Psikolog Eksternal Dibolehkan, Fokus Koordinasi Mental
Gambar atau konten salah?
Peran psikolog kembali menjadi sorotan setelah faktor nonteknis menjadi salah satu evaluasi Thomas Cup 2026. Waketum I PP PSBSI Taufik Hidayat menegaskan bahwa atlet dapat memakai psikolog dari luar asalkan dapat disinkronkan.
"Jujur kemarin saya katakan di dalam rapat pengurus itu dengan pelatih. Saya bilang, dulu di PBSI ada ya psikolog, ada nutrisi. Tapi psikolog itu kan cocok-cocokan juga," kara Taufik di Pelatnas PBSI, Jumat (8/5/2026).
Dalam pernyataannya, Taufik menekankan bahwa ada perbedaan pendekatan antara wewenang dan perspektif global. Setiap anak memiliki permasalahan yang berbeda, sehingga fleksibilitas dalam memilih psikolog, baik internal maupun eksternal, dianggap penting.
"Ada yang bicara wewenang, ada bicara untuk secara global. Tiap anak permasalahannya beda-beda. Nah di sini juga memang ada yang psikolognya di luar, seperti apa. Ya kita, kurang apa, kita bebasin kita nggak memaksa anak itu untuk tetap psikolog di dalam."
Ia menambahkan bahwa komunikasi yang baik antara psikolog internal dan eksternal dapat memudahkan koordinasi. Menurutnya, hasil akhir lebih penting daripada prosedur yang kaku.
"Karena itu percuma juga. Kita kasih psikolog kalau ditanya 'Aman?' 'Aman', ditanya apa 'Siap'. Nah keluar (kalah) juga. Jadi kita enggak ada masalah, yang penting ada hasilnya. Kita komunikasi, psikolognya siapa dengan psikolog yang ada di dalam juga kita bisa sinkron," lanjutnya.
Menjelang turnamen berikutnya, Taufik menekankan perlunya kerja tim untuk mengomunikasikan persoalan-persoalan yang muncul, mengingat atlet harus kembali mengikuti turnamen bulutangkis lainnya.
Setelah Thomas Cup, Indonesia akan melanjutkan tur Asia Tenggara, mulai dari Thailand Open, Malaysia Masters, Singapore Open, hingga Indonesia Open yang berlangsung sepanjang 12 Mei – 7 Juni 2026.
"Jangan sampai ada trauma dengan mereka masih kepikiran tentang Thomas Cup kekalahan kemarin itu. Dan ya besok hari minggu udah pergi ke Thailand lagi sebagian. Kayak Ginting, Ubed (Mohammad Zaki Ubaidillah) juga ada berangkat juga gitu loh."
Ia menambahkan bahwa setelah Thailand, ada Malaysia, lalu Singapura. Oleh karena itu, jadwal dan waktu harus dipertimbangkan dengan cermat.
"Nah, setelah itu ada Malaysia, ada Singapura. Jadi memang kita butuh timeline waktunya kapan nih. Jangan sampai nih anak berangkat ke Thailand ini dengan keadaan yang masih kepikiran di Thomas Cup. Jadi mau enggak mau pelatih di sini PR-nya berat juga, harus menghilangkan dalam waktu seminggu ini," kata Taufik.
Kesimpulannya, fokus pada dukungan psikologis menunjukkan bahwa kesiapan mental sama pentingnya dengan persiapan fisik bagi para pemain bulutangkis Indonesia yang akan menghadapi jadwal turnamen yang padat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Dua Wakil Indonesia Tersingkir di 16 Besar Japan Open
Setahun Berpartner, Fajar/Fikri Kembali ke Japan Open
Alwi Farhan Bangkit, Kalahkan Lanier di Japan Open
Lima Wakil Indonesia Bertanding di Japan Open 2026
Putri Kusuma Tak Khawatir Tanpa An Se Young
Fajar/Fikri Kalahkan Popov Bersaudara di Japan Open
