Orang Tua Siap Bantu Gen Z Miliki Rumah Pertama Saat Harga Naik

Endah K. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 122 dibaca
Bisik.id
Orang Tua Siap Bantu Gen Z Miliki Rumah Pertama Saat Harga Naik

Gambar atau konten salah?

Generasi Z, atau yang dikenal dengan Gen Z, kini mulai memikirkan rumah pertama mereka. Mereka yang lahir antara 1997 dan 2002 sudah banyak yang bekerja dan memiliki penghasilan tetap, sehingga diproyeksikan bisa membeli hunian pertama.

Namun, harga rumah yang terus naik dan kondisi ekonomi global yang tidak stabil membuat banyak Gen Z ragu untuk membeli. Sebagian besar memilih tinggal di kontrakan karena lebih murah daripada harus mengambil cicilan KPR.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Mereka mencari cara agar anaknya bisa memiliki hunian yang nyaman dan aman di masa depan.

Tren baru muncul: orang tua rela membayarkan cicilan KPR agar anaknya bisa tinggal di rumah baru. Studi baru yang dilaporkan oleh Fortune, hasil survei perusahaan jasa keuangan Northwestern Mutual, mengungkapkan bahwa orang tua mulai turun tangan agar anaknya, khususnya Gen Z, dapat memiliki hunian.

Perusahaan tersebut melakukan survei online kepada lebih dari 4.300 responden di Amerika Serikat. Survei yang dilakukan pada 01 Januari 2026 menunjukkan banyak orang tua yang masih peduli terhadap anaknya dan siap membantu secara finansial.

Hasilnya, 52 % responden yang merupakan orang tua menyatakan terbuka untuk membantu anak mereka membeli rumah. 22 % responden lainnya mengatakan telah turun tangan membantu anaknya supaya bisa memiliki hunian impian, salah satunya dengan membayarkan cicilan KPR sesuai tenor.

Menariknya, 29 % orang tua lebih memilih membantu anaknya agar bisa memiliki rumah daripada membiayai mereka kuliah di universitas ternama. Sedangkan 55 % responden mengatakan baik memiliki rumah dan pendidikan sama pentingnya.

“Banyak dari gelar‑gelar ini mungkin tidak lagi seberharga dan sepenting dulu,” ujar Ed Amos, penasihat manajemen kekayaan di Northwestern Mutual.

Amos menyebut Gen Z saat ini berada dalam kondisi genting. Total kekayaan mereka tak sebanding dengan orang tua mereka, yang merupakan Generasi Baby Boomer dan Generasi X.

Menurut data Federal Reserve, generasi Baby Boomer di AS saat ini memiliki aset lebih dari US$ 86 triliun, menjadikan generasi paling kaya sepanjang masa. Sedangkan banyak Generasi X di AS memiliki aset mencapai US$ 44 triliun.

Selain tidak memiliki kekayaan sebanyak orang tua, kondisi ekonomi saat ini juga tidak stabil. Harga bensin hingga bahan pokok terus melonjak membuat biaya hidup semakin mahal.

Dulu, usia rata‑rata pembeli rumah pertama berada di rentang 30‑an tahun. Namun, satu dekade kemudian usia rata‑rata pembeli pertama berada di 40‑an tahun.

Harga rumah yang terus naik juga menjadi alasan bagi Gen Z sulit memiliki hunian. Untuk harga rumah rata‑rata di AS saat ini mencapai lebih dari US$ 410 ribu atau sekitar Rp 6,9 miliar (kurs Rp 16.956).

Amos memprediksi semakin banyak Gen Z yang kesulitan membeli rumah secara mandiri di masa depan. Meski sudah memiliki pekerjaan yang mapan, tetap tidak menjamin Gen Z tertarik untuk memiliki hunian.

“Akses bagi karyawan tingkat pemula yang baru lulus kuliah dan ingin membeli rumah pertama mereka angkanya semakin berkurang,” ujar Amos.

“Kini, semakin sulit bagi generasi muda terutama Gen Z untuk membeli rumah dengan melakukannya sendiri,” tambahnya.

Dengan fakta tersebut, terlihat bahwa pergeseran pola keuangan keluarga di AS menandai peran orang tua yang semakin aktif membantu anak mereka memperoleh rumah. Hal ini mencerminkan perubahan prioritas generasi, di mana kepemilikan rumah menjadi fokus utama bagi banyak keluarga, meski tantangan ekonomi membuatnya semakin sulit dicapai.

Generasi Zrumah pertamaKPRorang tua membantuharga rumah naikekonomi global tidak stabilbiaya hidup meningkat

Komentar

Memuat komentar...