Penumpang KRL Jabodetabek Naik 20% Tahun 2025, 2026

Tika M. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 132 dibaca
Bisik.id
Penumpang KRL Jabodetabek Naik 20% Tahun 2025, 2026

Gambar atau konten salah?

KRL Commuter Line telah menjadi sarana utama bagi warga Jabodetabek untuk berpergian. Setiap tahun jumlah penumpang terus melonjak, menandakan betapa pentingnya layanan ini bagi kehidupan sehari‑hari.

Menurut Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, perubahan perilaku masyarakat sejalan dengan peningkatan kualitas sistem transportasi. “Ketika sistem transportasi dibangun dengan lebih andal, masyarakat akan mengikuti dengan sendirinya. Pilihan menggunakan transportasi publik muncul karena layanan memberi kemudahan, keterjangkauan, kepastian, dan rasa aman,” ujar Anne dalam keterangannya, Minggu, 26 April 2026.

Data menunjukkan pertumbuhan volume penumpang di semua lintas KRL Jabodetabek. Di lintas Bogor, penumpang naik dari 102.054.022 pada 2022 menjadi 155.009.997 pada 2025. Pada tiga bulan pertama 2026, jumlah penumpang mencapai 38.203.481.

Lintas Cikarang mencatat 55.660.235 penumpang pada 2022, meningkat menjadi 85.936.774 pada 2025. Di periode Januari hingga Maret 2026, penumpang telah mencapai 21.717.664.

Rangkasbitung juga menunjukkan tren serupa: 43.317.716 penumpang pada 2022, naik menjadi 77.552.716 pada 2025. Tiga bulan pertama 2026, layanan menampung 20.197.205 penumpang.

Di lintas Tangerang, penumpang tumbuh dari 15.333.812 pada 2022 menjadi 27.280.453 pada 2025. Sejak awal tahun, jumlah penumpang tercatat 6.987.364.

Lintas Tanjung Priok mengalami peningkatan pengguna dari 1.599.107 pada 2022 menjadi 3.531.311 pada 2025. Pada Januari hingga Maret 2026, penumpang mencapai 873.658.

Perubahan ini mencerminkan adaptasi bertahap masyarakat. Waktu perjalanan yang lebih teratur membantu perencanaan aktivitas harian. Dari segi biaya, tarif yang terjangkau memungkinkan berbagai lapisan masyarakat tetap dapat mengakses transportasi publik. Efisiensi ini membuka ruang pengeluaran untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga.

Perubahan pilihan moda juga berdampak pada kondisi jalan. Kepadatan lalu lintas berkurang, perjalanan menjadi lebih lancar, dan risiko kecelakaan dapat ditekan. Lingkungan ikut membaik karena berkurangnya polusi karena penggunaan kendaraan pribadi,” kata Anne.

Menurut KAI, infrastruktur transportasi yang tepat dapat membentuk kebiasaan masyarakat jangka panjang. Ketika jaringan semakin terhubung, kapasitas meningkat, dan layanan semakin terintegrasi, peralihan ke transportasi publik akan terjadi secara alami dan berkelanjutan.

Perkembangan ini menegaskan bahwa investasi pada KRL Commuter Line bukan sekadar peningkatan kapasitas, melainkan langkah strategis menuju mobilitas yang lebih teratur, terjangkau, dan ramah lingkungan. Dengan data yang terus menunjukkan peningkatan penumpang, pola perjalanan masyarakat di Jabodetabek tampak semakin bergeser menuju transportasi publik yang andal dan efisien.

KRL Commuter LinepenumpangJabodetabektarif terjangkaukepadatan lalu lintaspolusimobilitas berkelanjutan

Komentar

Memuat komentar...