Pria Pakaian Minim di Kasepuhan Cisolok Memicu Kritik

Eko P. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 116 dibaca
Bisik.id
Pria Pakaian Minim di Kasepuhan Cisolok Memicu Kritik

Gambar atau konten salah?

Kasepuhan Gelar Alam di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, menjadi sorotan publik setelah muncul potongan video yang menampilkan seorang pria berpakaian minim di tengah prosesi adat. Video tersebut menunjukkan pria yang diduga bernama Mang Bono hanya mengenakan pakaian dalam saat menghampiri Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, pimpinan tertinggi Kasepuhan. Aksi ini langsung menuai kecaman warganet karena dianggap bertentangan dengan aturan adat yang menuntut pakaian sopan.

Insiden terjadi pada 10 April 2026, saat rangkaian acara khitanan putra kedua Abah Ugi berlangsung. Khitanan tersebut merupakan salah satu upacara penting dalam tradisi Kasepuhan, yang biasanya dihadiri oleh keluarga, tetangga, dan anggota komunitas. Pada hari itu, suasana di panggung dipenuhi dengan musik tradisional dan tarian adat, namun kehadiran Mang Bono menambah ketegangan di antara para tamu.

Yoyo Yogasmana, juru bicara Kasepuhan, mengaku terkejut ketika menonton video tersebut. Pada 12 April 2026, ia menyatakan, “Saya begitu lihat visual kan itu kejadiannya, tiba-tiba lihat visualnya aduh aya nu kieu (aduh ada yang begini). Dan itu saya nggak bisa ngomong, karena berhubungan dengan aransemennya apakah memang gayanya dia atau apa, nggak mengerti.” Yoyo menambahkan bahwa ia tidak mengetahui siapa yang mengundang atau membawa pria itu ke acara resmi.

Walaupun reaksi netizen cukup panas, Yoyo menjelaskan bahwa pihak Kasepuhan, Baris Kolot, maupun Abah Ugi sendiri tidak menganggap peristiwa ini sebagai pelanggaran norma yang radikal. “Disebutnya ya bahasa di sini, baik ataupun buruk juga adalah kehidupan. Apa yang sudah terjadi tidak perlu harus jadi sesuatu yang bagaimana, ya mudah-mudahan menjadi pembelajaran saja dari semuanya,” jelas Yoyo. Ia menekankan bahwa bagi masyarakat adat di sana, segala sesuatu dipandang secara filosofis, bukan hanya sekadar aturan.

Yoyo juga menyoroti kebebasan dan keterbukaan Kasepuhan terhadap siapa pun yang datang. Namun ia mengakui bahwa secara norma umum dan etika lingkungan, apa yang ditampilkan sangat disayangkan. “Bahasanya kan masalah pantas dan gak pantas. Lungguh jeung teu lungguh (pantas atau tidak pantas) bahasanya. Dari kacamata umum sudah 'aduh disayangkan kok ada yang begini',” ungkapnya.

Di era media sosial saat ini, Yoyo menyadari bahwa informasi dapat menyebar dengan cepat hingga ke pelosok pegunungan. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi para tamu untuk memahami tata titi duduga prayoga atau etika bersikap yang disesuaikan dengan lingkungan setempat. “Mudah-mudahan menjadi pembelajaran bagi siapapun untuk saling mengenal dengan baik tentang tata titi duduga prayoga yang disesuaikan dengan lingkungan. Hal kebaikan dan keburukan itu adalah zamannya, kembali ke setiap individunya untuk mampu menyesuaikan dengan kondisi,” pungkasnya.

Hingga kini, video tersebut masih menjadi topik hangat di media sosial. Netizen mendesak panitia acara agar lebih selektif dalam memilih hiburan, agar marwah Kasepuhan Gelar Alam tetap terjaga sebagai benteng tradisi.

Peristiwa ini menyoroti betapa pentingnya kesadaran budaya dan norma dalam acara adat. Meskipun Kasepuhan menegaskan sikap terbuka, kejadian ini mengingatkan bahwa setiap tindakan di ruang publik dapat menimbulkan reaksi luas. Kesadaran akan tata titi duduga prayoga tetap menjadi kunci dalam menjaga keharmonisan komunitas.

Kasepuhan Gelar AlamMang Bonovideo viralkecaman netizenkhitanantata titi duduga prayoganorma adat

Komentar

Memuat komentar...