Obesitas Vietnam Naik Pesat: Kesadaran Tinggi, Perilaku Resiko

Hendra M. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 107 dibaca
Bisik.id
Obesitas Vietnam Naik Pesat: Kesadaran Tinggi, Perilaku Resiko

Gambar atau konten salah?

Kasus obesitas di Vietnam terus meningkat. Penyebabnya adalah gaya hidup tidak sehat, seperti makan terlalu cepat, konsumsi makanan olahan, hingga minim aktivitas fisik.

Survei tahun 2025 dilakukan oleh Novo Nordisk bekerja sama dengan Decision Lab. Survei melibatkan 1.000 orang dewasa di kota besar seperti Hanoi, Ho Chi Minh City, Da Nang, Hai Phong, dan Can Tho.

Hasil survei menunjukkan bahwa 83 persen responden memahami bahwa obesitas dapat memicu komplikasi serius, seperti dislipidemia, penyakit kardiovaskular, dan diabetes. 72 persen lainnya mengetahui kaitannya dengan kanker dan infertilitas.

Meskipun tingkat kesadaran tinggi, perilaku berisiko masih banyak ditemukan. Hampir dua pertiga responden mengaku duduk lebih dari enam jam per hari. Selain itu, lebih dari sepertiga rutin mengonsumsi makanan olahan tinggi gula, garam, lemak jenuh, dan kalori kosong.

Rata‑rata konsumsi harian masyarakat mencapai 8,1 gram garam dan 46,5 gram gula bebas. Nilai ini hampir dua kali lipat dari batas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Ketergantungan pada makanan kemasan turut mendorong meningkatnya gangguan metabolik dan penyakit tidak menular, termasuk obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Masalah lain muncul dari pola pikir orang tua. Sekitar 55 persen responden lebih khawatir anak kekurangan makan dibanding kelebihan makan. Bahkan, 42 persen percaya anak gemuk adalah tanda sehat, dan 37 persen menganggap makan lebih banyak membantu pertumbuhan.

Persepsi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko obesitas sejak usia dini.

Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor utama. Menurut United Nations Population Fund, Vietnam termasuk 10 negara dengan tingkat aktivitas fisik terendah di dunia.

Data pemerintah menunjukkan sekitar 30 persen orang dewasa tidak cukup berolahraga. Kebugaran dan daya tahan fisik anak muda Vietnam masih di bawah standar internasional.

Berdasarkan laporan Atlas Obesitas Dunia 2025, Vietnam memang masih memiliki tingkat obesitas relatif rendah di Asia Tenggara. Tetapi, laju peningkatannya paling cepat, mencapai 38 persen.

Negara ini juga berada di peringkat ke-108 dari 183 negara dalam kesiapan penanganan obesitas, menandakan masih adanya kesenjangan dalam layanan kesehatan dan respons kebijakan.

Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada siswa bahkan melonjak dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir, dari 8,5 persen menjadi 19 persen, dan mencapai 26 persen di wilayah perkotaan.

Direktur Institut Gizi Nasional, Tran Thanh Duong, memperingatkan bahwa tren ini menjadi ancaman serius. Ia menyebut kelebihan berat badan dan obesitas sebagai 'bom waktu' yang dapat meningkatkan beban penyakit tidak menular di masa depan, serta berdampak pada kesehatan masyarakat dan produktivitas nasional.

Kasus obesitas di Vietnam menunjukkan bahwa kesadaran tinggi belum cukup untuk mengubah perilaku. Kurangnya aktivitas fisik, pola makan berlebihan, dan salah persepsi orang tua menambah risiko. Upaya penanganan harus melibatkan edukasi, kebijakan kesehatan, dan fasilitas olahraga yang memadai.

obesitas di Vietnamgaya hidup tidak sehatkonsumsi makanan olahanaktivitas fisik rendahsurvei 2025penyakit kardiovaskularkebijakan kesehatan

Komentar

Memuat komentar...