Pria Inggris Kesembuh Setelah Amputasi Penis Kanker

Jaka M. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 122 dibaca
Bisik.id
Pria Inggris Kesembuh Setelah Amputasi Penis Kanker

Gambar atau konten salah?

Di Inggris, seorang pria bernama Steven Hamill harus menjalani amputasi sebagian penisnya sepanjang 10 cm setelah gejala yang ia sebut “bau kematian” sempat diabaikan oleh dokter.

Awalnya, dokter memberinya resep krim steroid untuk mengatasi dugaan balanitis, yaitu pembengkakan pada kepala penis yang biasanya disebabkan oleh kebersihan buruk atau infeksi menular seksual. Namun, sebulan kemudian kondisi semakin memburuk.

“Saya menggambarkan bau ini sebagai ‘bau kematian’. Bau itu mengikuti saya ke mana‑mana dan sangat mengerikan, dan orang lain pun bisa menciumnya,” ucapnya, dikutip dari Unilad.

Steven berusia 26 tahun ketika ia menyadari kepala penisnya membengkak hingga empat kali ukuran normal. Ia segera memeriksakan kondisinya ke dokter. Meskipun dokter sempat menilai usianya terlalu muda untuk terkena kanker, akhirnya ia mengetahui bahwa gejala tersebut merupakan tanda kanker penis. Gejalanya meliputi pembengkakan, nyeri hebat, dan bau tidak normal.

Kondisinya semakin parah hingga ia pingsan di dalam mobil. Saudaranya menelpon ambulans dan ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Steven kemudian dirujuk ke unit spesialis di The Christie NHS Foundation Trust, Manchester, dan didiagnosis kanker penis pada 01 April 2019.

Untuk menyelamatkan nyawanya, ia harus menjalani amputasi penis yang awalnya sekitar 20 cm menjadi 10 cm. Ia mengaku proses adaptasi tidak mudah, terutama dalam kehidupan pribadi. “Saya merasa tidak percaya diri, terutama dalam hubungan intim,” ujarnya.

Setelah tujuh tahun sejak diagnosis, Steven dinyatakan sembuh. Ia bahkan menjadi seorang ayah. “Saya diberitahu bahwa saya tidak akan pernah memiliki anak karena operasi dilakukan pada uretra saya, dan sekarang saya memiliki seorang anak laki‑laki berusia empat tahun. Semuanya masih berfungsi dan saya masih bisa memiliki anak,” katanya.

Meski begitu, ia masih kerap merasakan ketidakpercayaan diri. “(Saya) berpikir ‘dia akan berpikir itu terlihat sangat aneh’. Saya selalu merasa tidak percaya diri,” tambahnya.

Berbekal pengalaman ini, Steven mengingatkan siapa pun agar tidak mengabaikan tanda‑tanda aneh pada tubuh. “Saran terbaik yang bisa saya berikan adalah jika ada sesuatu yang terasa tidak benar, jangan malu dan lihat apakah itu hilang dengan sendirinya,” pungkasnya.

Pengalaman ini menegaskan pentingnya memperhatikan perubahan tubuh, bahkan ketika gejala tampak tidak serius. Kesehatan harus diprioritaskan, dan tindakan cepat dapat membuat perbedaan antara penyembuhan dan konsekuensi yang lebih berat. Steven, yang kini hidup bahagia bersama anaknya, menjadi contoh bahwa kesadaran dan perawatan diri dapat membawa harapan baru bagi siapa pun yang menghadapi kondisi serupa.

Steven Hamillkanker penisamputasi penisbau kematianThe Christie NHS Foundation Trustbalanitisperawatan kesehatan

Komentar

Memuat komentar...