Peluang Pariwisata Ramah Muslim Buka Ekonomi Indonesia

Ningsih R. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 69 dibaca
Bisik.id
Peluang Pariwisata Ramah Muslim Buka Ekonomi Indonesia

Gambar atau konten salah?

Pariwisata ramah muslim menjadi sektor yang menjanjikan bagi Indonesia. Potensi pasar ini didorong oleh pertumbuhan populasi Muslim global yang diproyeksikan mencapai 2,5 miliar jiwa pada tahun 2035.

Di sisi lain, pada tahun 2030, jumlah wisatawan Muslim dunia diperkirakan menembus 245 juta orang dengan total belanja mencapai sekitar 235 miliar dolar AS. Indonesia, dengan 248 juta jiwa atau 87 persen penduduknya, sudah memiliki modal demografis yang sangat kuat.

Dengan potensi sebesar itu, pariwisata ramah muslim harus berkembang sebaik-baiknya. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah pengembangan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025, yang menjadi alat ukur kesiapan provinsi dalam mengembangkan destinasi berstandar internasional.

Sejauh ini, sudah ada 15 provinsi yang ditetapkan sebagai provinsi unggulan untuk pariwisata ramah muslim. Aceh dan Banten memperoleh pengakuan khusus atas keunikan budaya dan pengelolaan destinasi mereka.

Rantai nilai ini diperkuat melalui program Sertifikasi Halal UMKM yang bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Hingga saat ini, Kementerian Pariwisata telah memfasilitasi penerbitan 14.694 sertifikat halal di 391 desa wisata yang tersebar di 33 provinsi.

Pariwisata ramah muslim juga diarahkan sebagai penggerak investasi syariah di sektor riil. Pemerintah memperkuat sinergi dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) melalui fasilitasi rekomendasi pelaku usaha pariwisata binaan untuk mengikuti business matching pembiayaan syariah yang diselenggarakan bersama Bank Indonesia, OJK, dan Kementerian UMKM.

Konsep ini menekankan peningkatan standar pelayanan destinasi wisata bagi wisatawan yang membutuhkan, tanpa mengubah karakter dan jati diri budaya lokal. Layanan ini bersifat pelengkap, sehingga destinasi tetap terbuka dan nyaman bagi semua wisatawan, termasuk muslim.

"Kita tidak mengubah karakter destinasi. Kekuatan pariwisata Indonesia justru terletak pada tradisi, budaya, dan kearifan lokal. Pariwisata ramah Muslim hadir untuk memperkuat destinasi melalui peningkatan standar layanan yang nyaman dan ramah bagi wisatawan Muslim, tanpa menghilangkan kekhasan budaya setempat," tegas Wamenpar Ni Luh Puspa seperti dikutip dari Antara, Senin (25 Mei 2026).

Inisiatif ini menegaskan bahwa pengembangan pariwisata ramah muslim dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus pelestarian budaya, dengan tetap menjaga identitas lokal dan membuka peluang investasi syariah.

Pariwisata Ramah MuslimMuslim Travel IndexSertifikasi Halal UMKMInvestasi SyariahKNEKSDestinasi Wisata MuslimBPJPH

Komentar

Memuat komentar...