Oncology Summit: Terapi AHSCT & CAR‑T Mengubah Kanker Darah
Gambar atau konten salah?
Perkembangan pengobatan kanker darah di Indonesia bergerak cepat. Sejak beberapa tahun terakhir, teknologi baru membuat harapan hidup pasien semakin baik dibandingkan dekade lalu. Namun, masih banyak kendala, terutama biaya tinggi dan fasilitas yang terbatas.
Di acara The 6th Siloam Oncology Summit, Prof. William Hwang Ying Khee, MBBS, M Med, MRCP, FAMS, MBA, dan dr Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, Direktur MRCCC Siloam Hospitals, berbagi pandangan tentang dua terapi utama yang kini mulai mengubah cara dokter menghadapi kanker darah: transplantasi sel punca hematopoietik autologus (AHSCT) dan Chimeric Antigen Receptor‑T Cell (CAR‑T Cell).
Selama puluhan tahun, AHSCT menjadi standar pengobatan untuk beberapa jenis kanker darah, termasuk multiple myeloma dan limfoma. Prosedurnya dimulai dengan pengambilan sel punca darah pasien. Sel-sel ini disimpan, kemudian pasien menjalani kemoterapi dosis tinggi. Tujuannya adalah menghancurkan sel kanker sebanyak mungkin. Setelah itu, sel punca yang telah disimpan dikembalikan ke tubuh pasien untuk membantu sumsum tulang memproduksi sel darah sehat kembali.
Menurut Prof. William, kemoterapi konvensional seringkali tidak cukup. Sel kanker dapat kembali muncul setelah terapi selesai atau tetap bertahan meski sudah diberikan pengobatan. Untuk memastikan sel kanker benar-benar hancur, dokter kadang harus menggunakan dosis tinggi yang berisiko merusak sel punca sumsum tulang. Di sinilah transplantasi sel punca menjadi penting, karena sel yang disimpan dapat memperbaiki sistem pembentukan darah setelah terapi agresif.
Di sisi lain, terapi CAR‑T Cell menonjol sebagai imunoterapi modern. Prosesnya mirip dengan AHSCT, namun sel yang dimodifikasi adalah sel T pasien. Sel T diambil dari darah, lalu dimodifikasi di laboratorium agar dapat mengenali sel kanker secara spesifik. Setelah diperbanyak, sel tersebut dimasukkan kembali ke tubuh untuk menyerang sel kanker. Prof. William menggambarkan terapi ini seperti melatih “pasukan polisi” tubuh agar dapat mengenali musuh dengan lebih tepat.
Hasil CAR‑T Cell sudah menunjukkan potensi besar pada limfoma, leukemia, dan multiple myeloma. Keunggulan utamanya adalah pendekatan yang sangat personal: terapi dibuat berdasarkan sel imun pasien sendiri. Pada kasus kanker darah yang resisten terhadap kemoterapi atau mengalami kekambuhan cepat, CAR‑T Cell dapat memberikan peluang remisi jangka panjang.
Namun, dr Adityawati menegaskan bahwa di Indonesia, terapi CAR‑T Cell masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi biaya dan aksesibilitas. Meskipun CAR‑T Cell dianggap terobosan besar, para ahli setuju bahwa terapi ini belum sepenuhnya menggantikan transplantasi sel punca autologus. Kedua terapi saling melengkapi, tergantung jenis kanker, kondisi pasien, risiko kekambuhan, dan respons terhadap terapi sebelumnya.
Pasien yang merespon kemoterapi dengan baik tetap dapat memanfaatkan transplantasi sel punca. Tetapi bagi pasien yang tidak responsif atau mengalami kekambuhan dalam waktu kurang dari 12 bulan, CAR‑T Cell menjadi pilihan terbaik. Dengan demikian, dokter dapat menyesuaikan strategi berdasarkan profil pasien.
Perkembangan terapi ini membawa harapan hidup pasien lebih baik dibandingkan beberapa dekade lalu. Sekitar 60 tahun yang lalu, pasien limfoma memiliki peluang hidup sangat rendah. Saat ini, sebagian besar kasus limfoma bahkan dapat mencapai tingkat kesembuhan hingga 80‑90 persen. Hal ini disebabkan oleh kombinasi kemajuan teknologi, precision medicine, dan terapi yang lebih personal.
Pengobatan kanker sekarang tidak hanya fokus pada panjangnya masa hidup, tetapi juga kualitas hidup pasien. Namun, di Indonesia masih ada tantangan besar. Pemerataan fasilitas dan sumber daya manusia menjadi kendala utama. Tanpa tenaga kesehatan yang terampil, alat canggih tidak akan maksimal. Oleh karena itu, forum seperti The 6th Siloam Oncology Summit sangat penting sebagai tempat berbagi ilmu dan pengalaman antar tenaga medis dari berbagai negara.
Menurut dr Adityawati, tenaga kesehatan di Indonesia perlu terus belajar dari pusat kanker dunia yang sudah lebih maju. “Perkembangan penanganan kanker sangat cepat dan tenaga kesehatan di Indonesia perlu terus belajar dari pusat kanker dunia yang sudah lebih maju,” ujarnya.
MRCCC Siloam Semanggi, atau Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center, adalah rumah sakit rujukan kanker di Indonesia dan Asia Tenggara. Dengan pendekatan Multidisciplinary Team (MDT), MRCCC memastikan pasien mendapatkan penanganan terintegrasi sesuai kebutuhan. Layanan ini mencakup deteksi dini hingga pengobatan kanker secara menyeluruh. Komitmen Siloam adalah menyediakan layanan kesehatan berkualitas tanpa harus pergi ke luar negeri.
Di akhir sesi interview, Prof. William mengingatkan pasien agar tidak langsung takut ketika mendengar kata kanker atau transplantasi. “Kanker bukan akhir dari segalanya. Banyak pasien sudah melewati proses ini dan menjadi survivor jangka panjang. Selalu ada harapan,” tutup Prof. William.
Dengan adanya terapi AHSCT dan CAR‑T Cell, serta fasilitas seperti MRCCC Siloam Semanggi, harapan hidup pasien kanker darah semakin cerah. Meskipun masih ada kendala biaya dan akses, kemajuan medis terus membuka pintu bagi pasien untuk mendapatkan pengobatan yang lebih personal dan efektif. Seiring waktu, kombinasi teknologi modern dan tenaga kesehatan yang terampil akan memperkuat sistem penanganan kanker di Indonesia, memberikan peluang hidup yang lebih baik bagi setiap pasien.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
