Penurunan Tanggul Lumpur Sidoarjo 0,4 Meter di Utara Kawasan

Rizki W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Penurunan Tanggul Lumpur Sidoarjo 0,4 Meter di Utara Kawasan

Gambar atau konten salah?

Di Sidoarjo, dua dekade setelah ledakan Lumpur Lapindo di Porong, ancaman baru menambah kekhawatiran di wilayah sekitarnya. Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) mengakui bahwa tanah di sepanjang dike penahan lumpur terus menurun, atau subsidence, secara bertahap.

Fenomena susutnya daratan ini terlihat di sepanjang benteng buatan tersebut, dengan penurunan yang berbeda di setiap titik pemantauan. Kepala Bidang Perencanaan PPLS, Zulyana Tandju, menyatakan pada 01 Juni 2026 bahwa tanggul penahan lumpur Sidoarjo sepanjang 11 kilometer mengalami penurunan variatif.

“Berdasarkan data primer dan sekunder, terhadap tanggul lumpur Sidoarjo, sepanjang 11 Kilometer terjadi penurunan yang variatif,” kata Zulyana.

Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa penurunan paling ekstrem terjadi di sektor utara. Dalam periode 2021 hingga 2022 saja, tanah di titik tersebut ambles hampir setengah meter. “Di mana penurunan terbesar terjadi di tanggul sisi utara dengan penurunan yaitu sebesar 0,4 meter tercatat pada tahun 2021-2022,” jelasnya.

PPLS belum memiliki perhitungan akumulasi total penurunan tanah sejak semburan pada tahun 2006. Hal ini menambah ketidakpastian tentang skala keseluruhan masalah.

Menurut Zulyana, penyebab penurunan ini sangat kompleks. “Penurunan tanah yang terjadi di Kawasan lumpur Sidoarjo sangat sulit dikendalikan dikarenakan oleh kondisi Geologi yang kompleks pada kawasan lumpur Sidoarjo,” ungkapnya.

Geologi di Sidoarjo dipengaruhi oleh letak geografis yang dilintasi jalur patahan bumi aktif. Selanjutnya, jenis tanah lokal yang rentan bergeser memperparah situasi. “Penurunan tanggul dipengaruhi oleh kondisi geologi yang kompleks pada kawasan lumpur Sidoarjo di antaranya yaitu adanya pengaruh sesar aktif, serta diketahui bahwa wilayah Sidoarjo merupakan daerah endapan sedimen,” tambahnya.

Faktor makro ini semakin diperparah oleh kondisi internal tanah dasar tempat berdirinya tanggul. Beban masif jutaan meter kubik lumpur panas harus ditopang oleh struktur tanah yang kurang solid. “Selain itu juga pada pondasi tanggul lumpur Sidoarjo memiliki daya dukung tanah yang rendah,” tandas Zulyana.

Menanggapi ancaman terus meningkat, PPLS tidak tinggal diam. Beberapa proyek fisik telah dikerahkan untuk mengantisipasi skenario terburuk, seperti jebolnya tanggul. Salah satu langkah konkret adalah menyuntikkan material pengeras ke dalam lapisan tanah dasar guna meningkatkan kekuatan struktural benteng, khususnya di wilayah yang mengalami amblesan paling parah.

“Untuk tanggul yang mengalami penurunan tanah, PPLS melakukan upaya perkuatan daya dukung tanah melalui kegiatan fisik berupa pemasangan Deep Cement Mixing (DCM) yang telah dilakukan pada tanggul sisi utara sepanjang 1,5 kilometer pada tahun 2023-2024,” pungkas Zulyana.

Dengan tindakan ini, PPLS berharap dapat menstabilkan dike dan melindungi pemukiman warga Porong serta sekitarnya. Meskipun tantangan tetap besar, upaya perkuatan struktur menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk menghadapi dampak jangka panjang dari semburan Lumpur Lapindo.

Lumpur LapindoSidoarjoSubsidenceTanggul LumpurPPLSDeep Cement MixingGeologi KompleksPorong

Komentar

Memuat komentar...