Penurunan Tanah 8‑11 cm di Jawa Tengah, Tanggul Laut Rencana

Nita W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 101 dibaca
Bisik.id
Penurunan Tanah 8‑11 cm di Jawa Tengah, Tanggul Laut Rencana

Gambar atau konten salah?

Di Semarang, Jawa Tengah, pemerintah melaporkan penurunan muka tanah mencapai 8‑11 sentimeter per tahun. Perubahan ini dikaitkan dengan pengambilan air tanah berlebihan dan terjadinya rob di sepanjang Pantura.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengungkapkan hal tersebut pada Rapat Kerja Gubernur di Hotel Tentrem, Kecamatan Semarang Tengah. Ia berkata, “Per tahun itu penurunan muka tanah di wilayah Jawa Tengah itu 8‑11 cm,” pada 12 Mei 2026.

Luthfi menambahkan bahwa penurunan muka tanah disebabkan oleh pengambilan air tanah yang berlebihan dan rob. Ia menyatakan, “Itu akibat daripada penurunan air tanah, pengambilan air tanah serta rob.”

Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah sedang menyiapkan langkah pencegahan mulai dari perencanaan hingga pembangunan infrastruktur pengendali banjir rob di wilayah pesisir. Gubernur menegaskan, “Kita melakukan upaya pencegahan preemtif, preventif. Tetapi yang paling efektif dalam rangka menurunkan itu adalah dengan Giant Sea Wall.”

Giant Sea Wall, atau tanggul laut raksasa, akan dibangun di kawasan Semarang‑Sayung, Demak. Proyek ini dimaksudkan sebagai upaya jangka panjang untuk mengendalikan rob dan penurunan muka tanah di Pantura. Gubernur menjelaskan, “Pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa di kawasan Semarang‑Sayung, Demak itu disebut menjadi upaya jangka panjang untuk mengendalikan rob dan penurunan muka tanah di Pantura.

Rencana pertama Giant Sea Wall memulai dari Kota Semarang menuju Sayung. Panjangnya 10 km dan biayanya Rp 10,7 triliun dari pusat. Ia menambahkan, “Giant Sea Wall yang pertama itu mulai Kota Semarang dan Sayung. Panjangnya 10 km, biayanya adalah Rp 10,7 triliun dari pusat.

Selain tanggul laut, pemerintah juga membangun kolam retensi Torboyo dan Sriwulan untuk menampung air dan mengurangi banjir di kawasan pesisir. Kolam retensi ini memiliki kapasitas 6,4 juta meter kubik untuk menahan banjir. Gubernur menyatakan, “Kolam retensi ini bisa penampung 6,4 juta meter kubik untuk menahan banjir. Giant sea wall untuk menahan gelombang.

Proyek Giant Sea Wall di Sayung ditargetkan segera diresmikan pada Juli 2026 dan diharapkan menjadi model pengendalian rob bagi daerah pesisir lain di Indonesia. Gubernur menegaskan, “Proyeknya di Sayung, yang sekarang tiap hari viral di tempat kita. Nah ini sudah hampir selesai.

Penurunan muka tanah yang signifikan menandakan perlunya tindakan cepat. Giant Sea Wall dan kolam retensi menjadi solusi konkret, namun keberhasilan proyek ini akan bergantung pada pelaksanaan tepat waktu dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

penurunan muka tanahpengambilan air tanahrobGiant Sea Wallkolam retensiPantura

Komentar

Memuat komentar...