Pesulap Merah, Keraton Gunung Kawi Tanpa Pesugihan

Sigit W. · 3 min baca · 12 hari lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Pesulap Merah, Keraton Gunung Kawi Tanpa Pesugihan

Gambar atau konten salah?

Keraton Gunung Kawi di Malang menjadi sorotan setelah Pesulap Merah Marcel Radhival datang untuk menjawab pertanyaan netizen tentang dugaan pesugihan di tempat sakral tersebut.

Melalui akun media sosialnya, Marcel menyatakan bahwa kunjungannya bertujuan memuaskan rasa penasaran publik. Ia langsung menghubungi juru kunci setempat, Jono, untuk mendapatkan informasi secara langsung melalui wawancara.

Jono, yang mengelola kompleks Keraton Gunung Kawi, menjelaskan bahwa pusat kawasan ini adalah makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati. Kedua tokoh ini berasal dari Kerajaan Kediri kuno dan dikenal tinggal di sana untuk bertapa serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta hingga akhir hayatnya.

“Masyarakat datang ke sini murni untuk berziarah dan bertawasul kepada leluhur, sama seperti makam-makam keramat pada umumnya. Anggapan bahwa tempat ini sebagai lokasi mencari pesugihan atau kekayaan instan itu tidak benar,” ujar Jono.

Setelah melewati pintu gapura, pengunjung menemukan tiga makam yang dipercaya sebagai pengawal setia bagi Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati. Makam-makam tersebut adalah Eyang Hamid, Eyang Broto, dan Eyang Joyo. Di ujung anak tangga, bangunan utama Keraton Gunung Kawi berdiri megah.

Di sisi timur bangunan, pohon Dewandaru tumbuh tinggi, dipercaya sebagai pohon keberuntungan. Sementara di sisi barat, terdapat bangunan tempat ibadah bagi umat beragama Konghucu. Makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati berada di sisi utara, tepat di ujung bawah anak tangga menuju tempat pertapaan.

“Sampai kemudian wafat, masyarakat tetap berkunjung ke sini untuk berziarah. Hanya itu tujuannya, bukan ada hal lain (pesugihan),” beber Jono.

Jono menambahkan bahwa orang yang ingin usahanya sukses biasanya berdoa di makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati. “Jadi bukan pesugihan. Biasanya orang berdoa meminta kelancaran dan kesuksesan di sini sebagai perantaranya,” paparnya.

Begitu pengunjung memasuki gerbang Keraton Gunung Kawi, udara sejuk khas lereng pegunungan langsung menyambut. Pohon-pohon besar yang dibalut kain bermotif kotak-kotak hitam-putih (kain poleng) menambah kesan sakral dan magis. Aroma dupa dan sesajen di beberapa sudut bangunan seringkali membuat pengunjung merinding, bulu kuduk berdiri.

Meski demikian, pihak pengelola menegaskan bahwa aura mistis tersebut bukan pertanda adanya praktik sekte gelap atau pesugihan hitam. “Doa dengan niat ikhlas dari hati dan kemudian terkabul. Semua kembali ke pribadi masing-masing, ketika terkabul peziarah kembali untuk menyatakan syukur dan mengirim doa kepada leluhur,” tuturnya.

Para peziarah yang telah merasakan keberhasilan dalam karir atau usaha biasanya kembali sebagai bentuk syukur. Mereka tidak hanya menggelar selametan, melainkan memberikan donasi untuk biaya pembangunan kompleks keraton, bukan tumbal pesugihan. “Di sini bangunan sampai ada Wi‑Fi dari donasi peziarah. Banyak baik dari Malang sampai luar Jawa,” kata pengelola.

Keraton Gunung Kawi terletak di atas lahan milik Perhutani yang dikelola oleh masyarakat desa setempat. Sekitar 20 warga terlibat sebagai pemandu sekaligus penjaga dan merawat komplek keraton. Tempat ini terbuka untuk umum, dengan tiket masuk Rp 12 ribu dan biaya parkir kendaraan. Pengunjung dapat menikmati ketenangan batin, keindahan alam, sekaligus belajar tentang sejarah dan budaya yang ada.

Lokasi Keraton Gunung Kawi berada di Dusun Gendoga, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Malang. Dengan kombinasi sejarah, kepercayaan leluhur, dan fasilitas modern seperti Wi‑Fi, tempat ini menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat dipertahankan sambil tetap relevan bagi generasi muda.

Keberadaan Jono sebagai juru kunci menegaskan bahwa Keraton Gunung Kawi lebih dari sekadar tempat berziarah. Ia menjadi ruang bagi masyarakat untuk berdoa, menghormati leluhur, dan berkontribusi pada pelestarian budaya. Pesulap Merah, dengan kehadirannya, hanya menambah narasi tentang bagaimana tempat ini tetap menjadi pusat spiritualitas, bukan tempat praktik pesugihan.

Keraton Gunung KawiPesulap MerahPesugihanMakna spiritualKonghucuWi‑FiPerhutaniJono

Komentar

Memuat komentar...