Penggerak Hari Kebangkitan Nasional Dibahas Lagi 2026

Cahyo S. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 149 dibaca
Bisik.id
Penggerak Hari Kebangkitan Nasional Dibahas Lagi 2026

Gambar atau konten salah?

Hari Kebangkitan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 20 Mei, menjadi tonggak penting bagi bangsa Indonesia. Peringatan ini menandai lahirnya kesadaran nasional yang kemudian menuntun Indonesia menuju kemerdekaan. Presiden Soekarno pertama kali mengesahkan hari tersebut sebagai kenangan atas kebangkitan pemuda. Pada 16 Desember 1959, pemerintah menetapkan Hari Kebangkitan Nasional secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1959.

Peristiwa ini tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh muda yang berjuang di berbagai bidang. Mereka menolak sistem kolonialisme lewat pendidikan, diplomasi, kesehatan, dan jurnalisme. Berikut enam penggerak utama yang memicu kebangkitan nasional Indonesia.

  1. Wahidin Soedirohoesodo (7 Januari 1852) adalah salah satu pendiri Budi Utomo. Ia menulis di surat kabar Retno Dhoemilah untuk menanamkan kesadaran nasional, martabat bangsa, dan nilai budi pekerti. Sebagai dokter, ia tidak hanya menanggulangi penyakit fisik, tetapi juga memberikan layanan kesehatan gratis. Ia memandang bahwa kemerdekaan hanya dapat dicapai jika bangsa cerdas, sehingga ia mengajak bangsawan dan masyarakat untuk menabung dana beasiswa bagi pelajar kurang mampu. Karena jasa‑jasa besar ini, ia dikenal sebagai Bapak Kebangkitan Nasional.

  2. Dr. Soetomo (30 Juli 1888) bersama Wahidin menjadi ketua pertama Budi Utomo. Ia juga seorang dokter dan pendidik, memimpin surat kabar yang menyebarkan gagasan kemerdekaan. Untuk mendukung para terpelajar, ia mendirikan Indonesische Studie Club (ISC). Melalui lembaga ini, ia meluncurkan bank kredit, koperasi, dan sekolah tenun guna memperkuat kemandirian ekonomi rakyat.

  3. Ki Hajar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat) memulai perjuangan di dunia jurnalistik. Ia bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo membentuk Tiga Serangkai, yang kemudian melahirkan partai politik pertama Indonesia, Indische Partij. Setelah diasingkan ke Belanda karena kritik kerasnya, ia kembali dan fokus membangun bangsa lewat pendidikan. Semboyan legendarisnya, “Tut Wuri Handayani”, masih menginspirasi generasi muda. Pada usia 40 tahun, ia mengganti gelar kebangsawanannya menjadi Ki Hajar Dewantara agar lebih dekat dengan rakyat.

  4. Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dikenal sebagai dokter yang berani mengkritik kebijakan kolonial Belanda. Tulisan‑tulisannya sering muncul di De Locomotief dan Bataviaasch Nieuwsblad. Karena kritiknya dianggap mengganggu stabilitas kolonial, Belanda memecatnya dari jabatan dokter pemerintah. Ia tetap aktif bersama Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat dalam membangun Indische Partij. Pemerintah Belanda akhirnya menjatuhkan hukuman pengasingan ke luar negeri bagi ketiga tokoh ini.

  5. Douwes Dekker (8 Oktober 1879), juga dikenal sebagai Danudirja Setiabudi, memiliki latar belakang Eropa‑Indo dan cucu penulis Max Havelaar. Ia memilih mendukung kaum pribumi yang tertindas. Douwes Dekker merancang Indische Partij sebagai organisasi politik pertama yang secara terang‑terangan menuntut kemerdekaan Indonesia. Melalui tulisan di berbagai media, ia menampilkan fakta ketidakadilan kolonial dan menanamkan jiwa nasionalisme kepada rakyat.

  6. HOS Tjokroaminoto (Haji Oemar Said, 16 Agustus 1882) memimpin Sarekat Islam. Ia mengorganisir massa dalam skala besar untuk mendukung gerakan anti‑kolonialisme dan menuntut hak‑hak kaum pribumi. Kegiatan beliau meliputi perdagangan, keagamaan, dan jalur politik. Rumahnya menjadi tempat belajar bagi para pemuda terpelajar, termasuk Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo. Kegigihannya menyuarakan kesetaraan menjadikannya tokoh penting di era kebangkitan nasional.

Selain enam tokoh di atas, sejarah juga mencatat peran Muhammad Yamin, Mr. Sartono, Kiai Haji Samanhudi, dan Mohammad Hatta. Mereka bersama-sama mematangkan konsep kedaulatan Indonesia. Semua tokoh ini, melalui berbagai bidang, menumbuhkan rasa nasionalisme yang menjadi dasar bagi perjuangan kemerdekaan. Mereka menunjukkan bahwa kebangkitan nasional bukan sekadar gerakan politik, melainkan juga gerakan sosial, pendidikan, dan kesehatan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Hari Kebangkitan NasionalBudi UtomoKi Hajar DewantaraDouwes DekkerSarekat IslamSoekarnoKemerdekaan

Komentar

Memuat komentar...