Pedagang Pasar Jakarta Beban Tinggi Harga Plastik 2026

Sigit W. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 111 dibaca
Bisik.id
Pedagang Pasar Jakarta Beban Tinggi Harga Plastik 2026

Gambar atau konten salah?

Di pasar tradisional Jakarta, pedagang mulai menolak kantong plastik. Langkah ini diambil untuk menurunkan biaya tetap usaha, karena harga plastik melonjak akibat konflik di Timur Tengah.

Para pedagang, terutama yang menjual makanan atau mengelola kantin, merasakan dampak langsung. Harga plastik yang biasa dibeli menambah modal mereka secara signifikan.

Bagas, penjual bakmi Jawa di Pasar Gondangdia, sering membeli wadah makanan plastik atau thinwall untuk pelanggan yang membawa pulang. Ia mengaku bahwa kenaikan harga mulai terasa sekitar dua minggu lalu, namun saat itu belum sebesar sekarang.

“Sekarang parah sih, biasa beli Rp 20.000 - 25.000, sekarang Rp 40.000,” kata Bagas ketika membeli thinwall pada Kamis, 09 April 2026.

Untuk mengimbangi biaya, Bagas menambahkan tarif Rp 2.000 per bungkus bagi pelanggan yang membeli dan membawa pulang. Sedangkan bagi yang makan di tempat, harga tetap sama.

“Ya paling kita tambah Rp 2.000 buat yang dibungkus, kalau makan di tempat masih sama,” ujarnya singkat.

Naya, pemilik warung nasi dekat Stasiun Gondangdia, juga mengalami kenaikan harga. Ia membeli wadah styrofoam yang harganya naik.

“Ini (styrofoam) naik juga lah. Ini yang isi 100 biasanya Rp 30.000, ini Rp 40.000,” ucap Naya.

Warungnya juga sering memakai thinwall untuk bungkus makanan dalam jumlah banyak. Styrofoam hanya dipakai untuk pesanan yang akan dibagikan di jalan.

“Kalau styrofoam buat besok, buat berbagi doang. Kalau dibungkus biasa tetap pakai thinwall. Aku thinwall biasanya kan beli online. Biasanya dulu Rp 37.000, sekarang jadi Rp 54.000 - 55.000,” terangnya.

Situasi ini membuat Naya bingung. Kenaikan harga modal plastik tidak bisa diikuti dengan kenaikan harga jual, takut pelanggan pindah ke warung lain.

“Bingung mau naikin harga. Karena customer itu kan mereka cari perbandingan harga gitu loh. Tapi itu plastik naik Rp 6.000 sekarang. Kantong plastik (kresek) sedang yang putih kayak gini tuh Rp 20.000. Dulu Rp 14.000, naik Rp 6.000. Gelas buat minum kayak es teh manis gitu sekarang jadi Rp 22.000, dulu kita beli Rp 18.000,” tutur Naya.

Ia memikirkan strategi bertahap. “Serba salah kitanya, mau dinaikin dilema, nggak dinaikin dilema. Ya kalau gini terus bertahap lah naiknya, pelan-pelan,” ucapnya.

Di luar, pelanggan juga mencari cara menghemat. Beberapa membeli plastik kresek dengan harga lebih murah setelah mengetahui harga plastik putih yang biasa mereka beli sudah naik.

Harga plastik di pasar tradisional menambah tekanan pada pedagang kecil. Mereka harus menyesuaikan biaya tetap tanpa mengorbankan harga jual yang kompetitif.

Perubahan ini mencerminkan dampak global pada pasar lokal. Kenaikan harga plastik akibat konflik di Timur Tengah membuat pedagang di Jakarta harus menyesuaikan strategi bisnis mereka.

Kenaikan harga plastikPasar Tradisional JakartaPedagangThinwallStyrofoamKonflik Timur TengahBiaya tetap usahaStrategi bisnis

Komentar

Memuat komentar...