Prokrastinasi: Ancaman Kesehatan Mental Mahasiswa UB
Gambar atau konten salah?
Prokrastinasi, kebiasaan menunda‑tunda tugas, kini dianggap lebih dari sekadar masalah manajemen waktu. Menurut Dian Sudiono, seorang Peer Counselor di Universitas Brawijaya, menunda‑tunda dapat menimbulkan tekanan besar yang berujung pada gangguan kesehatan mental.
Ia menegaskan hal ini pada pelatihan Peer Counselor yang digelar di Lantai 8 Gedung Rektorat UB pada Sabtu, 11 April 2026. “Prokrastinasi adalah penundaan. Jika tugas selalu dikerjakan mendekati tenggat, tekanan yang muncul dapat memicu gangguan kesehatan mental,” ujarnya kepada wartawan pada Senin, 13 April 2026.
Selain prokrastinasi, Dian menyebutkan berbagai faktor kompleks yang membebani mental mahasiswa: beban akademik, burnout, persoalan keluarga, masalah adaptasi sosial, dan tekanan ekonomi. Ia menekankan bahwa kesehatan mental adalah fondasi utama dari emosi, pikiran, komunikasi, hingga ketahanan diri seseorang.
Dian menguraikan tiga aspek utama untuk mendeteksi kondisi mental seseorang:
- kemampuan membangun hubungan yang sehat
- produktivitas dalam beraktivitas
- kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar
“Jika tiga aspek ini terganggu, maka perlu diwaspadai sebagai indikasi awal dan dapat menjadi bahan eksplorasi dalam sesi konseling,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tanda‑tanda krusial kapan seseorang harus segera menghubungi profesional. Tanda‑tanda tersebut meliputi:
- keluhan yang menetap lebih dari dua minggu
- hilangnya minat pada hobi
- munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri
Jika masalah dirasa sudah terlalu berat untuk ditangani dalam lingkup pertemanan, Dian menyarankan mahasiswa segera memanfaatkan Layanan Konseling Mahasiswa (LKM) yang tersedia secara gratis di UB. UB sendiri telah membuka pelatihan layanan konselor kesehatan mental bagi mahasiswa.
Selama kegiatan tersebut, mahasiswa diajari cara mendeteksi tanda‑tanda awal krisis kesehatan mental, baik dari diri mereka sendiri maupun teman‑teman di lingkungan kampus. Salah satu peserta pelatihan, Cahyaningtiyas Putri Adventina, menyambut baik edukasi ini karena memberikan pemahaman baru mengenai cara merespons permasalahan mental di lingkungan kampus. Ia berharap kegiatan semacam ini terus dilakukan secara konsisten.
“Melalui kegiatan ini, kami belajar memahami kondisi seseorang dan bagaimana merespons mereka dengan tepat,” pungkasnya.
Dengan pelatihan seperti ini, mahasiswa diharapkan lebih sadar akan tanda‑tanda awal gangguan mental dan dapat mencari bantuan tepat waktu. Kegiatan ini menegaskan pentingnya dukungan psikologis di kampus, bukan hanya sebagai penanggulangan stres, tetapi juga sebagai bagian integral dari kesejahteraan akademik dan pribadi mahasiswa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
