OJK dan BEI: Target IPO 2026 Tetap Tidak Berubah Indonesia
Gambar atau konten salah?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa tidak ada perubahan target pencatatan perdana saham atau initial public offering (IPO) sepanjang tahun 2026. Menurut data, pasar modal Indonesia tetap sepi dari gelaran IPO hingga akhir 02 April 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan tidak ada revisi target pencatatan efek hingga saat ini.
“Nggak ada. Dari penggalangan dana belum kita revisi. Kita optimis. Semoga ya. Doa kita semua kalau ada pemulihan yang cepat disertai dengan upaya reformasi yang sudah kita hadirkan momentumnya dapet. Sekarang sebenarnya kalau di pipeline itu banyak, tapi karena kondisinya. Bukan ditolak saja, tapi ada juga yang menunda karena memang timing yang dirasakan kurang pas jadi kita hargai itu,” ungkap Hasan kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, 02 April 2026.
Hasan menambahkan bahwa animo pendaftaran IPO dari calon perusahaan tercatat masih cukup signifikan. Ia menyebut akan ada IPO baru yang akan dilakukan BEI dalam waktu dekat. “Ternyata animo mendaftar untuk pernyataan efektif maupun tercatat di bursa jumlah angkanya cukup signifikan. Jadi belum ada kebutuhan untuk revisi dalam waktu dekat,” imbuhnya.
Data antrean IPO BEI per 27 Maret 2026 menunjukkan terdapat 12 calon perusahaan yang masuk dalam pipeline pencatat saham. Dari jumlah tersebut, 11 perusahaan masuk kategori aset berskala besar di atas Rp 250 miliar. Ini menunjukkan bahwa meski pasar masih sepi, ada potensi besar di balik pipeline tersebut.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengaku optimis dengan jumlah IPO yang ditargetkan. Ia menegaskan bahwa sepanjang tahun ini, BEI menargetkan 555 pencatatan efek, termasuk 50 IPO perusahaan baru. “Tentu kita harus optimis nih teman‑teman sekalian. Dengan kita meningkatkan dari sisi transparansi, kepercayaan akan meningkat. Tentu harapannya lebih banyak pihak yang melakukan investasi. Dari sisi supply side justru lebih semangat nih. Karena apa? Kalau orang sudah percaya demand side‑nya juga mendukung tentunya supply side akan menjadi lebih atraktif untuk dia masuk ke pasar,” ungkap Nyoman kepada wartawan.
Nyoman menambahkan bahwa BEI tengah memperbaiki ekosistem pasar modal Indonesia. Ia juga akan menyampaikan perkembangan IPO ke OJK sesuai dengan asumsi kondisi pasar modal saat ini. “Kita akan menyampaikan dalam waktu dekat ke OJK. Jadi kita masih menghitung untuk dengan asumsi semuanya kita yakinkan infrastruktur, terus kemudian semua rencana program kerja kita jalan. Dari sisi total efek yang dicatatkan kita lebih tinggi dari periode sebelumnya. Tentu tunggu dulu karena kita harus kirim ke OJK. Jadi kalau ingat teman‑teman sekalian, komponen dari target kita kan berbagai instrumen,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, meski belum ada perubahan target, OJK dan BEI tetap memantau kondisi pasar modal Indonesia dengan cermat. Pipeline IPO yang masih aktif dan target pencatatan efek yang ambisius menandakan harapan akan pemulihan pasar. Namun, faktor sentimen domestik dan geopolitik global tetap menjadi variabel penting yang memengaruhi kecepatan dan volume IPO di masa mendatang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
IHSG Turun 4,11% di Tengah Sesi, Rupiah Menguat
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Berita Terbaru
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Curacao masuk Piala Dunia 2026, Chong satu pemain asli
Beasiswa AGRTPS 2026: 5 Slot Buka, Pendaftaran Hingga 18 Juni
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
