Pedagang Cari Alternatif Kantong Plastik Karena Harga Naik
Gambar atau konten salah?
Penggunaan kantong plastik masih menjadi pilihan utama para pedagang. Bahan ini cukup kuat, tersedia dalam berbagai ukuran, dan harganya terjangkau. Namun, belakangan ini harga plastik mengalami kenaikan tajam.
Menurut keterangan Reuters, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat mengganggu distribusi minyak dan bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik dan polimer. Dampaknya, harga plastik, terutama yang berasaskan bahan dari Timur Tengah, melonjak.
Di Indonesia, kenaikan harga plastik terasa nyata karena masih mengandalkan bahan baku impor. Kenaikan ini bahkan mencapai 50 %. Sebagai contoh, harga plastik kresek yang dulu Rp 10.000 per pak kini naik menjadi Rp 15.000.
Untuk mengatasi masalah ini, pedagang dapat beralih ke bahan kemasan lain. Selain lebih murah, beberapa alternatif juga lebih ramah lingkungan. Berikut sembilan pilihan pengganti kantong plastik beserta kelebihan dan kekurangannya.
1. Bioplastik
Bioplastik adalah material mirip plastik yang dibuat dari sumber terbarukan. Menurut artikel The Future of Bioplastics in Food Packaging: An Industrial Perspective oleh Ghasemlou dkk, bioplastik dapat terbuat dari pati (thermoplastic starch/TPS), polylactic acid (PLA), dan PBAT. Tampilan dan kekuatan bioplastik mendekati plastik konvensional.
Meski namanya bioplastik, tidak semua jenis mudah terurai. Biasanya, bioplastik yang mudah terurai adalah yang berbahan pati, PLA, atau PBAT. Kekurangannya, masa penyimpanan cenderung lebih pendek dibanding plastik biasa, dan harganya saat ini lebih mahal.
2. Kantong Kertas
Kantong kertas merupakan alternatif yang mudah terurai, dapat dipakai ulang, dan umumnya dapat didaur ulang. Ukurannya bervariasi dan harganya masih terjangkau, tergantung ketebalan dan jenis kertas.
Kekurangannya, kantong kertas tidak tahan air sehingga hanya cocok untuk barang kering. Tanpa lapisan plastik, kantong kertas lebih mudah robek. Selain itu, proses produksi kertas memerlukan energi besar, sehingga tidak sepenuhnya ramah lingkungan.
3. Goodie Bag (Tas Kain)
Goodie bag atau tas kain kini banyak dipakai oleh restoran dan supermarket. Bahan tas ini cukup kuat dan dapat menampung banyak barang. Harganya tergantung ukuran dan bahan.
Kekurangannya, beberapa bahan seperti polipropilena sulit terurai. Untuk memberikan dampak lingkungan yang baik, satu goodie bag harus dipakai setidaknya puluhan kali. Penggunaan tas ini sebaiknya disertai edukasi kepada konsumen agar tas dipakai berulang, bukan sekali pakai.
4. Besek
Besek adalah kerajinan lokal Indonesia yang terbuat dari bambu tali (Gigantochloa apus). Bambu dipotong, diiris tipis, lalu dianyam menjadi kotak. Besek kuat, ramah lingkungan, dan harganya masih terjangkau.
Namun, besek sulit dibawa karena berbentuk kotak tanpa tali. Pedagang perlu mempertimbangkan cara membawa besek, misalnya dengan menambahkan tali atau menggunakan keranjang.
5. Bongsang
Bongsang juga terbuat dari bambu dan memiliki bentuk mirip keranjang dengan lubang anyaman lebih lebar daripada besek. Bongsang biasa dipakai sebagai wadah tahu Sumedang, buah, ubi, dan barang serupa.
Bongsang lebih mudah dibawa daripada besek, namun tidak cocok untuk barang kecil. Solusinya, pedagang dapat menambahkan alas kertas di dalam bongsang sebelum memuat barang.
6. Daun Pisang
Daun pisang adalah pembungkus ramah lingkungan yang populer. Di Indonesia, daun pisang sering dipakai membungkus tempe, lontong, lemper, dan makanan lainnya. Daun ini mudah ditemukan dan menambah aroma sedap pada makanan.
Daun pisang dapat dibentuk menjadi berbagai wadah, seperti pincuk. Pincuk menyerupai mangkuk dan dikunci dengan tusuk gigi atau potongan bambu di ujungnya. Selain makanan, daun pisang juga cocok membungkus barang berukuran lebih besar.
Di Chiang Mai, Thailand, salah satu supermarket menggunakan daun pisang. Cara penggunaannya: lipat lembaran daun, bungkus sayur atau buah, lalu ikat bagian tengah dengan tali bambu.
7. Daun Jati
Daun jati sering dipakai sebagai pembungkus makanan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kelebihannya, daun jati kuat dan tahan lama. Namun, ukurannya tidak terlalu besar, sehingga memerlukan beberapa lembar untuk membungkus satu barang.
Pedagang perlu memilih daun jati yang masih muda (sekitar dua minggu), berwarna hijau muda, dan tidak berlubang. Daun jati juga memerlukan perawatan agar tidak cepat rusak.
8. Daun Talas
Daun talas menjadi alternatif pembungkus makanan di Sumatera. Daun ini cukup kuat, sehingga cocok untuk makanan berat. Untuk penggunaan, pilih daun talas yang sudah tua dengan diameter 15–20 cm.
Daun talas biasanya lebih tebal dan tidak mudah robek, namun memerlukan waktu persiapan agar tidak mengering.
9. Kulit Jagung
Kulit jagung atau klobot adalah bahan kemasan yang mudah didapat, murah, dan mudah terurai. Bahan ini biasa dipakai membungkus makanan tradisional seperti dodol dan wajik.
Kurangannya, ukuran kulit jagung kecil, sehingga perlu diolah terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pembungkus. Proses pengolahan meliputi pemotongan dan pengeringan.
Dengan adanya sembilan alternatif ini, pedagang memiliki banyak pilihan untuk mengganti kantong plastik yang harganya sedang naik drastis. Setiap bahan memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga pemilihan harus disesuaikan dengan jenis barang yang dibungkus, volume penjualan, dan kebijakan lingkungan yang diinginkan.
Semoga informasi ini membantu para pelaku usaha dalam memilih kemasan yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
