Pintu Air Belanda di Kedungcangkrin Masih Pakai, Terabaikan
Gambar atau konten salah?
Di wilayah Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, masih tersisa beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda yang menambah warna sejarah daerah. Salah satu contoh paling menarik adalah rumah pompa air dan pintu air yang terletak di Desa Kedungcangkrin, Kecamatan Jabon.
Bangunan ini diperkirakan dibangun pada 1920, seperti yang tertulis di dinding atas rumah pompa. Tahun tersebut menjadi saksi bisu dari sistem irigasi yang dikelola pada masa Hindia Belanda. Meski sudah lebih dari satu abad, arsitektur kolonialnya masih terlihat jelas: pintu dan jendela berukuran besar, serta teralis besi yang menambah nuansa klasik.
Namun, kondisi bangunan kini memprihatinkan. Pintu air terlihat berkarat, sementara rumah pompa di sekitarnya tampak tidak terawat. Meski demikian, ornamen kolonial masih terjaga, memberi kesan bahwa bangunan ini pernah menjadi bagian penting dalam pengelolaan air di wilayah tersebut.
Dr. Sudi Harjanto, seorang pegiat sejarah dan budaya Sidoarjo, menjelaskan bahwa bangunan ini dulunya memiliki peran penting dalam menunjang sektor perkebunan, khususnya tebu. “Sejarah mencatat, Belanda memanfaatkan aliran Sungai Porong untuk mengairi area perkebunan tebu di Sidoarjo dan sekitarnya. Bahkan, mereka membuat kanal dan pintu air untuk memastikan pasokan air tetap stabil,” kata Sudi melalui telepon selulernya pada 24 April 2026.
Menurut Sudi, sistem pintu air di Kedungcangkrin merupakan bagian dari jaringan irigasi besar yang menopang industri gula pada masa lalu. Tak heran, Sidoarjo pernah menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pabrik gula terbanyak. Di lokasi tersebut, masih terlihat sembilan tuas pintu air yang meski berkarat, tetap berdiri utuh. Di sisi timur pintu air, terdapat bangunan rumah pompa dengan ornamen khas kolonial yang relatif masih terjaga, termasuk struktur dinding dan jendela.
“Kawasan Kedungcangkrin juga pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan karena letaknya yang strategis di dekat Sungai Porong, yang dahulu berfungsi sebagai jalur transportasi utama,” tambah Sudi. Rumah pompa air Kedungcangkrin berdiri sejak 1920 dan dulunya memuat mesin besar yang oleh warga disebut roda gila. Namun kini mesin tersebut sudah tidak berfungsi.
Ia menjelaskan bahwa konstruksi bangunan juga menggunakan teknik khas masa itu, seperti rangka atap berbahan besi dengan sistem tertentu, meskipun sebagian atap kini telah runtuh dan dimakan usia. Tak jauh dari lokasi, terdapat pintu air tersier yang diduga berfungsi untuk mengatur volume air serta mengendalikan banjir. Meski telah berusia lebih dari satu abad, struktur bangunan masih berdiri kokoh.
Sudi juga mengungkapkan bahwa jalur aliran Sungai Porong yang ada saat ini merupakan hasil rekayasa pemerintah kolonial Belanda. Seiring waktu, beberapa aliran sungai tidak lagi difungsikan. “Dari situ kemudian muncul istilah ‘kali mati’, karena aliran airnya sudah tidak aktif atau sengaja ditutup,” jelasnya.
Bangunan bersejarah ini berada tidak jauh dari kawasan terdampak lumpur Lapindo. Meski menyimpan nilai sejarah tinggi, hingga kini belum ada upaya perawatan serius untuk menjaga kelestariannya.
Sunyono (67), salah satu warga Dusun Pajarakan, Desa Kedungcangkrin, Kecamatan Jabon, mengaku bahwa peninggalan era kolonial Belanda berupa pintu air di Kecamatan Jabon, Sidoarjo, hingga kini masih menyisakan cerita sejarah. Meski usianya sudah tua, bangunan tersebut ternyata masih difungsikan untuk kebutuhan pengairan.
“Menurut cerita orang-orang dulu, ini pintu air dari Sungai Porong yang dibangun zaman Belanda,” kata Sunyono saat ditemui di lokasi. Ia menjelaskan, hingga saat ini pintu air tersebut masih berfungsi, terutama untuk mengalirkan air ke area persawahan. Namun, kondisi bangunan dinilai kurang terawat. “Masih dipakai sampai sekarang, tapi perawatannya kurang maksimal. Bahkan beberapa peralatan di dalam rumah pintu air sudah ada yang hilang,” ujarnya.
Sunyono juga mengungkapkan, kawasan di selatan Sungai Porong pada masa lalu dikenal sebagai salah satu penyangga perekonomian di era kolonial. Hal itu, menurutnya, masih bisa dilihat dari keberadaan Pasar Gempol yang dulu cukup ramai. “Dulu wilayah sini termasuk penyangga ekonomi, salah satunya ya Pasar Gempol. Sekarang masih ada, tapi tidak seramai dulu,” tambahnya.
Meski demikian, keberadaan kanal dan pintu air tersebut masih memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Saat musim kemarau, aliran air dari kanal tersebut digunakan untuk mengairi lahan pertanian di sejumlah desa. “Kalau kemarau, airnya masih dipakai untuk sawah di Kupang, Panggreh, Dukosari dan sekitarnya,” pungkasnya.
Bangunan ini menjadi contoh nyata bagaimana infrastruktur kolonial masih berdampak pada kehidupan masyarakat modern. Meskipun kondisi fisiknya menurun, fungsi dasar pengairan tetap berjalan, mengingat pentingnya irigasi bagi pertanian di daerah ini. Konservasi dan perawatan yang lebih serius akan menjaga warisan ini agar tidak hilang bersama zaman, sekaligus melestarikan sejarah irigasi yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi Sidoarjo pada masa penjajahan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mihailo Perovic Tinggalkan Persebaya, Tak Lagi Pakai Seragam
Surabaya Pasang Pot Bunga di TPS Liar, Coba Hindari Sampah
Slamet Santoso Resmi Bergabung Sokol Pyrzyce, Klub Polandia
Delapan Kabupaten Jatim Siaga Darurat Kekeringan Surabaya
Persebaya Surabaya Resmi Berpisah dengan Mihailo Perovic
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
Berita Terbaru
TPA Sarimukti Hampir Penuh, Bandung Tunggulah Status Darurat
Mihailo Perovic Tinggalkan Persebaya, Tak Lagi Pakai Seragam
Raphinha: Brasil kuat menyerang, butuh pertahanan Piala Dunia
SPMB 2026 Jambi: Mulai 8 Juni, Jalur Afirmasi & Mutasi
Mandian Air Hangat vs Air Dingin: Manfaat bagi Tubuh
Kebakaran Rumah di Musim Kemarau, Asuransi Zurich Lindungi
Trans7 Mengajar Cipasung: Pelatihan Konten Digital Mahasiswa
