Perang Iran-Israel: Dampak Harga Minyak dan Strategi Indonesia

Sinta R. · 5 min baca · 2 bulan lalu · 178 dibaca
Bisik.id
Perang Iran-Israel: Dampak Harga Minyak dan Strategi Indonesia

Gambar atau konten salah?

Perang Iran-Israel yang meletus menandai titik balik bagi ekonomi dunia. Sebelum konflik itu, dunia sudah mengalami perang perdagangan, energi, teknologi, dan supremasi. Semua peristiwa tersebut menandai fase transisi geopolitik dan geoekonomi yang penting.

Selama beberapa dekade, sistem ekonomi global didominasi oleh kekuatan multilateral. Kini, sistem tersebut bergerak menuju konfigurasi multipolar yang lebih kompleks. Perubahan ini terlihat jelas di Timur Tengah, di mana konflik antara Israel dan Iran mencerminkan dinamika baru.

Konflik ini tidak hanya memengaruhi keamanan regional, tetapi juga menimbulkan dampak luas pada stabilitas ekonomi global, perdagangan, distribusi populasi, dan potensi krisis ekonomi dunia.

Akar masalah konflik Timur Tengah adalah perebutan sumber daya energi dan perluasan pasar. Negara-negara besar seperti AS, China, Eropa Barat, dan Rusia memiliki kepentingan besar dalam menjaga stabilitas pasokan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masing-masing.

Lebih dari 70% konsumsi minyak China berasal dari impor, sebagian besar dari Rusia, Iran, dan Venezuela. Produksi minyak tersebut kini akan direbut oleh AS secara paksa (Bloomberg, 2025).

Rusia dan China memiliki kepentingan strategis untuk menyeimbangkan pengaruh AS di kawasan Timur Tengah. Keterlibatan mereka sering bersifat diplomatik dan ekonomi, tidak langsung militer.

Iran memiliki hubungan perdagangan dan geopolitik yang semakin intens dengan Rusia dan China di berbagai bidang. Negara ini kuat secara ekonomi, teknologi, dan militer. Meskipun dikenakan sanksi ekonomi dan embargo perdagangan, ekonomi Iran tetap kuat.

Iran sudah mempersiapkan strategi jangka panjang dalam kerangka “economic of war”.

Timur Tengah memiliki posisi penting dalam sistem energi dunia. Negara-negara seperti Iran, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab hanya menempati wilayah sekitar 5,1 juta kilometer persegi, atau sekitar 3,4% luas permukaan bumi, namun wilayah ini menyimpan kekayaan energi yang sangat besar.

Kawasan ini menguasai sekitar 48% cadangan minyak dunia dan 38% cadangan gas alam global. Selain itu, 5 dari 10 produsen minyak terbesar dunia berada di kawasan ini, menjadikannya pusat gravitasi dalam geopolitik energi global.

Kontribusi produksi kawasan ini juga sangat besar. Timur Tengah memproduksi sekitar 26% produksi minyak dunia. Arab Saudi, produsen utama, menghasilkan sekitar 11 juta barel per hari, atau sekitar 11% produksi global. Iran sendiri merupakan salah satu produsen besar dunia dengan produksi mendekati 4 juta barel per hari, meskipun kapasitas produksinya sering terhambat oleh sanksi internasional (Investopedia, 2025).

Selain pusat produksi, Timur Tengah juga memiliki posisi strategis dalam distribusi energi global. Salah satu titik paling vital adalah Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi internasional.

Oleh karena itu, setiap gangguan terhadap produksi dan distribusi minyak di kawasan ini dapat mengganggu kelancaran pasokan energi global dan meningkatkan harganya. Beberapa analis memperkirakan harga minyak dapat menembus US$ 100 per barel, bahkan lebih, apabila gangguan pasokan terus berlanjut (Reuters, 2026; Bloomberg, 2026). Hal ini berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi global dan memicu krisis dunia.

Persaingan geopolitik kini tidak hanya berkisar pada minyak dan gas, tetapi juga meluas ke mineral kritis, seperti litium, nikel, kobalt, grafit, dan rare earths. Komoditas tersebut menjadi bahan utama teknologi transisi energi: kendaraan listrik, baterai, hingga jaringan listrik modern.

Pada 2024, permintaan litium naik hampir 30%, sementara nikel, kobalt, dan grafit meningkat sekitar 6-8%, terutama didorong sektor energi seperti kendaraan listrik dan penyimpanan baterai (IEA, 2024).

Beberapa analis memperkirakan konflik kemungkinan tetap terbatas karena perang besar akan merugikan semua pihak secara ekonomi. Tampaknya Iran, Israel, dan AS siap dengan perang jangka panjang. Seperti Rusia yang sudah berpengalaman perang jangka panjang di Ukraina, mereka akan “mendukung” dan mengambil manfaat dari perang di Timur Tengah.

Indonesia, sebagai negara berkembang dengan perekonomian terbuka, juga akan terpengaruh oleh gejolak global. Pertama, kenaikan harga minyak. Jalur transmisi paling langsung adalah melalui harga energi. Indonesia masih bergantung pada impor minyak (net importir) karena produksi domestik tidak mencukupi kebutuhan nasional.

