Omah Balung di Makam Peneleh: Warisan Tua yang Berlumut
Gambar atau konten salah?
Omah Balung adalah bangunan tua yang terletak di antara deretan nisan di Makam Peneleh Surabaya. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan tulang-belulang jenazah yang tidak dikenal. Menurut Fahmi Lazuardi, pemandu makam, tulang yang disimpan di Omah Balung berasal dari Mr. X atau jenazah yang tidak teridentifikasi akibat pemindahan makam lama di Krembangan.
"Ini untuk tempat penyimpanan Mr. X atau yang nggak diketahui identitase sama beberapa pindahan dari Krembangan," jelas Fahmi pada hari Jumat, 10 April 2023. Tulang-tulang tersebut dikumpulkan dan ditempatkan di dua lubang penyimpanan di dalam bangunan. Namun, ada versi lain yang menyatakan bahwa Omah Balung sempat digunakan dalam sistem makam sewa yang diterapkan di Makam Peneleh.
Kuncarsono Prasetyo, seorang pengamat sejarah dari Begandring Soerabaia, menjelaskan bahwa sistem makam sewa muncul karena keterbatasan lahan pemakaman pada abad ke-19. "Jadi Peneleh pada tahun 1800-an itu sudah terbatas lahan makam, sehingga sempat menggunakan makam sewa. Jadi digunakan di lahan makam tidak permanen. Jika keluarga tidak melanjutkan sewa, jenazahnya dibongkar dan tulang-tulangnya dikumpulkan dijadikan satu di ruangan khusus, di omah balung itu," urai Kuncar.
Bangunan Omah Balung kini jauh berbeda dari bentuk aslinya. Dulu, bangunan ini memiliki gaya klasik Eropa dengan empat pilar megah dan atap bak rumah mewah. Saat ini, Omah Balung tidak lagi memiliki atap; hanya tersisa tembok yang mengelilingi dan satu pilar di sisi kiri bangunan. Tempat peristirahatan bagi jenazah yang tidak diketahui identitasnya kini tertutup lumut dan dihiasi tanaman rambat. Begitu pula dengan dua lubang penyimpanan tulang di dalamnya. Saat pengunjung hendak melihat isi lubang, mereka harus menyingkap tanaman rambat terlebih dahulu. Sayangnya, kondisi di dalam lubang tertutup sampah dan reruntuhan bangunan. Sisa-sisa tulang tidak terlihat jelas karena tertimbun material yang jatuh akibat usia.
Selain Omah Balung, beberapa makam di kompleks juga tampak rusak. Sejumlah nisan maupun keramik makam terlihat berlubang di bagian atas maupun bawah makam. Salah satu makam yang tidak lagi memiliki tulisan identitasnya pada nisan bahkan harus ditutup oleh lembaran aluminium berkarat agar air hujan tidak masuk ke liang kuburnya.
Fahmi menjelaskan bahwa perbaikan tidak dapat sembarang dilakukan karena harus melalui persetujuan keluarga almarhum. "Ini bolong karena usia, nggak boleh dipugar juga. Karena bentuknya harus sama kalau mau dibangun ulang," ucapnya. Selain usia, faktor lain yang menyebabkan beberapa makam rusak adalah peristiwa penjarahan yang sempat terjadi pada era 1970-an. Hendra, seorang pegawai sejarah, menjelaskan bahwa beberapa jenazah dikuburkan bersamaan dengan perhiasan atau barang berharga milik mendiang. Hal tersebut memicu terjadinya penjarahan dan perusakan makam. "Di bawah 2015 itu bebas orang masuk, dibuat tempat tidur para homeless. Jadi sejak 1970-an terjadi penjarahan karena ada harta yang dikubur. Nisan banyak yang diambil dan dihalusin lagi terus dijual," tutur Hendra.
Meski begitu, Makam Peneleh tetap menyimpan banyak cerita. Patung-patung indah penanda makam masih banyak terjaga. Kompleks pemakaman ini sudah lama ditutup sejak 1940 dan mengukirkan 14.355 nama di nisan-nisannya. Pengunjung yang datang, baik dari dalam maupun luar negeri, umumnya hanya untuk berziarah. Mengingat di Makam Peneleh terdapat sejumlah makam tokoh penting di Surabaya, kunjungan ini sering menjadi bagian dari perjalanan spiritual.
Dalam beberapa kasus, keluarga dari jenazah yang telah dimakamkan di sana masih dapat menambahkan nama atau abu anggota keluarga lain pada makam yang sama sebagai penanda. Praktik tersebut terakhir dilakukan pada 2022. Omah Balung, meski dalam kondisi kerusakan, tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Surabaya. Ia mengingatkan kita tentang sejarah pemakaman, praktik sewa makam, dan dampak sosial yang terjadi pada masa lalu. Keterbatasan lahan, penjarahan, dan upaya pelestarian semuanya tercermin dalam bangunan yang kini berlumut dan berkarat. Peninggalan ini menegaskan bahwa sejarah tidak hanya terpatri di batu nisan, tetapi juga di bangunan yang pernah berdiri di sana.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Allo PayLater dan Allo Prime Diskon 20% di Trans Studio
Prabowo Aktifkan Bandara Husein, Bandara Kertajati Terancam
Bandara Husein Siap Kembali, Kertajati Tertinggal
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
