Perempuan Bali Sembara Batu Sikat, Pendapatan Tradisional

Bambang W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Perempuan Bali Sembara Batu Sikat, Pendapatan Tradisional

Gambar atau konten salah?

Di Pantai Watu Klotok, Desa Tojan, Klungkung, Bali, karung‑karung berisi batu sikat tersusun rapi. Di tengah tumpukan batu, beberapa perempuan sibuk memilah batu hitam dari kerikil laut.

Perempuan yang paling sering terlihat memilah batu sikat itu bernama Ketut Menuh. Ia berasal dari Banjarangkan, Klungkung, dan sudah dua tahun bekerja di sana. Setiap hari, Menuh datang pukul 9 pagi dan pulang sekitar 5 sore.

Menuh menaruh batu‑batu hitam ke dalam wadah dari daun lontar. Upahnya dihitung per rontong atau ember kecil. Batu sikat berukuran besar diberi Rp 10 ribu per rontong, sedangkan ukuran lebih kecil Rp 5 ribu per rontong. "Kalau batu sikat yang kecil, pemilahannya lama. Ini saja sudah satu jam, belum dapat satu rontong. Lama untuk mendapatkan Rp 10 ribu," ujar Menuh, yang pernah bekerja sebagai buruh tani.

Ia membutuhkan satu setengah sampai dua jam untuk mendapatkan satu rontong batu sikat pilihan. Karena sudah terbiasa, ia menganggap waktu itu tidak terlalu lama. Pekerjaan memilah batu juga terasa ringan bagi tubuhnya yang semakin menua. "Kalau tengah siang nanti panas, biasanya saya istirahat dulu," tambahnya.

Dalam sehari, Menuh bisa menghasilkan Rp 50 ribu. Menurutnya, harga jual batu sikat adalah Rp 65 ribu per goni, setara dengan tiga rontong.

Menuh bukan satu-satunya yang terlibat. Ada juga Nyoman Masti (52) dan Wayan Suparni (55). Sambil mengeringkan batu, Masti mengungkapkan penjualan menurun dalam setahun terakhir. "Nggak setiap hari ada yang beli. Kalau ada, paling beli dua tiga karung. Lihat saja banyak tumpukan karung di sini," katanya. Sebagai buruh, ia menyerahkan semua batu kepada pengepul. "Upah per ember Rp 15 ribu. Kalau harga jual, itu diurus sama bos," jelasnya.

Di wilayah pesisir ini, pekerjaan memilah batu sikat tetap menjadi sumber pendapatan bagi para perempuan. Pekerjaan ini menegaskan ketahanan ekonomi masyarakat lokal yang masih bergantung pada mata pencaharian tradisional. 24 April 2026.

batu sikatketut menuhupah per rontongpenjualan turunketahanan ekonomimata pencaharian tradisionaldesa tojan

Komentar

Memuat komentar...