Polisi Terapkan One-Way Tol Salatiga‑Semarang Ringankan Macet

Nita W. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 40 dibaca
Bisik.id
Polisi Terapkan One-Way Tol Salatiga‑Semarang Ringankan Macet

Gambar atau konten salah?

Arus lalu lintas di Tol Salatiga hingga Kota Semarang menjadi sangat padat. Untuk mengurai kemacetan, polisi memutuskan menerapkan one way lokal pada jalur B. Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Artanto menginformasikan bahwa satu arah jalan akan diberlakukan dari KM 460 Tol Salatiga hingga KM 414 Tol Kalikangkung.

“Info, saat ini untuk KM 460 Salatiga sampai KM 414 GT Kalikangkung sedang dilakukan one way lokal untuk mengurai kemacetan yang ada di jalur B,” kata Artanto melalui pesan singkat, Selasa (24 Maret 2026). Ia menambahkan bahwa satu arah tersebut akan diberlakukan secara situasional sampai arus kembali normal.

Menurut Artanto, kemacetan disebabkan oleh banyaknya kendaraan pemudik yang hendak masuk ke rest area di KM 456 B Tol Salatiga. “One way sudah diberlakukan pada pukul 17.30 WIB sampai dengan arus normal kembali. Per jam akan dilakukan analisis dan evaluasi (anev) selalu oleh Posko Terpadu Ditlantas,” terangnya.

Pengendara yang mengalami kemacetan juga mengungkapkan pengalaman mereka. Salah satu pemudik asal Boyolali, Nunik (38), mengaku sempat merasakan macet saat melintas di Tol Salatiga. Ia bahkan mengalami macet hingga berjam-jam.

“Aku tadi habis lewat tol. Dari gerbang tol Salatiga sampai Bawen 2 jam, mau lanjut pulang Semarang lewat Tol Ungaran nggak berani. Macetnya nggilani banget, sampai sesak dada ini,” ujarnya. Nunik memutuskan untuk keluar Tol Bawen dengan harapan terhindar dari macet di dalam tol, namun kemacetan tetap terjadi di luar jalan tol.

“Akhirnya kuputuskan lewat luar. Sampai luar Tol Bawen, ternyata sama saja macetnya dari lampu merah Bawen sampai Ungaran macet juga, baru agak mendingan setelah melewati Pudakpayung,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Ini alhamdulillah baru saja sampai rumah. Biasanya kalau aku pulang desa, Semarang-Boyolali sekitar 3 jam. Ini tadi 7 jam.”

Di sisi lain, seorang pengendara motor menilai kepadatan lebih berhubungan dengan antrean lampu merah. Ilma (28) yang tengah melintas dari Kecamatan Ngaliyan menuju Meteseh melihat antrean panjang di setiap lampu lalu lintas.

“Sebenarnya nggak begitu macet, lebih ke antrean lampu merah yang sangat panjang. Jadi memang kepadatan lalu lintasnya ada di lampu merah-lampu merah,” kata Ilma. Ia juga menjelaskan, “Jadi kalau lampu merah memang antreannya panjang banget. Biasanya nggak sepanjang itu, contohnya tadi waktu di lampu merah Kalibanteng, ada kali saya kena lampu merah 3 kali.”

Ilma melanjutkan, “Biasanya kalau motor kan bisa nyelip-nyelip, itu agak padat jadi kayak ya sudah ikut berhenti. Terus di dekat RSUP Dr Kariadi aku juga kena lampu merah dua kali karena saking padatnya.” Ia menilai antrean mobil sangat panjang sehingga motor pun tidak bisa menyalip kendaraan. Arus kendaraan mulai lancar saat ia sudah sampai wilayah Kedungmundu dan seterusnya.

Durasi perjalanan biasanya 45 menit, namun pada hari itu ia mengalami lebih dari satu jam. “Durasi waktunya biasanya kalau aku Ngaliyan-Rowosari itu 45 menit, tadi yang nggak ngebut-ngebut banget ada 1 jam lebih,” ucapnya. Ia menduga kemacetan disebabkan oleh arus balik yang menumpuk kendaraan dari Kota Semarang menuju Jakarta.

“Mungkin macetnya karena arus balik kali ya, dan juga jalan tol yang menerapkan one way, akhirnya mobil-mobil dan kendaraan besar kayak bus gitu masuk kota pada lewat arteri,” tuturnya.

Pengelolaan lalu lintas di wilayah ini menunjukkan bahwa satu arah lokal dapat membantu mengurangi kepadatan, namun masih ada tantangan di persimpangan lampu merah dan arus balik. Penilaian harian oleh Posko Terpadu Ditlantas menjadi kunci untuk menyesuaikan kebijakan satu arah agar arus kembali normal secara cepat.

Tol Salatigaone way lokalkemacetanlampu meraharus balikPosko Terpadu DitlantasKota Semarang

Komentar

Memuat komentar...