setempat.

Inisiatif pembelian pesawat dimulai setelah Gubernur Aceh dan Gubernur Militer pada masa itu, Abu Daud Beureueh, membacakan pidato di halaman masjid Calang, Aceh Jaya. Semua warga datang dengan sukacita, mendengarkan pidato yang menekankan bahwa Indonesia adalah negara milik rakyat dan setelah kemerdekaan, negara membutuhkan pesawat agar dapat berhubungan dengan luar negeri.

Selama pidato, Abu Daud Beureueh mengungkapkan bahwa ia pernah bertemu dengan Presiden Soekarno di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Setelah pidato selesai, ia mengumpulkan ulama di Aceh Jaya dan berdiskusi tentang cara mengumpulkan dana untuk membeli pesawat.

“Di sini ada satu ulama yang sangat terkenal yaitu Abu Sabang (Muhammad Idarus). Warga di sini, semua dengar apa yang dibilang sama Abu Sabang. Kalau Abu bilang kita kumpulkan uang untuk beli pesawat, semua ikut menyumbang,” kata Nyak Sandang ketika ditemui di rumahnya.

Nyak Sandang dan ayahnya kemudian menjual sepetak tanah seharga Rp 100, meskipun tanah tersebut sebenarnya bisa dijual Rp 200. Ia menjualnya dengan cepat agar segera dapat uang. Pada saat itu, ia masih berusia 23 tahun. Sebagai bukti telah menyerahkan uang, ia diberikan obligasi. Abu Daud Beureueh berjanji bahwa dalam 40 tahun, masyarakat akan menerima hadiah atau imbalan.

“Waktu itu saya bantu negara yang sudah kita pegang. Ini satu kebanggaan bagi saya bisa bantu negara. Saya ikhlas membantu. Tidak mengharap apa-apa. Kami waktu itu membantu tanpa adanya paksaan,” ungkap Nyak Sandang.

Selain menyumbang, Nyak Sandang juga berjuang melawan penjajah. Ia bertugas sebagai pasukan pengintai dan menjadi kepala kelompok. Ia bertanggung jawab penuh dalam pemantauan; bila kapal Belanda muncul, ia segera memberi tahu pasukan lain yang bertahan di Puncak Gureutee, Aceh Jaya.

Setelah kisahnya menjadi viral pada 2018, Presiden Joko Widodo mengundang Nyak Sandang ke Istana. Dalam pertemuan tersebut, ia mengajukan tiga permintaan: operasi katarak matanya, pembangunan masjid di kampungnya, serta naik haji atau umrah. Jokowi mengabulkan ketiga permintaannya.

Di Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama kepada Nyak Sandang bin Lamudin. Ia menerima penghargaan tersebut langsung di Istana Negara, Jakarta, pada 25 August 2025. Nyak Sandang hadir menggunakan kursi roda, dibantu keluarga.

Penghargaan itu diberikan karena ia dinilai berjasa besar dalam perjuangan kemerdekaan dan kemandirian transportasi udara nasional. Prabowo terlihat duduk berlutut saat menyerahkan tanda kehormatan kepada Nyak Sandang.

Keseluruhan kisah Nyak Sandang menegaskan bagaimana kontribusi kecil dari masyarakat dapat memengaruhi sejarah bangsa, sekaligus menyoroti pentingnya peran individu dalam membangun infrastruktur nasional.

Nyak SandangAceh JayaSeulawah RI-001Garuda IndonesiaAbu Daud BeureuehPresiden SoekarnoPresiden JokowiBintang Jasa Utama

Komentar

Memuat komentar...