Pindah ke Vietnam/Kamboja, Biaya Tenaga Kerja Tinggi
Gambar atau konten salah?
Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Ketenagakerjaan, Subchan Gatot, mengungkapkan alasan utama di balik pergeseran perusahaan Indonesia ke negara tetangga seperti Vietnam dan Kamboja. Pada Rapat Panja RUU Ketenagakerjaan bersama Komisi IX DPR RI, ia menyoroti tingginya biaya tenaga kerja di Indonesia.
“Jadi poin ini yang akan kita coba angkat bagaimana terjadi relokasi industri dari Indonesia ke Vietnam dan juga Kamboja. Jadi unit labor cost-nya Indonesia memang jauh lebih berat dan menjadi salah satu faktor relokasi manufaktur ke Vietnam dan juga Kamboja,” ujarnya pada Selasa, 14 Juni 2026.
Gatot menjelaskan bahwa Indonesia menjadi satu-satunya negara dalam perbandingan tersebut yang memiliki upah minimum lebih tinggi dibandingkan rata-rata upah riil di lapangan. Upah minimum di Indonesia mencapai sekitar US$ 333 atau setara Rp 5,7 juta per bulan, sementara rata‑rata kemampuan sektor industri untuk membayar upah hanya sekitar US$ 188 per bulan.
“Jadi Indonesia ini upah minimumnya memang sebagian besar tidak bisa diabsorb oleh perusahaan padat karya,” tambahnya.
Selain itu, Gatot menyoroti beban pesangon di Indonesia. Di sana, kewajiban pesangon rata‑rata mencapai satu bulan gaji untuk setiap tahun masa kerja. Sedangkan di Vietnam dan Kamboja, pesangon hanya setengah bulan gaji, dan di Kamboja setara 15 hari gaji.
“Sedangkan di Vietnam dan juga Kamboja itu 0,5 bulan gaji dan di Kamboja 15 hari gaji. Jadi memang pesangon kita masih cukup tinggi sehingga memang beban yang dipikul oleh pengusaha di Indonesia kalau kita melihat perbandingan ini wajar kalau memang sebagian itu melakukan ekspansi keluar,” jelas Gatot.
Meskipun produktivitas tenaga kerja Indonesia tumbuh sekitar 3,75 % per tahun, Gatot menilai kenaikan ini belum cukup mengimbangi peningkatan biaya tenaga kerja dan tuntutan daya saing global. Ia juga menegaskan bahwa tantangan kualitas tenaga kerja semakin besar, dengan sekitar 47 juta pekerja yang membutuhkan reskilling.
Gatot menegaskan perlunya upaya peningkatan keterampilan agar tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar global. Dengan biaya tenaga kerja yang tinggi dan beban pesangon yang signifikan, banyak perusahaan mencari alternatif di negara dengan struktur biaya lebih rendah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rupiah Jatuh ke 14.000 per SGD, Pasar Saham Turun 5,2%
IHSG Menurun ke Zona Merah, Turun 1,46% ke 5.854 di Bursa
KAI-INKA Merger Selesai Tahun Ini, Menjadi Holding Subholding
Trump Menandatangani Perintah Pemutusan Pegawai Tinggi
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Berita Terbaru
Riquelme Tantang Perez: Janji Haaland & Beban Anggota
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
