Perang Timur Tengah Tekan Harga Energi, UMKM Terpuruk

Hendra M. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 130 dibaca
Bisik.id
Perang Timur Tengah Tekan Harga Energi, UMKM Terpuruk

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Perang di Timur Tengah tidak sekadar pertarungan militer di wilayah Teluk. Dampaknya menular ke seluruh dunia, memaksa negara‑negara membuat kebijakan penghematan energi dan menekan usaha kecil.

Harga energi melonjak, dan gangguan rantai pasok global membuat banyak negara terpaksa memilih antara membayar lebih atau mengurangi konsumsi. Pada 23 Maret 2026, Reuters melaporkan bahwa kebijakan penghematan mulai tersebar. Thailand, misalnya, memerintahkan pegawai negeri bekerja dari rumah, menunda perjalanan dinas ke luar negeri, dan mendorong penggunaan tangga daripada lift. Bangladesh menutup kampus sebagai upaya menghemat listrik, sementara Sri Lanka memberlakukan penjatahan bahan bakar.

Di beberapa negara, langkah penghematan menjadi lebih ekstrem: pemangkasan penggunaan listrik industri, pembatasan transportasi, dan pelarangan ekspor bahan bakar untuk menjaga pasokan dalam negeri. Semua upaya tersebut bertujuan menahan tekanan ekonomi akibat lonjakan harga energi global.

“Anda tidak akan bisa mengatasi ini hanya dengan upaya penghematan. Yang akan terjadi adalah kenaikan harga yang cukup tinggi sehingga orang‑orang berhenti mengonsumsi,” kata kepala investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering.

Tak hanya energi, gangguan perdagangan pupuk juga membuat harga melonjak 30‑40 %. Jika situasi berlanjut, produksi pertanian global berpotensi turun dan memicu krisis pangan baru.

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga terjebak. Ketidakpastian global menaikkan biaya bahan baku, mengganggu distribusi, dan melemahkan daya beli masyarakat. UMKM berada di posisi sulit: menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan, sementara mempertahankan harga dapat merusak margin keuntungan. Pelemahan ekonomi global juga menekan permintaan ekspor, dan fluktuasi nilai tukar meningkatkan biaya produksi bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor.

Gangguan energi memicu efek berantai pada rantai pasok global. Distribusi logistik, pengiriman bahan baku, hingga pasokan komoditas strategis seperti helium dan obat‑obatan ikut terdampak. Jika konflik berlanjut, tekanan ini dapat berujung pada kenaikan harga barang konsumsi di berbagai negara.

Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas, biasanya mengalirkan sekitar 20 % pasokan global. Serangan terhadap fasilitas energi memperburuk situasi, membuat harga energi melonjak tajam dan memaksa banyak negara mengambil langkah darurat.

Secara keseluruhan, dampak perang di Timur Tengah tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung. Masyarakat di belahan dunia lain juga harus menyesuaikan pola konsumsi mereka, menghadapi harga lebih tinggi dan ketidakpastian pasokan.

Perang Timur Tengahkebijakan penghematan energiharga energirantai pasok globalUMKMkrisis panganSelat Hormuzinflasi

Komentar

Memuat komentar...