Penjualan Ritel Indonesia Q1 2026 Tumbuh 2,4% Yoy di Pasar

Endah K. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 106 dibaca
Bisik.id
Penjualan Ritel Indonesia Q1 2026 Tumbuh 2,4% Yoy di Pasar

Gambar atau konten salah?

Di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah, penjualan ritel di Indonesia diperkirakan tetap tumbuh positif pada kuartal pertama tahun 2026. Bank Indonesia (BI) menilai Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk tiga bulan pertama tahun ini akan naik 2,4 % secara tahunan pada 01 Maret 2026. Angka ini didukung oleh peningkatan penjualan di mayoritas kelompok ritel.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, “Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi.” Ia menambahkan bahwa kelompok lain juga berkontribusi, termasuk Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang. Peningkatan ini sejalan dengan lonjakan permintaan rumah tangga selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H.

Meski IPR tumbuh 2,4 % yoy pada 01 Maret 2026, angka tersebut terlihat lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada 01 Februari 2026, IPR naik 6,5 % yoy, sementara pada 01 Januari 2026, kenaikan hanya 5,7 % yoy. Jika dilihat secara bulanan, penjualan eceran pada 01 Maret 2026 diperkirakan tumbuh 9,3 % dibandingkan bulan sebelumnya, lebih tinggi dari 4,1 % pada 01 Februari 2026.

Perubahan ini didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang. “Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Subkelompok Sandang sejalan dengan peningkatan permintaan rumah tangga selama periode perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H,” jelas Ramdan.

Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan ke depan, yaitu Mei 2026, diperkirakan akan meningkat. Sementara pada enam bulan ke depan, yaitu Agustus 2026, inflasi diperkirakan tetap stabil. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Mei 2026 sebesar 157,4, lebih tinggi dibandingkan IEH April 2026 sebesar 153,9 seiring kenaikan harga bahan baku. Sementara itu, IEH Agustus 2026 diperkirakan 157,2, relatif stabil dibandingkan IEH Juli 2026 sebesar 157,1.

Ekonomi Indonesia pada awal tahun ini masih menunjukkan ketahanan. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai konsumsi rumah tangga tetap positif. Hal ini terlihat dari IPR yang tumbuh 4,86 % pada kuartal pertama tahun 2026, meningkat dibandingkan 2,77 % pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Kalau lihat kuartal I ini pertumbuhan indeks penjualan real itu lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal I tahun yang lalu 2025. Kalau secara rata-rata di tahun ini kuartal I indeks penjualan real 5 %, tahun lalu itu 3 %,” kata Faisal.

Meski konsumsi rumah tangga tumbuh, CORE menilai kualitasnya belum cukup kuat. Pertumbuhan konsumsi terkonsentrasi pada kebutuhan dasar, sementara belanja non‑esensial cenderung melemah. “Kondisi ini menunjukkan banyak masyarakat Indonesia yang semakin selektif dalam berbelanja. Jadi, orang lebih selektif untuk membeli yang tidak esensial. Ini juga menunjukkan sebetulnya dari disposable income itu juga berarti terbatas, jadi ada ekspektasi bahwa atau ada gejala bahwa disposable income itu melemah,” tambahnya.

Jika dilihat lebih rinci, pertumbuhan penjualan ritel pada 01 Maret 2026 masih lebih rendah dibandingkan angka 01 Februari 2026. Padahal pada bulan Maret sebelumnya terdapat Hari Raya Lebaran yang seharusnya meningkatkan penjualan eceran untuk memenuhi lonjakan konsumsi masyarakat. “Perlu diperhatikan di situ adalah bahwa trennya memang bagus secara umum tapi kalau melihat secara pergerakan secara bulanan itu lemah di bulan Maret. Jadi kelihatan sekali pelemahannya di bulan Maret dan ini tidak lepas juga dari kondisi perang,” tutur Faisal. Ia menambahkan bahwa meski ada Lebaran, tingkat konsumsi dan indeks penjualan riilnya lebih rendah dibandingkan bulan Februari. “Bulan Maret walaupun sebetulnya ada Lebaran di situ tapi, ternyata tingkat konsumsi dan indeks penjualan riilnya lebih rendah dibandingkan bulan Februari. Jadi memang artinya kondisi global, kondisi perang itu sudah berdampak juga terhadap konsumsi walaupun sebetulnya tipis karena harga BBM bersubsidi masih ditahan, masih tidak naik, LPG bersubsidi juga di bulan Maret juga masih ditahan,” jelasnya lagi.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 masih cukup resilien, terlihat dari IPR yang masih tumbuh positif. Namun ia menilai konsumsi rumah tangga yang tercermin dari pertumbuhan IPR ini masih terlalu rendah, terlebih mengingat Hari Raya Lebaran jatuh di bulan Maret yang seharusnya mendongkrak penjualan eceran dalam negeri. “Penjualan riil itu kalau misalnya katakanlah tembus di atas 4 %, 5 %, nah pertumbuhan ekonomi biasanya bisa di atas 5 %. Tapi kalau hanya 2 %, berarti ada gejala di bulan Ramadhan itu konsumsinya nggak benar-benar tinggi banget,” ujarnya.

Menurutnya, pelemahan ini disebabkan oleh perang di Timur Tengah yang membuat masyarakat khawatir akan kondisi ekonomi ke depan. “Sehingga banyak masyarakat memilih untuk menahan berbelanja, membuat laju penjualan retail melambat. Kalau awal perang orang sudah signal nih bahwa situasi global juga pengaruh ke domestik. Dampaknya pasti orang sudah tahu akan ada kenaikan harga BBM dan sebagainya begitu, sehingga banyak masyarakat mengantisipasi itu untuk menahan pembelian,” tutur Tauhid.

Dengan demikian, meski ekonomi Indonesia diperkirakan masih cukup resilien alias tahan banting pada awal tahun ini, kondisi ini tetap perlu menjadi perhatian ke depan. Terutama dalam menyikapi dampak perang Amerika Serikat dan Iran yang sudah berimbas pada kenaikan harga minyak dunia.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa penjualan ritel di Indonesia masih tumbuh, namun pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti konflik global dan tekanan inflasi. Konsumsi rumah tangga tetap positif, namun lebih terfokus pada kebutuhan dasar. Penurunan penjualan di bulan Maret, meski bertepatan dengan Lebaran, menandakan ketidakpastian ekonomi yang masih memengaruhi perilaku belanja masyarakat. Kinerja IPR yang stabil menunjukkan ketahanan ekonomi, namun perlunya perhatian terhadap faktor-faktor eksternal yang dapat memengaruhi dinamika pasar ritel di masa mendatang.

Penjualan ritelIPRKonflik Timur TengahInflasiBBMKonsumsi rumah tanggaHari Raya LebaranIndeks Ekspektasi Harga Umum

Komentar

Memuat komentar...