Pertanian: Tambah Menu Telur MBG Atasi Harga Turun
Gambar atau konten salah?
Kementerian Pertanian mengajukan permintaan agar menu telur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditambah. Langkah ini diambil karena harga telur di tingkat peternak turun drastis.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, mengaku telah mengadakan rapat dengan berbagai pihak. Pihak yang terlibat mencakup asosiasi dan koperasi peternak ayam telur, Badan Pangan Nasional (Bapanas), serta Badan Gizi Nasional (BGN). Tujuannya adalah mencari solusi atas penurunan harga telur di tingkat peternak.
Hingga saat ini, harga telur di tingkat peternak mencapai Rp 22.500 per kilogram. Sementara itu, harga acuan pembelian (HAP) di tingkat produsen/peternak berada di Rp 26.500 per kilogram. Perbedaan ini menimbulkan ketidakpastian bagi para peternak.
Di sisi lain, data menunjukkan stok telur nasional masih berlebih sekitar 13 % dari total kebutuhan nasional. Untuk menyeimbangkan, Agung meminta penambahan porsi telur dalam menu MBG. Ia menegaskan, “Kita tentu mendorong agar program makan bergizi gratis juga bisa meningkatkan menu telur per minggunya. Juga kita meminta agar harga beli telur ini juga mengikuti harga yang ditetapkan oleh Peraturan Bapanas.”
Rapat tersebut berlangsung di kantor Kementerian Pertanian di Jakarta Selatan pada 12 Mei 2026. Selain itu, pihaknya berencana mendistribusikan telur dari daerah surplus ke daerah defisit sebagai upaya tambahan. Agung menjelaskan kondisi harga telur di Jawa yang menurun, sementara di Papua dan Maluku masih tinggi. Ia menambahkan, “Kita masih punya Pulau Papua yang masih di bawah 0,4 % produksinya, Maluku juga sama. Oleh karena itu salah satu upaya kita untuk stabilisasi harga ini adalah bagaimana memfasilitasi distribusi dari daerah produsen ke daerah yang masih defisit atau daerah surplus ke daerah defisit.”
Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Herry Dermawan, menyatakan bahwa penurunan harga telur di tingkat peternak tidak terlepas dari peran middleman atau tengkulak. Ia berkata, “Jadi harga ini, harga yang sekarang ini bukan harga asli. Ada middleman. Bisa dari peternak butuh duit dijual semurahnya. Jadi memang harga telur, juga ayam itu sangat sensitif terhadap isu.”
Herry menegaskan perlunya bantuan pemerintah untuk menindak para middleman yang mempermainkan harga. Ia mencontohkan situasi, “Kita juga minta bantuan Satgas Pangan supaya nggak mempermainkan harga. Ini harga nggak wajar. Kalian tau tadi harga berapa dibilang? Rp21.000, kalian beli telur berapa? Rp29.000‑Rp30.000 per kg, siapa yang menikmati Rp8.000 itu? Itu yang saya bilang, harga sekarang ini bukan harga asli.”
Situasi tersebut membuat peternak merugi. Biaya produksi telur berkisar Rp 24.000 per kilogram, sementara harga jual turun di bawah titik impas. Herry menambahkan, “Biaya produksi sekarang Rp24.000. (Rugi ya?) Lah he‑eh (iya), makanya saya sampai ke sini kita.”
Dengan menambah menu telur di MBG dan menyesuaikan harga beli telur sesuai regulasi, Kementerian Pertanian berharap dapat menstabilkan pendapatan peternak. Distribusi dari daerah surplus ke daerah defisit juga diharapkan dapat menurunkan ketimpangan harga di seluruh wilayah. Sementara itu, upaya menindak para middleman diharapkan dapat mengembalikan harga telur ke nilai yang lebih adil bagi peternak dan konsumen.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
