OJK: Konflik Timur Tengah Tak Berpengaruh Bank Indonesia

Sinta R. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 69 dibaca
Bisik.id
OJK: Konflik Timur Tengah Tak Berpengaruh Bank Indonesia

Gambar atau konten salah?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah tidak menimbulkan dampak signifikan pada bank-bank di Indonesia. Menurut OJK, perang antara Amerika Serikat dan Iran tidak memicu aksi tarik uang massal atau bank rush di lembaga keuangan domestik.

Direktur Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menyatakan bahwa dampak langsung perbankan akibat konflik tersebut sangat kecil, baik dari sisi klaim maupun liabilitas. Ia menambahkan bahwa pengaruhnya terhadap permodalan dan likuiditas perbankan juga tidak terasa.

Data OJK per Februari 2026 menunjukkan Capital Adequacy Ratio (CAR) tetap tinggi di 25,83 %. Risiko kredit, diukur lewat Non-Performing Loan (NPL), berada di 2,17 % dengan tren coverage cadangan kredit bermasalah (CKPN) yang stabil.

Di sisi likuiditas, rasio AL/DPK dan AL/NCD masih berada di atas ambang batas 10 % dan 50 % masing‑masing. Loan‑to‑Deposit Ratio (LDR) tercatat baik di 84,72 %, berada dalam kisaran 78 %–92 %. Liquidity Coverage Ratio (LCR) perbankan mencapai 195,64 %, menunjukkan surplus likuiditas yang kuat.

“Kami memandang potensi Bank rush sangat insignifikan atau bahkan tidak ada karena situasi politik, keamanan, dan ekonomi Indonesia sangat kondusif. Bank Rush pada umumnya diakibatkan oleh isu kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan,” ujar Dian dalam keterangan tertulisnya dikutip Sabtu, 25 April 2026.

OJK menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan publik dengan memohon bank-bank untuk terus memperkuat kinerja dan manajemen risiko. OJK sendiri telah melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan risiko dan meminta perbankan melaksanakan pengelolaan risiko secara menyeluruh.

OJK juga rutin melakukan stress test, sementara perbankan melakukan tes serupa secara mandiri menggunakan skenario dan asumsi sendiri maupun yang disiapkan oleh otoritas. “Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia,” pungkas Dian.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa sistem perbankan Indonesia tetap stabil dan mampu menanggulangi potensi risiko eksternal yang muncul dari konflik global. Kinerja likuiditas dan permodalan yang kuat memberi sinyal bahwa bank-bank di Indonesia dapat melanjutkan operasi normal tanpa gangguan signifikan dari peristiwa di luar negeri.

OJKkonflik Timur Tengahperbankan IndonesiaNPLlikuiditasstress testbank rush

Komentar

Memuat komentar...