OJK Pantau Ketahanan Jasa Keuangan di Tengah Gejolak Global

Rini S. · 5 min baca · 28 hari lalu · 47 dibaca
Bisik.id
OJK Pantau Ketahanan Jasa Keuangan di Tengah Gejolak Global

Gambar atau konten salah?

OJK terus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan di tengah gejolak ekonomi global. Pada 06 Mei 2026, Ketua Dewan Komisioner Friderica Widyasari Dewi menegaskan bahwa lembaga ini melakukan pemantauan intensif untuk memastikan ketahanan industri.

"OJK melakukan pemantauan intensif untuk memastikan ketahanan sektor jasa keuangan termasuk melakukan stress test dengan berbagai skenario terhadap industri jasa keuangan serta memperkuat pengawasan lembaga jasa keuangan," kata Friderica dalam keterangan tertulis.

Ia menambahkan bahwa lembaga keuangan harus memperkuat manajemen risiko secara menyeluruh. Hal ini mencakup pelaksanaan stress testing secara berkala dan peningkatan kualitas asesmen eksposur risiko pasar serta risiko kredit.

OJK bekerja sama dengan Self‑Regulatory Organizations (SRO) untuk memantau perkembangan pasar. Kebijakan yang diambil bersifat responsif, memastikan perlindungan investor dan stabilitas sistem.

Beberapa instrumen kebijakan pasar saham tetap relevan dan masa berlakunya diperpanjang. Hal ini membantu menstabilkan pasar di tengah ketidakpastian global.

Pasar saham domestik pada April 2026 tetap dinamis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.956,80 per akhir April 2026, turun 1,30% secara month to month (mtm) atau 19,55% secara year to day (ytd).

Resiliensi dan likuiditas pasar modal secara keseluruhan tetap manageable. Rata‑rata bid‑ask spread di pasar saham domestik pada April tetap rendah, sebesar 1,33 kali, menunjukkan likuiditas yang terjaga.

Investor asing pada periode laporan mencatat net sell di saham sebesar Rp 17,02 triliun.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada akhir April 2026 ditutup pada level 436,38 atau naik 0,74% mtm. Penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) rata‑rata sebesar 3,90 basis poin (bps) mtm mencerminkan resiliensi pasar obligasi domestik.

Investor non‑residen mencatat net buy di pasar SBN sebesar Rp 8,80 triliun secara month to date (mtd) per 29 April 2026.

Pasar modal domestik terus berperan penting sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi. Hingga April 2026 (ytd), nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai Rp 56,35 triliun, dengan 71 rencana Penawaran Umum dalam pipeline.

Untuk penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF), total nilai dana dihimpun telah mencapai Rp 1,93 triliun.

Di pasar derivatif keuangan, volume transaksi secara akumulatif mencapai 143.217 lot.

Di sektor perbankan, kinerja intermediasi tumbuh positif dengan profil risiko tetap terjaga. Pada maret 2026, kredit tumbuh sebesar 9,49% yoy menjadi Rp 8.659 triliun, meningkat dibandingkan posisi februari 2026 yang tumbuh 9,37% yoy.

Menurut jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh tertinggi, yaitu sebesar 20,85%. Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh tertinggi, yaitu sebesar 14,88% yoy, sementara kredit UMKM menunjukkan perbaikan dengan tumbuh positif sebesar 0,12% yoy (Februari: terkontraksi 0,56% yoy).

Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi, yaitu sebesar 13,66% yoy.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,55% yoy (Februari 2026: 13,18% yoy) menjadi Rp 10.231 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 21,37% yoy, 11,57% yoy, dan 8,36% yoy.

Likuiditas industri perbankan pada maret 2026 tetap memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non‑Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 122,55% (Februari 2026: 121,29%) dan 27,85% (Februari 2026: 27,4%) dan masih di atas threshold masing‑masing sebesar 50% dan 10%.

Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 193,64%, sedangkan Net Stable Funding Ratio (NSFR) berada di level 128,84%.

Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,14% (Februari 2026: 2,17%) dan NPL net terjaga di 0,83% (Februari 2026: 0,83%). Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,94% (Februari 2026: 9,24%). Secara umum, tingkat profitabilitas bank (ROA) sebesar 2,47% (Februari 2026: 2,37%).

Setelah memperhitungkan pembagian dividen, indikator permodalan (CAR) tercatat sebesar 25,09% (Februari 2026: 25,83%), menandakan ketahanan permodalan perbankan yang kuat sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai.

Di sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun (PPDP), kinerja secara umum tetap stabil dan terjaga, didukung oleh tingkat solvabilitas agregat yang tinggi. OJK terus mendorong optimalisasi peran serta peningkatan kinerja industri PPDP, dengan tetap memperkuat ketahanan dalam menghadapi dinamika perekonomian.

Untuk industri asuransi, aset industri asuransi pada maret 2026 mencapai Rp 1.195,75 triliun atau naik 4,38% yoy. Dari sisi asuransi komersil, total aset mencapai Rp 977,53 triliun atau naik 5,64% yoy.

Kinerja asuransi komersil berupa akumulasi pendapatan premi pada periode maret 2026 mencapai Rp 88,36 triliun, atau tumbuh 0,74% yoy, terdiri dari premi asuransi jiwa yang turun 0,14% yoy dengan nilai sebesar Rp 47,12 triliun, dan premi asuransi umum dan reasuransi yang tumbuh sebesar 1,77% yoy dengan nilai sebesar Rp 41,24 triliun.

Permodalan industri asuransi jiwa serta asuransi umum dan reasuransi secara agregat mencatatkan Risk Based Capital (RBC) masing-masing sebesar 474,26% dan 316,32% (di atas threshold sebesar 120%).

Di sisi industri dana pensiun, total aset dana pensiun per maret 2026 tumbuh sebesar 10,49% yoy dengan nilai mencapai Rp 1.684,89 triliun. Untuk program pensiun sukarela, total aset mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,71% yoy dengan nilai mencapai Rp 408,82 triliun.

Di sektor perusahaan modal ventura, lembaga keuangan mikro, dan lembaga jasa keuangan lainnya (PVML), piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) tumbuh sebesar 0,61% yoy pada maret 2026 menjadi Rp 514,09 triliun, didukung peningkatan pembiayaan modal kerja sebesar 6,15% yoy.

Profil risiko Perusahaan Pembiayaan terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,83% dan NPF net sebesar 0,8%. Gearing ratio PP tercatat sebesar 2,17 kali dan berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.

Pembiayaan modal ventura pada maret 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,95% yoy, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp 16,57 triliun.

Di industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding pembiayaan pada maret 2026 tumbuh 26,25% yoy, dengan nominal sebesar Rp 101,03 triliun. Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) dalam kondisi terjaga di posisi 4,52%.

Terkait dengan perkembangan aktivitas aset kripto di Indonesia, per maret 2026, jumlah konsumen mencapai 21,37 juta konsumen (tumbuh 1,43% mtd). Sementara itu, pada maret 2026 nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp 22,24 triliun dan nilai transaksi derivatif aset keuangan digital (AKD) tercatat sebesar Rp 5,80 triliun. Di tengah fluktuasi nilai transaksi yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital termasuk aset kripto Indonesia masih terjaga dengan baik.

Secara keseluruhan, OJK terus melakukan pengawasan ketat dan mendorong lembaga keuangan untuk memperkuat manajemen risiko. Pasar modal, perbankan, asuransi, dan sektor fintech tetap menunjukkan kinerja yang stabil, meski menghadapi ketidakpastian global. Kebijakan yang diambil berfokus pada penguatan likuiditas, kualitas kredit, dan solvabilitas, memastikan sistem keuangan Indonesia tetap resilient.

OJKstress testlikuiditas pasar modalkreditasuransiaset kriptoNPL

Komentar

Memuat komentar...