Kedua, pelemahan nilai kurs Rupiah dan volatilitas pasar keuangan. Konflik geopolitik meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman dan membuat kurs mitra dagang akan melemah. Investor modal akan mencari aset yang lebih aman (flight to quality).

Ketiga, gangguan untuk keberlangsungan APBN. Subsidi BBM dan listrik dalam APBN akan meledak. Jika pasar keuangan terus terganggu, biaya bunga utang pemerintah dalam APBN juga akan meningkat.

Berbeda dengan krisis global tahun 2008, terdapat solusi dari kerja sama global, dan negara-negara G20 serta lembaga multilateral. Tahun 2026 tidak dapat diharapkan adanya solusi dari G20 atau lembaga multilateral. Maka strategi ekonomi Indonesia adalah untuk bertahan dalam masa perang menuju kemandirian ekonomi.

Strategi pertama, penyelamatan APBN 2026. APBN adalah sumber kepercayaan ekonomi sekaligus pemulihan ekonomi kita. Kenaikan nilai ekspor komoditi sumber daya alam berpotensi meningkatkan penerimaan negara dalam APBN. Pemerintah wajib mengoptimalkan penerimaan negara dari SDA yang mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga.

Peningkatan penerimaan negara ini harus dapat menutup belanja, baik subsidi energi maupun bunga utang. Belanja subsidi dan belanja sosial tetap dialokasikan mengingat mereka adalah instrumen perlindungan sosial masyarakat pada masa krisis. Konsumsi BBM dan listrik harus dihemat melalui berbagai cara.

Belanja barang dan modal di kementerian dapat ditunda dahulu. Pemerintah juga memerlukan adanya pembiayaan siaga dari pasar keuangan dan lembaga donor.

Strategi kedua, relokasi industri global. Perang dagang dan deglobalisasi mendorong perusahaan memindahkan produksi ke negara yang stabil. Indonesia dapat menarik investasi dalam manufaktur, baterai kendaraan listrik, dan industri hilirisasi mineral, terutama karena Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia yang menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik.

Indonesia juga harus mempersiapkan strategi hilirisasi di sektor mineral lainnya dan sumber daya alam yang menarik untuk investasi (IEA, 2024; Kemendag, 2023).

Strategi ketiga, mempertahankan program perlindungan sosial. Program makan bergizi gratis (MBG) untuk ekonomi lokal dan pendukung anggaran pendidikan serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk ketahanan ekonomi desa. Indonesia terus memperkuat program ekonomi kemandirian yang memfokuskan pada penguatan SDM dan investasi melalui Danantara, hilirisasi SDA untuk memberikan nilai tambah, dan ketahanan pangan untuk kedaulatan ekonomi.

Tak kalah pentingnya penguatan industri pertahanan nasional dalam menghadapi ancaman keamanan global jangka panjang. Strategi kemandirian ini mengacu pada sejarah Swiss, yang mendapat manfaat ekonomi dan stabilitas signifikan selama Perang Dunia II karena status netralnya.

Namun, Indonesia berbeda secara signifikan dengan Swiss dalam hal tingkat ekonomi, populasi, geografis, dan stabilitas domestik. Tantangan keamanan ekonomi Indonesia jauh lebih berat daripada posisi Swiss yang mapan pasca-PD II.

Situasi saat ini menunjukkan perekonomian global tidak lagi melaksanakan aturan bersama. Lembaga multilateral tidak berdaya, dan aturan perdagangan global tidak dipatuhi. Supremasi negara kuat dan tertindasnya negara kecil muncul. Perdagangan global sudah mirip aliran merkantilis.

Arus finansial global juga sudah berubah. Pergeseran menuju aset aman seperti emas, bitcoin, dan kripto terjadi akibat ketidakpastian geopolitik. Emas menjadi primadona lindung nilai terhadap inflasi, sedangkan kripto dan bitcoin menawarkan pertumbuhan agresif tanpa basis transaksi yang jelas.

Ekonomi dunia kembali seperti yang pernah terjadi pada masa sebelum masehi. Thucydides, sejarawan dan jenderal Yunani kuno, menyoroti bahwa kekuatan hegemoni akan memicu perang jika posisinya terancam oleh negara berkembang. Krisis ekonomi 1998, 2008, dan pandemi 2020 mengajarkan kita untuk menjalankan pemulihan ekonomi di tengah kesulitan. Strategi ekonomi mengatasi krisis pada tahun-tahun tersebut pada hakekatnya adalah buntut dari perang ekonomi.

Perang ekonomi tahun 2026 lebih kompleks. Indonesia harus mampu menyesuaikan strategi ekonomi kemandirian dalam situasi perang supremasi dan tetap bertahan tanpa bantuan negara lain.

Indonesia menghadapi tantangan besar, namun juga memiliki peluang. Dengan memanfaatkan cadangan sumber daya alam, memperkuat industri hilirisasi, dan menjaga stabilitas sosial, negara ini dapat menavigasi periode ketidakpastian ini. Keberhasilan akan bergantung pada kebijakan fiskal yang bijaksana, investasi strategis, dan solidaritas sosial yang kuat.

Perang Iran-IsraelGeopolitik energiSelat HormuzLitiumNikelAPBN IndonesiaHilirisasi industri

Komentar

Memuat komentar...