Prabowo Tegaskan Telur Utuh, Dr. Dion: Dadarnya Aman

Hari W. · 2 min baca · 1 jam lalu · 25 dibaca
Bisik.id
Prabowo Tegaskan Telur Utuh, Dr. Dion: Dadarnya Aman

Gambar atau konten salah?

Di acara Building Indonesia's Future Generation Through Nutrition yang digelar pada 03 Juni 2024 di Sentul International Convention Center (SICC), Presiden Prabowo Subianto mengangkat topik menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa telur dadar, yang biasanya dicampur tepung, tidak boleh menjadi bagian dari menu tersebut.

Dalam pidatonya, Prabowo menyatakan, “Telur jangan dibikin dadar. Kalau telur dadar nanti dicampur macem-macem itu. Iya kan. Tepungnya lebih banyak dari telurnya,” lalu menambahkan, “Jadi telur itu harus utuh. Ceplok atau rebus. Betul ya.” Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas nutrisi dalam makanan yang disajikan kepada anak-anak.

Presiden meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen), kepala sekolah, dan guru untuk memastikan tidak ada lagi telur dadar atau telur orak-arik, seperti scrambled egg, yang masuk ke menu MBG. Ia berharap semua pihak dapat meyakinkan bahwa telur tetap utuh dan tidak diolah menjadi dadar.

Reaksi publik muncul setelah video singkat di Instagram pengguna @dionharyadi pada 30 Mei 2024 menyoroti potensi penurunan nutrisi, khususnya omega‑3, ketika telur dimasak menjadi dadar. Dr. Dion Haryadi, seorang dokter, menanggapi video tersebut dengan menegaskan bahwa omega‑3 memang sensitif terhadap suhu tinggi, namun penurangannya tidak terlalu signifikan.

Dr. Dion menjelaskan, “Ketika dibandingkan dalam kondisi mentah dan setelah digoreng orak‑arik, turun dikit omega‑3nya.” Ia mengutip sebuah studi berjudul Effect of Storage and Cooking on The Fatty Acid Profile of Omega‑3 Enriched Eggs and Pork Meat Marketed in Belgium, yang menemukan bahwa kandungan omega‑3 dalam telur turun sedikit saat dimasak orak‑arik, dari 15,3 % menjadi 14,6 %.

Uniknya, dalam studi tersebut dr. Dion juga menyebutkan bahwa telur direbus justru meningkatkan kandungan omega‑3 menjadi 16,9 %. Namun, jika direbus selama 15 menit, kandungan omega‑3 turun menjadi 13,7 %. Menurutnya, penurunan omega‑3 pada telur dadar atau orak‑arik memang terjadi, namun tidak terlalu drastis.

Dr. Dion menegaskan bahwa netizen mungkin bingung karena adanya hoax yang melarang konsumsi telur dadar. Ia menegaskan, “Hidup sehat itu udah susah. Jadi jangan tambah diribetkan dengan hal‑hal kecil yang sebenarnya tidak berpengaruh banyak seperti ini.” Ia menambahkan, “Telur dadar tetap boleh dimakan karena menjadi salah satu sumber protein yang enak, murah, fleksibel, dan menyehatkan.”

Ia juga menegaskan bahwa telur dadar tetap aman jika ditambahkan bahan sehat. “Kalau dicampur sama daun bawang, dikasih daging cincang, ya kalau orang dewasa cabe rawit sedikit ya gapapa.” Dr. Dion mengajak masyarakat tidak takut untuk menikmati telur dalam berbagai bentuk, termasuk dadar, rebus, atau orak‑arik.

Walaupun tidak ada data yang menyatakan bahwa telur dadar mengandung kalori berlebih, penambahan bahan seperti keju, minyak goreng, atau tepung dapat meningkatkan kalori dan lemak tidak sehat. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan pendampingan makanan. Memilih karbohidrat berkualitas, seperti roti gandum atau alpukat, dapat membantu memenuhi prinsip gizi seimbang.

Secara keseluruhan, pesan yang diangkat oleh Presiden dan dr. Dion menekankan bahwa telur tetap menjadi sumber protein yang penting dan tidak perlu dihindari. Penurunan omega‑3 saat dimasak memang ada, namun tidak signifikan. Dengan memasukkan bahan sehat, telur dadar dapat menjadi bagian dari diet seimbang tanpa menambah beban nutrisi yang tidak perlu.

Makan Bergizi Gratistelur dadaromega‑3Prabowo SubiantoDr. Dion Haryadinutrisimenu MBG

Komentar

Memuat komentar...