Oxford Kembangkan Vaksin Ebola, Uji Manusia 2‑3 Bulan di Indonesia

Arif S. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Oxford Kembangkan Vaksin Ebola, Uji Manusia 2‑3 Bulan di Indonesia

Gambar atau konten salah?

Para ilmuwan di Universitas Oxford sedang mengerjakan vaksin baru yang mungkin dapat diuji pada manusia dalam waktu dua hingga tiga bulan. Vaksin ini ditujukan untuk menanggulangi wabah Ebola yang kini menjadi perhatian global.

Di Republik Demokratik Kongo, telah terdaftar setidaknya 750 kasus dan 177 kematian akibat Ebola. Penyakit ini berasal dari Bundibugyo virus disease (BVD), yang menambah kekhawatiran dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan wabah Ebola sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), menandai tingkat ancaman yang tinggi.

“Ada kemungkinan dosis vaksin tersebut tersedia untuk uji klinis dalam dua hingga tiga bulan, tetapi masih banyak ketidakpastian,” kata seorang juru bicara dalam eksperimen tersebut.

Meski demikian, para peneliti belum dapat menjamin efektivitas vaksin ini. Penelitian pada hewan dan uji coba pada manusia masih diperlukan untuk memastikan vaksin bekerja dengan baik.

Para ilmuwan bekerja dengan cepat, menyiapkan langkah-langkah jika situasi wabah memburuk dan vaksin eksperimental menjadi sangat dibutuhkan.

Selain vaksin ini, ada juga vaksin eksperimental Bundibugyo lain yang sedang dikembangkan. Diperkirakan akan memakan waktu enam hingga sembilan bulan sebelum dosis siap diuji.

Vaksin yang dikembangkan di Inggris memakai teknologi yang sama dengan yang digunakan selama pandemi COVID‑19, yakni ChAdOx1. Teknologi ini merupakan adenovirus yang dimodifikasi agar dapat membawa kode genetik virus target.

Selama pandemi COVID‑19, virus ini diberi kode genetik virus SARS‑CoV‑2. Kali ini, kode genetik yang dimasukkan berasal dari virus Bundibugyo Ebola.

Vaksin ini menggunakan virus flu biasa yang biasanya menginfeksi simpanse, namun telah dimodifikasi secara genetik agar aman bagi manusia. Virus flu yang dimodifikasi ini berfungsi sebagai pengantar, membawa materi genetik penting tentang Ebola ke dalam sel.

Sel yang menerima materi genetik tersebut kemudian belajar mengenali dan melawan virus Ebola Bundibugyo. Vaksin ini tidak menimbulkan infeksi atau gejala Ebola, melainkan melatih sistem kekebalan tubuh untuk siap menghadapi penyakit tersebut.

Dengan pendekatan ini, para peneliti berharap dapat mempercepat pengembangan vaksin yang dapat melindungi populasi dari potensi wabah Ebola yang lebih luas. Vaksin ini masih dalam tahap pengujian, namun potensi waktunya menunjukkan upaya cepat dalam menangani krisis kesehatan global.

vaksin EbolaUniversitas OxfordBundibugyo virusChAdOx1PHEICWHOCOVID-19

Komentar

Memuat komentar...