Prihantini Presentasi di APCMS Meski Dugaan Riset Palsu

Nita W. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 109 dibaca
Bisik.id
Prihantini Presentasi di APCMS Meski Dugaan Riset Palsu

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Nama Prihantini yang baru saja mencuat karena dugaan riset palsu akan tampil di Asia-Pacific Cardiometabolic Syndrome Congress (APCMS) di Korea Selatan pada hari Sabtu, 30 Mei 2026. Ia akan mempresentasikan pada sesi Young Investigator Award Session di ruang 3, pukul 13.18-13.27 waktu setempat.

Dalam laman resmi APCMS, Prihantini menambahkan afiliasinya dengan IMCDS-BioMed Research Foundation, Indonesia dan akan membawakan judul: “Frailty, Orthostatic Systolic Nadir, and Silent Ischemia in Elders Integrating Gait Speed, Hemoglobin, NT-proBNP, High‑Sensitivity Troponin, ECG Strain Pattern, and Postural Heart Rate Recovery in Multi‑State Event Models.”

Di samping itu, Riana Dwi Kurniawati juga terdaftar sebagai pembicara. Ia berafiliasi dengan Temanggung Public Health Center dan akan mempresentasikan “Quantifying Diet and Physical Activity Environmental Determinants of Metabolic Burden: Cross‑National Causal Effects of Ultra‑Processed Food Exposure and Walkability Decline on CardioMetabolic Disability‑Adjusted Life Years.” Presentasinya dijadwalkan pada hari ini, 30 Mei 2026, pukul 9.33-9.40 di ruang 1.

APCMS adalah forum pertukaran akademik bagi para profesional dan peneliti di bidang kesehatan di wilayah Asia‑Pasifik. Forum ini diselenggarakan oleh Korean Society of Cardiometabolic Syndrome dan menjadi ajang bagi para peneliti muda untuk memamerkan karya mereka.

Kasus Prihantini pertama kali muncul ketika seorang mahasiswa Indonesia mengungkapkan dugaan riset palsu yang dipresentasikan melalui International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) di Copenhagen, Denmark, pada 17‑21 Mei 2026. Mahasiswa tersebut, Wa Ode Dwi Daningrat, yang sedang menempuh S3 di Oxford University, menelusuri kasus tersebut melalui akun Instagramnya.

Menurut Dwi, salah satu kejanggalan utama adalah klaim pengumpulan data primer di wilayah dataran tinggi Andes, Peru, tanpa adanya kolaborator atau mitra lokal. Dalam sebuah riset internasional, hal ini dianggap hampir mustahil dilakukan.

Identitas pemateri juga menjadi bahan perdebatan. Pada sesi ISPPD yang dijadwalkan dengan nama Riana Dwi Kurniawati dan judul “Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate‑Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities,” seorang perempuan tampil dan memperkenalkan diri menggunakan nama tersebut.

Namun, 10 menit kemudian pada sesi berbeda, perempuan itu berganti jilbab dan memperkenalkan diri dengan nama Dimas Fajar Prasetyo untuk penelitian berjudul “AI‑Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities.” Dwi mengatakan bahwa perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Dimas.

Setelah menelusuri lebih lanjut, Dwi menemukan bahwa pemateri sebenarnya bukan bernama Riana, melainkan Prihantini. Namun, Prihantini tidak terdaftar sebagai penulis di penelitian‑penelitian yang ia presentasikan.

Di forum tersebut, Prihantini mengirimkan sejumlah judul penelitian, antara lain:

  • Deep Reinforment Learning Guided Scheduling of Flagellin and Antibiotics For Precision Host‑Directed Therapy in Pneumococcal Pneumonia
  • Global Data Mining of Resistant Pneumococcal Sepsis Transcriptomes Identifies Conserved Stress Modules Linking Virulence, Metabolism, and Vulnerability Axes
  • Multiscale Mathematical Modeling of Influenza‑Pneumococcal Superinfection to Define Optimal Timing for Flagellin Host‑Directed Therapy
  • Deep Learning Integration of Innate Lymphoid Cell States, Lung Transcriptomic Programs, and Cross‑Vivarium Microbiota Predicts Interleukin‑22‑Dependent Disease Severity in Pneumococcal Pneumonia
  • Multi‑Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug‑Resistant Streptococcus Pneumoniae

Menurut laman ISPPD, keempat judul riset tersebut dikerjakan oleh Prihantini bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. Namun, tidak ada catatan bahwa Prihantini terdaftar sebagai penulis di publikasi‑publikasi tersebut.

Kasus ini menyoroti pentingnya transparansi dan verifikasi dalam publikasi ilmiah. Ketika nama dan afiliasi tidak konsisten, kepercayaan publik terhadap hasil penelitian dapat terpengaruh. Kejadian ini juga menegaskan perlunya mekanisme audit internal di lembaga penelitian untuk memastikan integritas data dan kredensial peneliti. Dengan demikian, para peneliti muda harus menjaga kredibilitasnya agar tidak menurunkan standar ilmiah di komunitas akademik.

PrihantiniAPCMSriset palsuISPPDdata primer Andesverifikasi publikasikredibilitas penelitiKorean Society of Cardiometabolic Syndrome

Komentar

Memuat komentar...