Pemudik Bogor Bawa 130 km Motor, Tak Terganggu Macet

Maya K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 42 dibaca
Bisik.id
Pemudik Bogor Bawa 130 km Motor, Tak Terganggu Macet

Gambar atau konten salah?

Sukabumi, 26 Maret 2026 – Di tengah arus balik Lebaran 2026, kisah unik para pemudik muncul di perantauan. Salah satu cerita tersebut datang dari Nur Fallah, warga Bogor yang rela menempuh ratusan kilometer dengan motor penuh muatan untuk membawa bekal dari kampung halaman di Surade, Sukabumi.

Di posko mudik Lebaran 2026 milik Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Nur Fallah terlihat beristirahat sejenak di atas Honda ADV berwarna sand. Motornya menonjol karena dipenuhi barang bawaan, mulai dari karung beras di bagian depan hingga bungkusan Opak Jampang yang diikat di windshield.

“Saya dari Surade, Jampang, mau ke Bogor, arah Bogor kita. Habis pulang kampung,” kata Nur Fallah saat ditemui di posko, Kamis 26 Maret 2026.

Ia tidak menempuh perjalanan sendirian. Bersama istri dan anaknya yang masih bayi, ia melintasi rute Pajampangan‑Sukabumi‑Bogor. Jarak sejauh 130 kilometer ia lalui meski harus menghadapi kemacetan panjang di beberapa titik.

“Kalau dari maps 130 kilo-an dari Surade sampai Bogor. Iya, 130 kilo,” tuturnya. “Terjebak macet tadi di Cibadak, sebelumnya juga ada di arah Pelabuhan. Sekitar setengah jam, setengah jam-an ada,” tambahnya.

Perjalanan melelahkan, namun ia mengaku sangat terbantu dengan adanya posko istirahat, apalagi ia membawa balita. Ia pun harus lebih sering menepi demi kenyamanan sang buah hati.

“Alhamdulillah lancar. Kalau dari sini lancar, kalau di sana macet, ada macetnya. Sempat berhenti-berhenti ada empat kali berhenti lah karena kan bawa anak bayi juga, bawa bayi juga,” ungkapnya.

Keunikan lain terletak pada banyaknya buah tangan yang ia bawa di atas motornya. Seolah tak mau menyia-nyiakan hasil bumi dari kampung, Nur Fallah memboyong berbagai kebutuhan pokok dan camilan tradisional untuk dibawa ke Bogor.

“Kita bawa bekel‑bekel kayak biasa dari orang tua pas mudik, kayak beras, ada oleh‑oleh dikit juga kayak Opak Jampang khas dari sana. Sama ada pisang juga sebenarnya cuma di tas, di bagasi juga ada sih kayak kue‑kuean gitu dari kampung, ya Opak‑opakan lah banyak,” jelasnya merinci barang bawaannya.

Kini, Nur Fallah bersiap melanjutkan sisa perjalanannya. Baginya, meski harus repot membawa banyak beban di motor, membawa oleh‑oleh khas kampung halaman memberikan kepuasan tersendiri saat kembali ke rutinitas di kota.

“Iya, terakhir berhenti di sini nih. Udah kalau udah di sini mau lanjut lagi,” pungkasnya.

Perjalanan ini menegaskan semangat mudik yang tak hanya sekadar kembali ke rumah, tetapi juga membawa kenangan dan kebersamaan melalui setiap barang yang dibawa. Dengan 130 kilometer perjalanan, Nur Fallah menunjukkan bagaimana tradisi mudik tetap hidup, bahkan di tengah kemacetan dan tantangan logistik.

Mudik Lebaran 2026Posko Kementerian Pekerjaan UmumMotor Honda ADVBekal Kampung HalamanKemacetan CibadakSurade SukabumiOpak Jampang

Komentar

Memuat komentar...