Pedagang Valas Kaki Lima Kwitang Terima Uang Rusak Lebih Murah

Rini S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Pedagang Valas Kaki Lima Kwitang Terima Uang Rusak Lebih Murah

Gambar atau konten salah?

Di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, masih ada pedagang valuta asing kaki lima yang menjual dan membeli uang asing di pinggir jalan. Mereka berbeda dengan money changer resmi, karena mereka menerima uang yang sudah rusak, lecek, atau bahkan sobek sebagian.

Rohadi, seorang pedagang valas kaki lima berusia 55 tahun, menjelaskan bahwa perbedaan ini menjadi modal utama yang membuatnya tetap bertahan melawan money changer resmi. Ia menegaskan bahwa nilai tukar uang asing rusak yang diterimanya berbeda dengan kurs yang digunakan oleh jasa penukaran valas resmi.

“Terakhir tukar itu masih Rp 17.500 (per dolar), itu kita terima Rp 16.500. (Kalau sekarang naik dekat Rp 18.000/dolar AS?) ya paling tetap Rp 16.500, mentok-mentok kalau dia minta naikkan ya jadi Rp 17.000 lah. Pokoknya terima dolar paling nggak Rp 1.000 di bawah,” jelas Rohadi saat ditemui detikcom, Rabu (03 Juni 2026).

Uang yang masih dapat diterimanya harus dalam kondisi tertentu. Jika lembaran rusak hanya di bagian pinggir atau robek tapi belum terpisah, nilai tukarnya masih cukup tinggi. Namun, bila robekan cukup besar dan uang dolar menjadi lusuh atau lecek parah, nilai tukarnya akan turun.

“Kalau rusaknya parah ya di bawah harga tadi, yang tergantung gimana kondisinya. (Kalau rusak parah?) tadi Rp 16.500 ya bisa Rp 16.000, bisa Rp 15.000, tergantung kondisi sama dia bisa terima harga berapa,” ujarnya.

Rohadi menambahkan, uang asing yang tidak dapat diterimanya adalah yang rusak sampai menghilangkan satu angka atau huruf dalam nomor seri. Selama nomor seri masih dapat dibaca, ia tetap menerima uang tersebut.

“Kalau sobek setengah tetap diterima, yang penting masih utuh (sisa sobekan belum terputus atau masih ada), nomor serinya juga sama, jadi di kanan-kiri sama atas-bawah itu sama semua serinya,” terangnya.

Sejak 1998, Rohadi sudah menjadi money changer pinggir jalan. Ia bekerja dengan seorang bos. Ketika seseorang ingin jual atau beli uang asing, ia akan langsung menghubungi bosnya. Setelah harga disepakati, transaksi dilakukan langsung.

“Jadi semua modal beli dari bos. Tapi ya agak lama, karena kan saya harus ke bos dulu buat tukar uangnya kan. (Bos tukar uang rusak ke mana?) nggak tahu kalau itu,” ucap Rohadi.

Setiap transaksi, Rohadi mendapat penghasilan dari bagi hasil keuntungan jual‑beli valas. Menurutnya, keuntungan dibagi rata, meskipun bos biasanya mendapat bagian sedikit lebih besar.

“Kalau orang di sini ada dua, tiga sama bos, bagi rata. Tapi yang pegang duit yang lebih gede lah. Misalnya dapatnya Rp 100.000 ini keuntungan, di sini Rp 30.000 sama Rp 30.000, kalau bosnya Rp 40.000. Yang pegang duit yang lebih gede,” paparnya.

Meski nilai rupiah melemah belakangan ini, usaha Rohadi tidak banyak terpengaruh. Ia mengaku saat ini biasanya hanya menerima transaksi jual‑beli valuta asing sebulan dua sampai tiga kali saja.

“Ya itu paling terima cuma berapa lembar saja. Paling sering cuma selembar-selembar saja sih. US$ 10, ada yang US$ 50, US$ 100,” katanya.

Transaksi terbesar yang ia terima baru-baru ini terjadi sekitar dua bulan lalu. Pelanggan datang untuk menukar 10 lembar dolar AS, setara US$ 1.000. Pada saat itu, total nilai tukar menjadi Rp 16 juta.

“Paling besar tukar 10 lembar, (total nominal) US$ 1.000, kita kasih Rp 16 juta. Belum lama sih, ada masa 2 bulanan ya,” tandasnya.

Rohadi tetap menjalankan bisnisnya meski pasar valas berubah. Ia menyesuaikan harga dengan kondisi uang yang diterima, menjaga hubungan dengan bos, dan tetap menunggu pelanggan yang membutuhkan layanan tukar uang asing di jalan. Dengan strategi sederhana ini, pedagang valas kaki lima seperti Rohadi terus bertahan di tengah persaingan dengan money changer resmi.

Pedagang Valas Kaki LimaMoney Changer ResmiUang Asing RusakKurs ValasBosPersainganJakarta Pusat

Komentar

Memuat komentar...