Pelemahan Rupiah Mengancam Harga Hidup Desa
Gambar atau konten salah?
Presiden Prabowo Subianto baru saja menegaskan bahwa masyarakat desa tidak memakai dolar dalam transaksi sehari‑harinya. Meski begitu, para ekonom menegaskan bahwa pelemahan rupiah tetap akan berdampak pada desa‑desa di seluruh Indonesia.
Nilai tukar dolar AS kini menembus Rp 17.600 per satuan, jauh lebih tinggi dibandingkan target anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2026 yang menetapkan Rp 16.500 per dolar. Pergerakan ini menimbulkan kekhawatiran tentang inflasi di tingkat pedesaan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa meski tidak ada transaksi dolar di desa, barang-barang impor yang melintasi pasar global akan menimbulkan kenaikan harga. Beliau menekankan bahwa ekonomi Indonesia semakin terhubung dengan sistem global, sehingga kebutuhan desa akan barang impor seperti LPG, pupuk, kendaraan bermotor, dan elektronik tidak dapat diabaikan.
“Jangan dikira pelemahan nilai rupiah terhadap dolar yang sudah Rp 17.600 itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa,” ujarnya saat dihubungi detikcom, Minggu (17 Mei 2026). “Emangnya orang desa nggak pakai barang-barang impor. Mulai dari handphonenya, kendaraan bermotor, komponen elektroniknya, mesin cucinya itu semua akan terpengaruh. Pupuknya pun juga akan terpengaruh harganya yang ada di sentra‑sentra pertanian kalau rupiahnya makin melemah,” sambungnya.
Bhima menilai bahwa sikap pemerintah yang tampak menantang tanpa persiapan dapat menimbulkan ketidakpastian. Ia menambahkan, “Di Indonesia ini seolah justru menantang, tapi tanpa persiapan. Saya kira sikap dan komunikasi seperti ini sangat sangat membahayakan karena masyarakat seolah dibuat tenang tapi tidak siap dengan sudden shock. Pemimpin di negara lain justru menyiapkan skenario terburuk karena efek perang masih panjang.”
Ia juga memperingatkan bahwa pelemahan rupiah yang sudah mencapai sekitar 7 % dalam setahun terakhir dapat menimbulkan dampak investasi dan ketenagakerjaan. “Itu semua tinggal menunggu waktu saja sampai harga‑harga akan menekan di pedesaan dan jangan salah juga, kalau rupiahnya terus melemah terhadap dolar, PHK massal, desa itu akan dibanjiri oleh mereka yang jadi korban PHK di perkotaan kembali lagi ke desa tapi tidak berkerja, dan tidak berpenghasilan kan itu akan jadi beban desa,” ujarnya.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menambahkan bahwa pelemahan rupiah ke kisaran Rp 17.600 per dolar tetap masuk ke ekonomi pedesaan melalui berbagai jalur harga. Ia menjelaskan bahwa pupuk, BBM domestik, pakan ternak, obat-obatan, bahan pangan olahan, dan produk konsumsi sehari‑hari semuanya memiliki komponen impor yang signifikan.
“Karena itu, ketika rupiah melemah tajam, dampaknya terhadap inflasi pedesaan sebenarnya bukan persoalan apakah akan terjadi atau tidak, melainkan seberapa cepat transmisinya muncul. Biasanya efek tersebut mulai terasa dalam satu hingga dua kuartal setelah depresiasi terjadi,” ujarnya.
Dari perspektif ekonomi makro, Yusuf menyoroti bahwa sinyal kebijakan yang ditangkap pasar sangat memengaruhi ekspektasi. Pasar valuta asing sangat bergantung pada persepsi mengenai komitmen otoritas dalam menjaga stabilitas. “Dalam situasi seperti itu, ekspektasi pelemahan bisa berkembang menjadi tekanan nyata. Investor mulai meningkatkan lindung nilai, permintaan dolar naik, arus modal keluar membesar, dan depresiasi rupiah akhirnya memperkuat dirinya sendiri. Situasi ini dalam ekonomi sering disebut sebagai self‑fulfilling depreciation,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa tekanan kurs yang berulang menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki persoalan mendasar. “Padahal tekanan kurs yang berulang menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki persoalan mendasar, mulai dari ketergantungan impor pangan dan energi, pasar keuangan domestik yang dangkal, hingga disiplin fiskal yang sering diuji ketika tekanan global meningkat,” katanya.
Secara keseluruhan, para ekonom menekankan bahwa walaupun masyarakat desa tidak secara langsung menggunakan dolar, ketergantungan pada barang impor membuat mereka tidak kebal terhadap dampak pelemahan rupiah. Kebijakan pemerintah perlu mempersiapkan skenario mitigasi, memperkuat cadangan devisa, dan meninjau kebijakan fiskal agar ketahanan ekonomi desa tidak tergerus oleh fluktuasi nilai tukar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Kimia Farma Balikkan Kerugian, Capai Laba Rp123,63 Miliar
Prabowo Ganti Pimpinan BGN, Tegaskan Tanpa Toleransi Korupsi
Asuransi Astra Tumbuh Meski Tekanan Nilai Tukar & Suku Bunga
Menteri Keuangan: Rupiah Terkena Rumor, Bank Indonesia Fokus
Berita Terbaru
Italia 1-0 Luksemburg, Baldini Raih Kemenangan Muda
Belanda Kalah 0-1 dari Aljazair, Persiapan Piala Dunia 2026
Zodiak Cancer 4 Juni 2026: Hari Ramai Air dan Keberuntungan
Zodiak Virgo 4 Juni 2026: Hari Bintang, Peluang Romantis & Karier
Zodiak Aries 4 Juni 2026: Energi Baru dan Peluang Cinta
Zodiak Libra 4 Juni 2026: Keseimbangan Hari, Cinta, Karier & Kesehatan
Zodiak Scorpio 4 Juni 2026: Panduan Hari Terbaik Hari
Zodiak Leo 4 Juni 2026: Energi Matahari Menuntun Hari Anda
Zodiak Gemini: 4 Juni 2026, Hari Dinamika Kencan dan Karier
Zodiak Sagittarius 4 Juni 2026: Energi Positif dan Keputusan
