Produksi Energi Hijau di Indonesia Masih Mahal, Ini Penyebabnya
Gambar atau konten salah?
Wakil Menteri Investasi/BKPM, Todotua Pasaribu, mengungkapkan bahwa produksi energi hijau di Indonesia masih tergolong mahal. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh ketidakefisienan dalam rantai pasok di sektor energi hijau.
Dalam acara Sarasehan 100 Ekonom yang berlangsung di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada tanggal 28 Desember 2025, Todotua menyatakan, "Ketika kita beralih ke energi hijau, biaya produksinya masih tinggi. Ini karena rantai pasoknya belum efisien."
Untuk mengatasi permasalahan ini, Todotua menjelaskan bahwa pemerintah sedang menggenjot hilirisasi industri. Ia percaya bahwa dengan hilirisasi, kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari dalam negeri, termasuk untuk pembangkit listrik tenaga surya.
Dia menambahkan, "Kita perlu mengembangkan industri, atau hilirisasi solar panel di negara kita agar kompetitif. Dengan demikian, rantai pasok dapat berkontribusi terhadap penurunan harga energi hijau."
Pemerintah juga berupaya untuk mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam pengembangan hilirisasi. Namun, biaya tetap menjadi tantangan utama. "Semua ini kembali ke biaya. Ini tentang harga strategis yang akan dihasilkan," ungkapnya.
Produksi energi hijau dan pengembangan hilirisasi menjadi fokus pemerintah untuk menciptakan solusi yang lebih terjangkau dan efisien. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Indonesia dapat meningkatkan produksi energi hijau dan mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
